Daftar Blog Saya

Senin, 26 Mei 2014

Sepenggal Cerita Digunung Sibayak (2094mdpl)


Gunung sibayak merupakan gunung yang memiliki eksotis keindahan tersendiri. Dibandingkan dengan beberapa gunung di sekitarnya, gunung yang memiliki ketinggian 2094 mdpl ini adalah gunung yang memiliki pesona alam yang luar biasa dimata pendaki. Seperti halnya saya, ketika berada digunung ini merasa terkagum-kagum dengan keindahan alamnya. Berikut akan saya ceritakan beberapa hal yang menyangkut gunung sibayak serta pengalaman saya ketika menaklukkan puncaknya.
Gunung Sibayak  terletak didataran tinggi Karo dengan ketinggian 2.094 m dari permukaan laut. Kedaan  puncak gunung ini sudah porak poranda karena letusan di masa lalu. Faktor kondensasi di gunung ini sangat tinggi yang menyebabkan seringnya terlihat kabut yang bergerombol didaerah puncak dan merupakan gunung api yang masih aktif, dan mempunyai kawah yang cukup landai untuk dituruni dan tampak tidak terlalu berbahaya asalkan jangan terlalu dekat ,Gumpalan asapnya  berasal dari panas bumi dan berguna sebagai sumber energi listrik. Di Kabupaten Karo telah terdapat sebuah kawasan pembangkit tenaga uap di dekat Gunung  Sibayak.

Dari yang saya lihat, terlihat jelas kondisi  kawahnya yang agak landai (terlihat dari belakang kawasan pembangkit tenaga  uap), yang kelihatannya seperti  membelah  gunung. Sekitar pukul 15:00 WIB, kabut mulai kelihatan di sekitar puncak gunung  hingga ke bagian bawahnya, dan tidak lama kemudian, kabut mulai menyebar hingga  ke Desa Semangat Gunung. Perlu juga untuk kita ketahui bersama Gunung Sibayak biasa dikenal  dengan sebutan “Gunung Raja”. Sibayak berarti raja dalam bahasa  Batak Karo.
Meski mendaki gunung sibayak adalah pendakian pertama bagi saya, tetapi saya dapat mengatakan bahwa gunung sibayak tergolong mudah untuk dicapai puncaknya. Meskipun ini pengalaman pertama saya mendaki gunung, tetapi saya banyak tahu tentang gunung. Sejak umur 10 tahun saya memang sudah jatuh cinta sama gunung, hutan dsb. Oleh sebab itu, banyak jalur-jalur yang saya ketahui dari beberapa gunung populer dikalangan pendaki yang ada di Indonesia.
Pada minggu lalu saya melakukan pendakian kegunung sibayak bersama-sama Mapala STAIN ZAWIYAH COT KALA LANGSA lewat acara “Travelling and Fun Hiking 2014”. Saya mengira pada waktu itu pendakian dilakukan melalui jalur lau sidebuk-debuk yang berada di desa semangat gunung. Yang menurut sepengetahuan saya treknya tidak terlalu sulit dan tidak terlalu mudah dan sangat cocok untuk pemula seperti saya. Tetapi dugaan saya salah, yang pada akhirnya pedakian dilakukan melalui jalur desa Jaran guda, yang jalurnya jauh lebih mudah dilalui. Dari pos pendakian saya melewati jalan beraspal yang terus menanjak hingga sampai ke tempat biasanya pendaki mendirikan tenda atau biasa disebut batuan kapur. Dari sini trek pendakian berubah yang tadinya aspal kini menjadi susunan tangga-tangga yang sengaja dibuat untuk memudahkan pendakian sampai kepuncak.
Pos pendakian sibayak

