Walimah Bukan Pestafora
Oleh: Fahrizul Ikram
Pesta itu asyik, jika semua sistem telah berjalan
sebagaimana yang di inginkan. Pesta adalah tempat berkumpulnya keluarga maupun
teman dan rekan-rekan kita dalam satu acara. Dimana tempat lahirnya semua
ekpspresi yang melukiskan kebahagiaan semua orang. Ditambah lagi, tuntutan
zaman yang memaksa kita untuk berpesta jika berencana membuat sebuah acara. Tetap
saja kita tidak bisa menolak jika zaman yang meminta. Karena apa? Ya apa lagi
kalau bukan karena gengsi. Selain itu ada pula yang mencari keuntungan dari
sebuah pesta yang diselenggarakan. Seperti halnya dalam pesta pernikahan atau “weedding
party” bahasa kerennya. Jika kita telusuri lebih dalam, tidak sedikit
masyarakat kita yang menyelenggarakan pesta pernikahan, hanyalah untuk mencari
keuntungan materi saja. Sederhananya, mereka menginvestasikan uang mereka untuk
mempersiapkan bahan-bahan yang deperlukan untuk sebuah pesta. Hal yang paling
umum yang paling sering kita jumpai dalam pesta adalah makanan, dan hiburan. Ini
adalah hal-hal yang harus ada dalam sebuah pesta, karena dari situlah
penyelenggara akan mendapatkan keuntungan. Hidangan yang disajikan sangat
menarik perhatian tamu undangan untuk mnghadiri sebuah pesta tersebut. jika
dalam sebuah pesta tidak terdapat sesuatupun yang dapat untuk dimakan, maka
seorang tamu undangan akan berfikir seribu kali untuk datang memenuhi undangan
tersebut. kemudian hiburan, jika sebuah pesta tidak terdapat sebuah hiburan
didalamnya maka itu sangat mempengaruhi tamu undangan yang datang. Sebab tamu
undangan akan merasa terhibur dan dapat merasakan suasana yang ramai, sehingga
tidak membuatnya bosan. Pada umumnya hiburan yang sangat disenangi oleh tamu
undangan dewasa ini adalah Keyboard. Dimanapun dan kapanpun tetap saja Keyboard
yang paling populer. Sehingga dari kedua hal tersebut, kita dapat menyadari
bahwa, semakin banyak tamu maka semakin banyak amplopnya. Nah tentu saja ini
merupakan sebuah bisnis tahunan yang mengutungkan. Jika kita hitung dari
makanan yang telah disantap, anggap saja satu porsi harganya RP15.000, dan satu
amplop rata-ratanya Rp20.000-Rp25.000. Berapakah keuntungan yang diperoleh dari
seorang tamu Undangan? Iya, Rp5000-Rp10.000.
Dapat kita kalikan berapa banyak keuntungan yang
diperoleh jika tamu undangan mencapai 10.000 orang. Inilah realita kehidupan
pada akhir zaman. Sebenarnya, bukan seperti itu yang anjurkan Islam untuk umat
Muslim yang menyelenggarakan pesta pernikahan atau yang lazimnya disebut
Waliemah dari kebanyakan orang.
Waliemah adalah peralatan perkawinan yang disdiakan oleh
mempelai laki-laki setelah akad berlangsung dan mempelai laki-laki memasuki
kamar pengantin istri, dengan sekurang-kurangnya dengan menyembelih seekor
kambing jiaka sanggup. Dan Rasul juga telah melakukan hal yang demikian itu.
sebagai mana diberitakan oleh Annas r.a “Bahwa Nabi saw melaksanakan
Waliemahnya untuk Zainab dengan menyembeli seeekor kambing”.
Tetapi, diceritakan oleh Asma binti ‘umais, ia berkata: “aku
menjadi teman Aisyah ra. pada malam aku menyelenggarakannya untuk dimasukkan
kedalam rumah Rasul. Aisyah ditemani oleh beberpa perempuan lain. Demi Allah,
kami hanya mendapati disisi Rasulullah kala itu hanya segelas besar susu. Maka Nabi
kemukakan kepada Aisyah. Tetapi Aisyah malu menerimanya, sehingga dengan
ajakanku yang keras Aisyahpun menerimanya dengan malu dan meminumnya. Stelah itu
Nabi berkata “berilah kepada teman-temanmu yang lain.” Kemudian aku berkata “kami
tidak suka minum susu ya Rasulullah” (saya katakan itu karena melihat
sedikitnya susu itu) mendengar itu Rasulullah berkata “jangan kamu kumpulkan
Lapar dan Dusta”. Kemudian aku bertanya “apakah ya rasulullah jika kami
mengatakan tidak suka kepada sesuatunya yang sebenarnya kami suka dipandang
dusta?. Menjawab Nabi, “segala dusta itu dicatat, tak ada yang terluputi dari
catatannya”.
Dari beberpa hadis yang disebutkan diatas, diketahui
bahwa Waliemah itu dituntut atas suami dan dilaksanakan setelah Dukhul,
dengan cara yang sederhana. Dan difahamkan bahwa atas orang yang berada,
dituntut Waliemah itu sekurang-kurangnya seekor kambing. Tidak salah jika sesorang
yang memiliki kesanggupan membuat waliemah yang besar-besaran, mengundang
beribu-ribu orang. Tetapi apalah artinya semua itu jika hanya menambah dosa dan
mengurangi berkah Allah ‘aza wazalla. Tamu yang diundang juga merupakan
orang-orang yang besar, memiliki jabatan dan sebagainya. Barulah ia menyantap
makanan itu sesuka hatinya, jika ia sanggup maka habislah satu porsi, tetapi
jika tidak maka terbuanglah makanan itu dan menjadilah ia mubazir. Dari realita
yang terjadi, kita dapat melihat betapa banyak makanan yang terbuang pada
setiap melaksanakan suatu acara yang berlebihan seperti ini. orang yang terbiasa
makan enak, dan terbiasa hidup dalam kemewahan, tidak tersentuh hatinya melihat
makanan yang bertimbun di tempat cuci piring yang berada didapur pesta. Tetapi jika
orang yang terbiasa hidupnya susah, bahkan untuk mencari makan saja harus
mengemis dan merangkak mengaisi sampah, melihat itu semua mereka akan menangis.
Mereka begitu susah untuk mendapatkan sekepal nasi, tapi disini, pada pesta
yang begitu meriah ini, begitu mudahnya mereka membuang-buangnya.
Inilah kenyataan yang begitu nyata untuk kita lihat. Para
umat sekarang, mengaku dirinya pengemban sunnah, tetapi malah berlomba-lomba
dalam kemegahan dalam Waliemah. Maka, dengan demikian, mereka membuat dua
kesalahan. Yang pertama, memberat-beratkan diri, dan yang kedua ialah
mengerjakannya tidak sesuai dengan tuntutan agama, melainkan hanya mementingkan
untuk kesesuaian pada perkembangan zaman. Entah kesalahan yang kedua akibat
dari kesalahan yang pertama? Hanya saja kita perlu menyadari bahwa
kesalahan-kesalahan itu menimbulkan banyak kesalahan.