Daftar Blog Saya

Sabtu, 05 Januari 2013

opini



Walimah Bukan Pestafora
Oleh: Fahrizul Ikram

Pesta itu asyik, jika semua sistem telah berjalan sebagaimana yang di inginkan. Pesta adalah tempat berkumpulnya keluarga maupun teman dan rekan-rekan kita dalam satu acara. Dimana tempat lahirnya semua ekpspresi yang melukiskan kebahagiaan semua orang. Ditambah lagi, tuntutan zaman yang memaksa kita untuk berpesta jika berencana membuat sebuah acara. Tetap saja kita tidak bisa menolak jika zaman yang meminta. Karena apa? Ya apa lagi kalau bukan karena gengsi. Selain itu ada pula yang mencari keuntungan dari sebuah pesta yang diselenggarakan. Seperti halnya dalam pesta pernikahan atau “weedding party” bahasa kerennya. Jika kita telusuri lebih dalam, tidak sedikit masyarakat kita yang menyelenggarakan pesta pernikahan, hanyalah untuk mencari keuntungan materi saja. Sederhananya, mereka menginvestasikan uang mereka untuk mempersiapkan bahan-bahan yang deperlukan untuk sebuah pesta. Hal yang paling umum yang paling sering kita jumpai dalam pesta adalah makanan, dan hiburan. Ini adalah hal-hal yang harus ada dalam sebuah pesta, karena dari situlah penyelenggara akan mendapatkan keuntungan. Hidangan yang disajikan sangat menarik perhatian tamu undangan untuk mnghadiri sebuah pesta tersebut. jika dalam sebuah pesta tidak terdapat sesuatupun yang dapat untuk dimakan, maka seorang tamu undangan akan berfikir seribu kali untuk datang memenuhi undangan tersebut. kemudian hiburan, jika sebuah pesta tidak terdapat sebuah hiburan didalamnya maka itu sangat mempengaruhi tamu undangan yang datang. Sebab tamu undangan akan merasa terhibur dan dapat merasakan suasana yang ramai, sehingga tidak membuatnya bosan. Pada umumnya hiburan yang sangat disenangi oleh tamu undangan dewasa ini adalah Keyboard. Dimanapun dan kapanpun tetap saja Keyboard yang paling populer. Sehingga dari kedua hal tersebut, kita dapat menyadari bahwa, semakin banyak tamu maka semakin banyak amplopnya. Nah tentu saja ini merupakan sebuah bisnis tahunan yang mengutungkan. Jika kita hitung dari makanan yang telah disantap, anggap saja satu porsi harganya RP15.000, dan satu amplop rata-ratanya Rp20.000-Rp25.000. Berapakah keuntungan yang diperoleh dari seorang tamu Undangan? Iya, Rp5000-Rp10.000.
Dapat kita kalikan berapa banyak keuntungan yang diperoleh jika tamu undangan mencapai 10.000 orang. Inilah realita kehidupan pada akhir zaman. Sebenarnya, bukan seperti itu yang anjurkan Islam untuk umat Muslim yang menyelenggarakan pesta pernikahan atau yang lazimnya disebut Waliemah dari kebanyakan orang.
Waliemah adalah peralatan perkawinan yang disdiakan oleh mempelai laki-laki setelah akad berlangsung dan mempelai laki-laki memasuki kamar pengantin istri, dengan sekurang-kurangnya dengan menyembelih seekor kambing jiaka sanggup. Dan Rasul juga telah melakukan hal yang demikian itu. sebagai mana diberitakan oleh Annas r.a “Bahwa Nabi saw melaksanakan Waliemahnya untuk Zainab dengan menyembeli seeekor kambing”.
Tetapi, diceritakan oleh Asma binti ‘umais, ia berkata: “aku menjadi teman Aisyah ra. pada malam aku menyelenggarakannya untuk dimasukkan kedalam rumah Rasul. Aisyah ditemani oleh beberpa perempuan lain. Demi Allah, kami hanya mendapati disisi Rasulullah kala itu hanya segelas besar susu. Maka Nabi kemukakan kepada Aisyah. Tetapi Aisyah malu menerimanya, sehingga dengan ajakanku yang keras Aisyahpun menerimanya dengan malu dan meminumnya. Stelah itu Nabi berkata “berilah kepada teman-temanmu yang lain.” Kemudian aku berkata “kami tidak suka minum susu ya Rasulullah” (saya katakan itu karena melihat sedikitnya susu itu) mendengar itu Rasulullah berkata “jangan kamu kumpulkan Lapar dan Dusta”. Kemudian aku bertanya “apakah ya rasulullah jika kami mengatakan tidak suka kepada sesuatunya yang sebenarnya kami suka dipandang dusta?. Menjawab Nabi, “segala dusta itu dicatat, tak ada yang terluputi dari catatannya”.