Pos pendakian sibayak dari jalur ini terletak didesa Jaran guda. Dari sini saya dan anggota rombongan mulai melangkah melalui jalan yang sudah beraspal. Sebelumnya kami ditawarkan tumpangan angkutan umum yang biasa membawa pendaki, namun hanya sampai setengah perjalanannya saja, dengan tarif Rp8000/orang. Tetapi bagi kami, berjalan sambil menikmati pemandangan hutan sibayak yang masih alami jauh lebih asik ketimbang duduk didalam angkot.
Setelah usai berdoa, seluruh rombongan bergerak berjalan menyusuri jalan yang menanjak. Sekitar 100 m berjalan rombongan mulai terpisah, sebagian didepan dan sebagian dibelakang. Sedangkan saya bersama dua orang teman saya berada ditengah. Keadaan fisik saya waktu itu masih lebih dari normal, rasa lelah belum terasa ditubuh saya. Tetapi salah seorang teman saya sudah kelihatan sempoyongan. Ransel yang dibawanya sudah ditipkan pada teman yang berada didepan tetapi tetap saja dia kelihatan tidak memiliki tenaga yang cukup lagi untuk menyusul mereka yang berada didepan. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti dan beristirahat sebentar sambil menunggu rombongan yang berada di belakang.
Sampai sepuluh menit kami menunggu, mereka tidak kunjung terlihat. Kemudian saya memberikan saran agar melanjutkan perjalanan, karena jika tetap menunggu takutnya mereka yang dibelakang akan mendahului sehingga besar kemungkinan kami berada di paling belakang. Mengingat kondisi fisik teman yang lemah pasti didepan kami akan berhenti dan beristirahat lagi. Ternyata benar dugaan saya. Tepat diatas tanjakan kami beristirahat, beberapa orang dari rombongan dibelakang menyusul kami dan mendahului kami. “bang, dibelakang masih ada orang lagi?”tanya saya kepada salah seorang dari mereka. “Ada, tunggu aja bentar lagi juga nyusul”jawabnya sambil berjalan mendahului kami. Saya mulai panik, sempat saja rombongan yang paling belakang ini mendahului kami, pasti kami akan ketinggalan menyusul semua rombongan, lebih lagi hari yang mulai gelap dan ditambah lagi cuaca yang mendung seperti akan turun hujan. Jika hujan saya tidak tahu mau kemana sebab tidak ada tempat teduhan kecuali dibawah pohon-pohon hutan yang besar. Dan sudah pasti semua yang ada didalam keril akan basah pikir saya. Akhirnya saya mendesak agar segera melanjutkan perjalanan. Dan tak lama kami berjalan sudah terlihat beberapa orang yang didepan tadi sedang duduk istirahat bersama-sama disebuah gubuk yang mungkin adalah sebuah posko kedua.
Kedua teman saya itu langsung ikut bergabung bersama mereka, lain halnya dengan saya,  saya memilih untuk melanjutkan sendirian dan menyusul teman-teman yang sudah didepan. Hujan mulai turun, rasa khawatir basah sudah tak menjadi beban pikiran, tetapi rasa takut yang mulai menghantui saya. Sesekali saya menoleh kebelakang untuk memastikan ada orang dibelakang saya, tetapi tiada seorangpun yang menyusul saya, kemudian saya mempercepat langkah kaki saya untuk menyusul mereka yang sudah didepan. Sampai disebuah persimpangan saya kebingungan, yang satu menanjak kebawah dan satu lagi menanjak keatas, dengan penuh keyakinan saya memilih kearah kanan dan menaiki tanjakan yang tidak begitu tinggi. Hujan terus membasahi tubuh saya, satu orangpun belum saya temukan didepan. Saya kebingungan lagi, apakah terus berjalan menyusul orang depan atau berhenti menunggu yang dibelakang ditengah hujan yang tiada henti.
Terlintas dikepala saya tentang tekad seorang pendaki, dan semangat muncak seorang pendaki, “masa gunung sibayak aja gue takut sih?’pikir saya dalam hati. Tanpa banyak pertimbangan saya melanjutkan langkah kaki saya yang terus menanjak dengan jarak yang begitu jauh. Dan saya lihat diatas sudah ada 4 orang anggota rombongan saya yang sedang duduk diatas sebuah batu. Saya percepat langkah saya dan bergabung bersama mereka. Tak begitu jauh setelah berjalan bersama serta mengobrol diperjalanan, mulai terlihat tenda-tenda para pendaki yang juga sedang muncak. Saya berpikir  “akhirnya sampai juga di batuan kapur”. Disinilah kami mendirikan tenda ditengah hujan yang diselimuti kabut gunung sibayak.

