Daftar Blog Saya

Rabu, 06 Maret 2013

opini




Demokrasi
vs
Khilafah
Oleh: Fahrizul Ikram

Siapa yang tidak prnah berangan-angan hidup dibwah naungan khliafah. Sudah mimpi setiap muslim didunia mendambakan khilafah. Tapi beginilah adanya, manusia adalah khalifah dimuka bumi, dengan demikian dapat dikatakan manusia mempunyai hak dalam membuat suatu hukum dan tata kehidupan dimuka bumi. Memang benar, Alquran adalah sumber hukum yang paling utama, tapi apakah mungkin hukum dan peraturan berlalu-lintas juga kita kait-kaitkan dengan Alqur’an? Tentu saja tidak.
Pembaca yang budiman, bukan penulis bermaksud sok pintar, tapi hanya sekedar memberikan pendapat untuk menanggapi pernyataan-pernyataan dari berbagai kalangan yang mengganggap sistem pemerintahan negara kita ini salah. Mengingat negara kita yang berasaskan demokrasi, sudah haknya setiap orang dalam memberikan pendapatnya. Tetapi dalam kasus beberapa waktu terkhir ini sering sekali muncul anggapan-anggapan, maupun penyataan-pernyataan yang sedikit konyol menurut penulis sendiri. Sudah susah-susah rakyat Indonesia membangun bangsa dan negara, menuju negara yang adil dan makmur, tetapi malah kesengsaraan yang didapat. Tidak perlu kita bertanya siapa yang perlu disalahkan. Karena yang salah itu benar. Artinya, semua menganggap dirinya benar meskipun dalam pandangan orang lain salah. Menganggap orang lain salah dan membenarkan dirinya meskipun sudah mutlak salahnya. Jadi salah itu tidak ada sebenarnya. Yang ada itu keliru barangkali.
Entah bagaimana kasus ini menjadi hal yang menarik untuk dijadikan bahan kepenulisan penulis dalam menyuarakan pendapatnya. Sering sekali penulis melihat berbagai bentuk tulisan yang menolak “DEMOKRASI”, mengapa? Entah, penulis juga tidak mengetahuinya. Yang terpenting utnuk kita pahami, yang menjadi landasan dasar para pemberontak demokrasi ini adalah menganggap bahwa demokrasi bukanlah cara alternatif dalam mewujudkan pemertintahan yang sejahtera. Melihat dari makna Demokrasi itu sendiri yaitu kedaulatan ditangan rakyat, dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat pula, maka dengan itu mungkin mereka tidak terima mengingat kedaulatan atau kekuasaan tertinggi itu bukan ditangan manusia melainkan ditangan tuhan. Tuhanlah yang lebih pantas menyandang kedaulatan tersebut. dengan hal itu maka mulailah pergejolakan ditengah masyarakat Indonesia menolak demokrasi. Dan bermunculan pula semboyan-semboyan yang menyudutkan demokrasi, seperti “islam dan demokrasi antara iman dan kufur”, salah satunya.
Memang, para penolak demokrasi ini  sangat berambisi sekali dalam mewujudkan suatu tatanan pemerintahan yang sesuai dengan Syari’at Islam yaitu Khilafah Islamiyah. Seperti evaluasi kritis atas sejarah pemerintahan Islam dalam salah satu maha karya seorang tokoh ulama Abul A’la al-Maudadi didalam bukunya yang berjudul Khilafah wal Mulk. Dalam kisahnya memperjuangkan sistem khilafah dimata dunia sangat menarik perhatian para pembaca dari buku-buku yang ditulisnya. Abul A’la sangat anti sekali dengan demokrasi, sama seperti kelompok diatas. Dan landasan yang mendasarinya juga sama mengenai kedaulatan.
Untuk menanggapinya, penulis ingin bertanya terlebih dahulu kepada para pemberontak demokrasi ini. Sudah siapkah anda menjadikan sebuah negara dengan sistem pemerintahan Khilafah Islamiyah? Sudah siapkah anda menghadapi permasalah-permasalahan negeri ini dari masa kemasa sambil menggeser demokrasi dari singgasananya? Dapatkah anda menjamin kesejahteraan rakyat dibawah naungan khilafah seperti yang anda dambakan? Ya,sudah pasti jawabannya “insya Allah”.
Perlu kita ketahui bahwa manusia bukanlah malaikat yang bersih dari dosa dan kesalahan. Hanya Rasulullah saw, pemimpin yang sangat sempurna. Sepeninggalnya, tidak ditemukan pemimpin yang sesempurna dari dirinya. Wajar, beliau adalah seorang Rasul. Lantas, dizaman sekarang? Mungkinkah ada manusia seperti Rasulullah? Jawabnya tetap “insya Allah ada”. Beriringan dengan arus globalisasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat memungkinkan seseorang untuk jauh dari kehidupan beragama. Bahkan seorang muslim sekalipun. Meskipun banyak kita jumpai pelopor-pelopor kebenaran yang ingin mewujudkan Khilafah Islamiyah, tetapi tetap saja, itu merupakan ilusi semata.jika mereka mengangap demokrasi adalah ilusi maka tidak ada salahnya orang yang hidup dalam pemerintahan demokrasi mengatakan perwujudan khilafah adalah ilusi. Karena khilafah hanya bisa ditegakkan oleh Rasulullah saw saja.
                Dari sedikit dari sekian banyak anggapan orang tentang demokrasi diatas, maka dapat disimpulkan, manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan tuhan dengan dibekali akal dan pikiran sehingga dapat membedakan mana yang benar dan salah. Dalam kehidupan sehari-hari ternyata tidak ada kata “salah”, semua “benar” adanya. Apapun sistem pemerintahannya, sebaik dan sesempurna apapun ideologinya, meski khilafah sekalipun tanpa memiliki manusia yang berakhlak, berilmu, dan berkualitas, maka itu adalah hal yang sia-sia. Kesejahteraan akan terus menjadi ilusi setiap orang.