Dari beberpa hadis yang disebutkan diatas, diketahui bahwa Waliemah itu dituntut atas suami dan dilaksanakan setelah Dukhul, dengan cara yang sederhana. Dan difahamkan bahwa atas orang yang berada, dituntut Waliemah itu sekurang-kurangnya seekor kambing. Tidak salah jika sesorang yang memiliki kesanggupan membuat waliemah yang besar-besaran, mengundang beribu-ribu orang. Tetapi apalah artinya semua itu jika hanya menambah dosa dan mengurangi berkah Allah ‘aza wazalla. Tamu yang diundang juga merupakan orang-orang yang besar, memiliki jabatan dan sebagainya. Barulah ia menyantap makanan itu sesuka hatinya, jika ia sanggup maka habislah satu porsi, tetapi jika tidak maka terbuanglah makanan itu dan menjadilah ia mubazir. Dari realita yang terjadi, kita dapat melihat betapa banyak makanan yang terbuang pada setiap melaksanakan suatu acara yang berlebihan seperti ini. orang yang terbiasa makan enak, dan terbiasa hidup dalam kemewahan, tidak tersentuh hatinya melihat makanan yang bertimbun di tempat cuci piring yang berada didapur pesta. Tetapi jika orang yang terbiasa hidupnya susah, bahkan untuk mencari makan saja harus mengemis dan merangkak mengaisi sampah, melihat itu semua mereka akan menangis. Mereka begitu susah untuk mendapatkan sekepal nasi, tapi disini, pada pesta yang begitu meriah ini, begitu mudahnya mereka membuang-buangnya.
Inilah kenyataan yang begitu nyata untuk kita lihat. Para umat sekarang, mengaku dirinya pengemban sunnah, tetapi malah berlomba-lomba dalam kemegahan dalam Waliemah. Maka, dengan demikian, mereka membuat dua kesalahan. Yang pertama, memberat-beratkan diri, dan yang kedua ialah mengerjakannya tidak sesuai dengan tuntutan agama, melainkan hanya mementingkan untuk kesesuaian pada perkembangan zaman. Entah kesalahan yang kedua akibat dari kesalahan yang pertama? Hanya saja kita perlu menyadari bahwa kesalahan-kesalahan itu menimbulkan banyak kesalahan.

Selasa, 01 Januari 2013

artikel



Muhasabah Tahun Baru 2013 M.