Pengalaman Mistik gunung Sibayak
Pengalaman ini sama sekali belum saya ceritakan kepada siapapun. Padahal saya ingin sekali menceritakan kepada teman dan kerabat saya. Tapi saya tidak yakin mereka percaya dengan apa yang telah saya alami. Lagi pula, jika saya ceritakan kepada teman-teman dicamp waktu itu, takutnya mereka jadi parno.
Ketika itu, sebagian rombongan bekerja mendirikan tenda, sebagian ada yang mengamankan ransel, keril serta perlengkapan lainnya dari hujan. Dan sebagian lagi duduk beristirahat sambil berteduh dibawah tenda plastik. Sedangkan saya berinisiatif untuk mencari ranting kayu untuk api unggun. Senja mulai terlihat, hujan tak kunjung reda. Saya masuk kedalam hutan yang tak begitu jauh dari tempat mendirikan tenda. Waktu itu saya tidak sendiri, saya ditemani si krebo. Karena asiknya saya mencari ranting-ranting yang basah itu saya tidak sadar bahwa sikrebo meninggalkan saya. Awalnya saya santai, dan sempat berpikir sikrebo akan kembali melangsir ranting yang sudah saya kumpulkan. Tiba-tiba terdengar suara ranting pohon yang di patahkan. “kritik.. kritik”kira-kira sperti itu bunyinya. Saya menoleh kebelakang berpikir bahwa itu krebo. Saya terkejut,setelah menoleh ternyata tidak ada seseorangpun dibelakang saya. Saya mulai gugup, tangan saya yang sedang menarik pohon jalar yang seperti tali itu mulai gemetaran. Saya percepat gerakan saya dan menarik ranting itu sekuat-kuatnya. Betapa terkejutnya saya melihat sesosok bayangan hitam tersepit diatas cabang pohon dimana ranting jalar itu melilit. Saya terjatuh kebelakang dan melepaskan ranting itu. Kemudian saya berlari dan mengambil sebagian ranting yang saya kumpulkan tadi dan kembali ketempat mendirikan tenda. Entah apa wujud dari sosok itu saya tidak tahu, yang pasti saya jelas betul melihatnya tersepit diatas cabang pohon itu. Sampai ditenda saya duduk termenung, dan menganalisa kejadian yang baru saja saya alami. “biasalah, namanya juga gunung, sudah menjadi tempatnya”pikir saya. Setelah semua tenda berdiri, kejadian itu langsung saya lupakan. Sungguh pengalaman yang luar biasa kawan.
Malam Pertama Diatas Gunung

