Demokrasi
vs
Khilafah
Oleh:
Fahrizul Ikram
Siapa yang tidak prnah berangan-angan hidup
dibwah naungan khliafah. Sudah
mimpi setiap muslim didunia mendambakan khilafah. Tapi beginilah adanya, manusia adalah
khalifah dimuka bumi, dengan demikian dapat dikatakan manusia
mempunyai hak dalam membuat suatu hukum dan tata kehidupan dimuka bumi. Memang benar, Alquran adalah sumber
hukum yang paling utama, tapi apakah
mungkin hukum dan peraturan berlalu-lintas juga kita kait-kaitkan dengan Alqur’an?
Tentu saja tidak.
Pembaca yang budiman, bukan penulis bermaksud sok
pintar, tapi hanya sekedar memberikan pendapat untuk menanggapi pernyataan-pernyataan
dari berbagai kalangan yang mengganggap sistem pemerintahan negara kita ini
salah. Mengingat negara kita yang berasaskan demokrasi, sudah haknya setiap
orang dalam memberikan pendapatnya. Tetapi dalam kasus beberapa waktu terkhir
ini sering sekali muncul anggapan-anggapan, maupun penyataan-pernyataan yang
sedikit konyol menurut penulis sendiri. Sudah susah-susah rakyat Indonesia
membangun bangsa dan negara, menuju negara yang adil dan makmur, tetapi malah
kesengsaraan yang didapat. Tidak perlu kita bertanya siapa yang perlu
disalahkan. Karena yang salah itu benar. Artinya, semua menganggap dirinya benar
meskipun dalam pandangan orang lain salah. Menganggap orang lain salah dan
membenarkan dirinya meskipun sudah mutlak salahnya. Jadi salah itu tidak ada
sebenarnya. Yang ada itu keliru barangkali.
Entah bagaimana kasus ini menjadi hal yang menarik
untuk dijadikan bahan kepenulisan penulis dalam menyuarakan pendapatnya. Sering
sekali penulis melihat berbagai bentuk tulisan yang menolak “DEMOKRASI”,
mengapa? Entah, penulis juga tidak mengetahuinya. Yang terpenting utnuk kita
pahami, yang menjadi landasan dasar para pemberontak demokrasi ini adalah
menganggap bahwa demokrasi bukanlah cara alternatif dalam mewujudkan
pemertintahan yang sejahtera. Melihat dari makna Demokrasi itu sendiri yaitu
kedaulatan ditangan rakyat, dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat pula,
maka dengan itu mungkin mereka tidak terima mengingat kedaulatan atau kekuasaan
tertinggi itu bukan ditangan manusia melainkan ditangan tuhan. Tuhanlah yang
lebih pantas menyandang kedaulatan tersebut. dengan hal itu maka mulailah pergejolakan
ditengah masyarakat Indonesia menolak demokrasi. Dan bermunculan pula
semboyan-semboyan yang menyudutkan demokrasi, seperti “islam dan demokrasi
antara iman dan kufur”, salah satunya.
Memang, para penolak demokrasi ini sangat berambisi sekali dalam mewujudkan
suatu tatanan pemerintahan yang sesuai dengan Syari’at Islam yaitu Khilafah
Islamiyah. Seperti evaluasi kritis atas sejarah pemerintahan Islam dalam salah
satu maha karya seorang tokoh ulama Abul A’la al-Maudadi didalam bukunya yang
berjudul Khilafah wal Mulk. Dalam kisahnya memperjuangkan sistem khilafah
dimata dunia sangat menarik perhatian para pembaca dari buku-buku yang
ditulisnya. Abul A’la sangat anti sekali dengan demokrasi, sama seperti
kelompok diatas. Dan landasan yang mendasarinya juga sama mengenai kedaulatan.
Untuk menanggapinya, penulis ingin bertanya
terlebih dahulu kepada para pemberontak demokrasi ini. Sudah siapkah anda
menjadikan sebuah negara dengan sistem pemerintahan Khilafah Islamiyah? Sudah siapkah
anda menghadapi permasalah-permasalahan negeri ini dari masa kemasa sambil
menggeser demokrasi dari singgasananya? Dapatkah anda menjamin kesejahteraan
rakyat dibawah naungan khilafah seperti yang anda dambakan? Ya,sudah pasti
jawabannya “insya Allah”.
Perlu kita ketahui bahwa manusia bukanlah malaikat
yang bersih dari dosa dan kesalahan. Hanya Rasulullah saw, pemimpin yang sangat
sempurna. Sepeninggalnya, tidak ditemukan pemimpin yang sesempurna dari
dirinya. Wajar, beliau adalah seorang Rasul. Lantas, dizaman sekarang? Mungkinkah
ada manusia seperti Rasulullah? Jawabnya tetap “insya Allah ada”. Beriringan dengan
arus globalisasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat
memungkinkan seseorang untuk jauh dari kehidupan beragama. Bahkan seorang
muslim sekalipun. Meskipun banyak kita jumpai pelopor-pelopor kebenaran yang
ingin mewujudkan Khilafah Islamiyah, tetapi tetap saja, itu merupakan ilusi
semata.jika mereka mengangap demokrasi adalah ilusi maka tidak ada salahnya
orang yang hidup dalam pemerintahan demokrasi mengatakan perwujudan khilafah
adalah ilusi. Karena khilafah hanya bisa ditegakkan oleh Rasulullah saw saja.
Dari sedikit dari
sekian banyak anggapan orang tentang demokrasi diatas, maka dapat disimpulkan,
manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan tuhan dengan dibekali akal dan
pikiran sehingga dapat membedakan mana yang benar dan salah. Dalam kehidupan
sehari-hari ternyata tidak ada kata “salah”, semua “benar” adanya. Apapun sistem
pemerintahannya, sebaik dan sesempurna apapun ideologinya, meski khilafah
sekalipun tanpa memiliki manusia yang berakhlak, berilmu, dan berkualitas, maka
itu adalah hal yang sia-sia. Kesejahteraan akan terus menjadi ilusi setiap orang.