oleh: Fahrizul Ikram 


Selamat tahun baru wahai pembaca yang budiman. Kemarin malam begitu banyak fenomena yang saya lihat sepanjang saya menapaki langkah kaki saya. Begitu banyak hal yang membuat kegundahan hilang, namun begitu juga timbul hal-hal baru yang membuat hati bertanya-tanya. Apakah arti semua ini? Dalam rangka penyambutan tahun baru yang beraneka ragam acara yang dipersiapkan. Entah berapa banyak uang yang berhamburan dan terbakar dimalam yang berbahagia itu.
Malam itu tepat pukul 22:30 saya pergi menyaksikan perayaan tahun baru yang gemilang kelihatannya. Berputar mengelilingi kota yang padat dengan orang-orang yang tak mau ketinggalan mengakhiri tahun 2012. Disepanjang jalan, terlihat disetiap halaman rumah orang-orang dan sanak keluarganya berkumpul untuk turut memeriahkan. Ada yang mengisi perayaan itu dengan bakar-membakar, ada yang bermain musik, dan ada juga perayaan yang dimeriahkan dengan Keyboard band.
Saya terus berjalan mencari tempat yang cocok untuk merenungkan hal ini, dan pada akhirnya saya singgah disebuah Cafee Corner yang didalamnya dipenuhi para penikmat kopi yang membooking Cafee itu. Mereka menyemarakkan tahun baru dengan menghadirkan Band dikota itu. Saya begitu menikmati, dan perasaan yang sangat senang sekali bisa menyaksikan semua pengunjung diCaffe itu berbahagia, bernyanyi bersama, berjoget bersama, dan aksi-aksi gokil yang membuat pengunjung tertawa. Dan saya juga terlarut dalam suasana, sehinga ikut bernyanyi bersama mereka yang tidak memperdulikan siapa saya.
Ketika saat-saat yang ditunggu-tunggu hampir tiba, semua keluar dengan membawa kembang api yang telah mereka sediakan sebelumnya. Sampai pada hitungan detik-detik tahun baru yang menyapa, “tiga, dua, satu,” semua meniup terompet dan kembang api dinyalakan pada tempat yang terbuka. Langit yang berbintang dikalahkan dengan sinar kembang api yang menghujani kota. Memang terlihat indah, tapi saya tidak dapat menikmati momen itu. hati saya bertanya-tanya, untuk apa mereka lakukan itu jika hanya menghambur-hamburkan uangnya untuk hal yang tidak bermanfaat. Dimana hati mereka ketika ditengah ramainya orang-orang yang berbahagia masih terlihat segelintir orang yang berbaju kusam, kumuh dan lusung yang mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya.
Pembaca yang budiman, bukankah Aceh adalah sebuah negeri yang menegakkan syariat? Tapi mengapa budaya barat yang terkutuk itu berkembang dinegeri Seramoe Mekkah ini? mengapa budaya kembang api menjadi tradisi kita sebagai umat muslim? Sedangkan jika kita lihat pada perayaan tahun baru Hijriah yang lalu tidak sedikit umat muslim yang melupakannya. Tidak ada kita jumpai perayaan yang semeriah tahun baru masehi.
Pembaca yang budiman, saya yang lancang ini ingin menekankan bahwa perayaan tahun baru Masehi bukanlah sesuatu yang mendasar dalam Islam. Perayaan tahun baru bukanlah momen yang tepat untuk berbahagia dan berdoa yang dijadikan ajang dramatisasi. Kita dapat melihat pada perayaan ini banyak sekali dijumpai hal-hal yang tidak ada faedahnya sama sekali. Lebih parahnya lagi, maksiatlah yang semakin merajalela.     Perayaan tahun baru Masehi bukanlah bagian yang harus dilekatkan dalam agama kita. Namun inilah kenyataannya, yang akan menjadi renungan kita. Jangan jadikan tahun baru sebagai ajang bersandiwara, jangan jadikan tahun baru sebagai even yang membawa bencana untuk kita. Renungkan kembali apa yang sudah terjadi delapan tahun yang lalu. Bencana itu datang tanpa kita duga-duga. Semua merasakan kedahsyatannya. Apa yang kita lakukan? Maha benar Allah dengan firmannya “Dan tidaklah Allah menerima taubat dari orang yang melakukan kemaksiatan ketika ajal datang kepada salah seorang diantara mereka barulah ia berkata “sesungguhnya aku bertaubat”. Ketika Bumi menggoncang tanah Aceh semua orang menggemakan ayat-ayat Allah, mengumandangkan lafaz Adzan dan sebagainya. Tetapi ketika momen perayaan tahun baru ini apakah kita ingat kepada Allah? “Nehi”! tidak, semua Asyik dalam kesenangan dunia.
Untuk itu marilah kita renungkan, apa yang sebenarnya yang telah kita lakukan malam itu. membakar-bakar uang, berjoget, bernyanyi dan tertawa bersama, dan semua itu adalah hal-hal yang sangat dimurkai Allah. Saya bukanlah orang yang begitu  paham dalam urusan syariat, tapi saya sadar bahwa hal ini memang sudah menyimpang dari syariat.
Akhir kata, mohon maaf atas kelancangan saya. Semua itu sekedar angan-angan saya sebagai Warga baru Aceh untuk membantu menopang dan menegakkan syariat yang sebagaimana mestinya di negeri Seramoe Mekkah yang bermartabat ini.



wassalam