Bukan malam pertama ala pengantin, tetapi ini merupakan pengalaman pertama saya tidur dan bermalam digunung. Selesai isya, sebagian rombongan berada didalam tenda sambil menunggu makan malam disiapkan. Sedangkan saya dan rombongan lainnya bermanjakan diri dengan kehangatan api unggun di gubuknya tulang. Tulang adalah seorang pedagang yang membuat gubuk di tempat ngecamp. Baru kali ini saya tau bahwa diatas gunung ternyata uang masih bisa digunakan. Beberapa saat saya berdiam diri, tiba-tiba salah satu teman dari rombongan saya mengalami kedinginan hebat. Langsung saja kami memberikan bantuan dan menghangatkan tubuhnya, dengan api unggun dan selimut tentunya. Memang malam itu begitu dingin, saya sempat menggigil sebentar.
Setelah makan malam bersama, saya langsung beranjak menuju tenda dan mengambil tempat untuk meluruskan tubuh yang penat dan bersembunyi dibalik sarung yang saya kenakan dari hawa dingin. Namun kaki saya masih terasa dingin, makulum saja saya tidak memakai kaos kaki. Jika sarung saya turunkan kekaki maka tubuh bagian atas akan merasa kedinginan. Begitu sebaliknya hingga saya serba salah untuk melakukan apapun. Karena merasa kesal, saya melilitkan sarung itu pada kaki saya dan menyimpulkan ujungnya hingga mirip seperti kaki pocong. Akhirnya saya bisa tidur dengan cara yang agak memaksa.
Pukul 01:30 wib saya terbangun, hawa dingin semakin menusuk. Dan saya mulai menggigil waktu. Tubuh saya menggigil hebat. Saya putuskan untuk bangun, tetapi hanya saya sendiri yang terbangun. Iri sekali rasanya melihat teman-teman yang lain tidur dengan nyenyak dalam kondisi seperti ini. Saya merasa bimbang untuk membangunkan mereka, tetapi saya juga enggan untuk beranjak tempat saya tidur. Dalam suasana malam, saya berdiam diri dan berusaha untuk tidur kembali. Tubuh masih menggigil, dan semakin menjadi sekali dinginnya. Terlintas dikepala saya, “jika berada digunung jangan sampek terserang hipotermia. Jika tubuh sudah kedinginan dan kehilangan suhu, maka kematian segera menanti”. Saya panik, dan segera bangun dari tempat saya berbaring. Saya cari senter dan pergi keluar tenda. Luar biasa, diluar terasa dingin sekali. Tangan saya tak berhenti gemetar hingga cahaya senter tidak beraturan. Jari sudah terasa kaku, sulit untuk digerakkan. Tiba-tiba salah seorang teman saya juga ikut bangun karena mendengar gerakan saya diluar. Seperti yang saya lihat, dia juga kedinginan seperti saya. Kami pun mencoba untuk menghidupkan api dengan ranting basah seadanya, tetapi hasilnya gagal. Tak jauh dari tenda kami ada pendaki lain yang sedang membakar api unggun, akhirnya kami pergi kesana dan bergabung bersama mereka. Disinilah saya merasakan betapa indahnya berbagi kehangatan. Kami disambut dengan baik teman. Kami tidak saling mengenal, tetapi terasa lebih dekat dari sahabat. Sebentar saja kami sudah saling tertawa bersama. Secangkir kopi langsung disuguhkan kepada kami. Hingga rasa dingin dari tubuh saya mulai lenyap. Sunggu indah, baru kali ini saya merasakan kebersamaan, berbagi rasa, suka, cita, dan tawa, satu untuk semua, semua untuk satu.
Menuju Puncak
Sekitar pukul 04:00, kami mulai bersiap menuju puncak. Terlihat kabut yang begitu tebal. Dingin kembali menusuk. Jarak pandang hanya beberapa meter saja. Saya begitu semangat waktu itu.
Trek menuju puncak tidak begitu sulit, sudah tersusun tangga sampai keatas. Sedangakan disebelah kiri terdapat jurang yang lumayan dalam. Dan banyak sekali ditemukan pohon pandan hutan disepanjang trek ini. Setelah melewati batas vegetasi, mulai tercium aroma belerang yang menyengat. Gemuruh aktivitas gas belerang yang berada dikawah terdengar seperti suara pesawat  yang melintas diatas kepala. Diantara bebatuan, saya berjalan menyusuri jalan setapak hingga saya dpat melihat puncak sudah didepan mata. Saya tersenyum bahagia, dan mempercepat langkah saya menuju keatas. Luar biasa indahnya, meskipun ditutup kabut tidak mengurangi keindahan puncak gunung sibayak. Sayang sekali saya belum dapat kesempatan menyaksikan sunrise waktu itu dikarenakan kabut yang tebal menutupi. Yang terlihat hanyalah jurang yang tak terlihat dasarnya. Dan saya baru tahu, ternyata dipuncak jauh lebih dingin ketimbang ditempat kami ngecamp samalam. Ditambah lagi angin yang begitu kencang terasa dingin menusuk sampai ketulang. Saya menggigil lagi teman.

Tiba-tiba beberapa orang anggota rombongan mulai bergerak menuju puncak tertinggi atau yang biasa disebut ‘Pilar’sibayak. Sebenarnya saya sempat was-was, apa saya bisa kesana dengan kondisi seperti ini? Melihat treknya sangat ekstrim jalan setapak diantara jurang yang dalam. “kalo belum sampek pilar bararti gue belum sukses mendaki sibayak”pikir saya. Tanpa pikir panjang saya ikut mereka menaiki tebing yang licin. Ketika saya berpegang pada sebuah batu dan bersandar diatasnya, sekeliling yang saya lihat adalah jurang. Takut sekali rasanya, ditambah lagi kondisi saya yang tetap menggigil. Yang saya pikirkan hanyalah keluarga, sahabat dan teman-teman saya. “gue pasti bisa, sedikit lagi, dan gue nggak bakal mati disini. Gue harus bisa tinggalin jejak kaki gue dipuncak ini.”pikir saya. Akhirnya, luar biasa puncak sibayak 2094 mdpl, saya berdiri diatasnya, dekat dengan langit, diatas awan…

Disini saya dapat mengambil pelajaran, sungguh betapa indahnya ciptaan Allah….
“Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”

mungkin untuk saat ini, cukup sekian yang dapat saya ceritakan, mohon maaf jika terdapat kesalahan dan kekurangan…..