Gunung sibayak merupakan gunung
yang memiliki eksotis keindahan tersendiri. Dibandingkan dengan beberapa gunung
di sekitarnya, gunung yang memiliki ketinggian 2094 mdpl ini adalah gunung yang
memiliki pesona alam yang luar biasa dimata pendaki. Seperti halnya saya,
ketika berada digunung ini merasa terkagum-kagum dengan keindahan alamnya.
Berikut akan saya ceritakan beberapa hal yang menyangkut gunung sibayak serta
pengalaman saya ketika menaklukkan puncaknya.
Gunung
Sibayak terletak didataran tinggi Karo
dengan ketinggian 2.094 m dari permukaan laut. Kedaan puncak gunung ini sudah porak poranda karena
letusan di masa lalu. Faktor kondensasi di gunung ini sangat tinggi yang
menyebabkan seringnya terlihat kabut yang bergerombol didaerah puncak dan
merupakan gunung api yang masih aktif, dan mempunyai kawah yang cukup landai
untuk dituruni dan tampak tidak terlalu berbahaya asalkan jangan terlalu dekat
,Gumpalan asapnya berasal dari panas bumi dan berguna sebagai sumber
energi listrik. Di Kabupaten Karo telah terdapat sebuah kawasan pembangkit
tenaga uap di dekat Gunung Sibayak.

Dari yang saya
lihat, terlihat jelas kondisi kawahnya yang agak landai (terlihat dari
belakang kawasan pembangkit tenaga uap), yang kelihatannya seperti
membelah gunung. Sekitar pukul 15:00 WIB, kabut mulai kelihatan di
sekitar puncak gunung hingga ke bagian bawahnya, dan tidak lama kemudian,
kabut mulai menyebar hingga ke Desa Semangat Gunung. Perlu juga untuk
kita ketahui bersama Gunung Sibayak biasa dikenal dengan sebutan “Gunung Raja”. Sibayak berarti
raja dalam bahasa Batak Karo.
Meski mendaki
gunung sibayak adalah pendakian pertama bagi saya, tetapi saya dapat mengatakan
bahwa gunung sibayak tergolong mudah untuk dicapai puncaknya. Meskipun ini
pengalaman pertama saya mendaki gunung, tetapi saya banyak tahu tentang gunung.
Sejak umur 10 tahun saya memang sudah jatuh cinta sama gunung, hutan dsb. Oleh
sebab itu, banyak jalur-jalur yang saya ketahui dari beberapa gunung populer
dikalangan pendaki yang ada di Indonesia.
Pada minggu lalu saya melakukan
pendakian kegunung sibayak bersama-sama Mapala STAIN ZAWIYAH COT KALA LANGSA
lewat acara “Travelling and Fun Hiking 2014”. Saya mengira pada waktu itu
pendakian dilakukan melalui jalur lau sidebuk-debuk yang berada di desa
semangat gunung. Yang menurut sepengetahuan saya treknya tidak terlalu sulit
dan tidak terlalu mudah dan sangat cocok untuk pemula seperti saya. Tetapi
dugaan saya salah, yang pada akhirnya pedakian dilakukan melalui jalur desa
Jaran guda, yang jalurnya jauh lebih mudah dilalui. Dari pos pendakian saya
melewati jalan beraspal yang terus menanjak hingga sampai ke tempat biasanya
pendaki mendirikan tenda atau biasa disebut batuan kapur. Dari sini trek
pendakian berubah yang tadinya aspal kini menjadi susunan tangga-tangga yang
sengaja dibuat untuk memudahkan pendakian sampai kepuncak.
Pos pendakian sibayak
Pos pendakian
sibayak dari jalur ini terletak didesa Jaran guda. Dari sini saya dan anggota
rombongan mulai melangkah melalui jalan yang sudah beraspal. Sebelumnya kami
ditawarkan tumpangan angkutan umum yang biasa membawa pendaki, namun hanya sampai
setengah perjalanannya saja, dengan tarif Rp8000/orang. Tetapi bagi kami,
berjalan sambil menikmati pemandangan hutan sibayak yang masih alami jauh lebih
asik ketimbang duduk didalam angkot.
Setelah usai
berdoa, seluruh rombongan bergerak berjalan menyusuri jalan yang menanjak. Sekitar
100 m berjalan rombongan mulai terpisah, sebagian didepan dan sebagian
dibelakang. Sedangkan saya bersama dua orang teman saya berada ditengah. Keadaan
fisik saya waktu itu masih lebih dari normal, rasa lelah belum terasa ditubuh
saya. Tetapi salah seorang teman saya sudah kelihatan sempoyongan. Ransel yang
dibawanya sudah ditipkan pada teman yang berada didepan tetapi tetap saja dia
kelihatan tidak memiliki tenaga yang cukup lagi untuk menyusul mereka yang
berada didepan. Akhirnya kami putuskan untuk berhenti dan beristirahat sebentar
sambil menunggu rombongan yang berada di belakang.
Sampai sepuluh
menit kami menunggu, mereka tidak kunjung terlihat. Kemudian saya memberikan
saran agar melanjutkan perjalanan, karena jika tetap menunggu takutnya mereka
yang dibelakang akan mendahului sehingga besar kemungkinan kami berada di
paling belakang. Mengingat kondisi fisik teman yang lemah pasti didepan kami
akan berhenti dan beristirahat lagi. Ternyata benar dugaan saya. Tepat diatas
tanjakan kami beristirahat, beberapa orang dari rombongan dibelakang menyusul
kami dan mendahului kami. “bang, dibelakang masih ada orang lagi?”tanya saya
kepada salah seorang dari mereka. “Ada, tunggu aja bentar lagi juga nyusul”jawabnya
sambil berjalan mendahului kami. Saya mulai panik, sempat saja rombongan yang
paling belakang ini mendahului kami, pasti kami akan ketinggalan menyusul semua
rombongan, lebih lagi hari yang mulai gelap dan ditambah lagi cuaca yang
mendung seperti akan turun hujan. Jika hujan saya tidak tahu mau kemana sebab
tidak ada tempat teduhan kecuali dibawah pohon-pohon hutan yang besar. Dan sudah
pasti semua yang ada didalam keril akan basah pikir saya. Akhirnya saya
mendesak agar segera melanjutkan perjalanan. Dan tak lama kami berjalan sudah
terlihat beberapa orang yang didepan tadi sedang duduk istirahat bersama-sama
disebuah gubuk yang mungkin adalah sebuah posko kedua.
Kedua teman saya
itu langsung ikut bergabung bersama mereka, lain halnya dengan saya, saya memilih untuk melanjutkan sendirian dan
menyusul teman-teman yang sudah didepan. Hujan mulai turun, rasa khawatir basah
sudah tak menjadi beban pikiran, tetapi rasa takut yang mulai menghantui saya. Sesekali
saya menoleh kebelakang untuk memastikan ada orang dibelakang saya, tetapi
tiada seorangpun yang menyusul saya, kemudian saya mempercepat langkah kaki
saya untuk menyusul mereka yang sudah didepan. Sampai disebuah persimpangan
saya kebingungan, yang satu menanjak kebawah dan satu lagi menanjak keatas,
dengan penuh keyakinan saya memilih kearah kanan dan menaiki tanjakan yang
tidak begitu tinggi. Hujan terus membasahi tubuh saya, satu orangpun belum saya
temukan didepan. Saya kebingungan lagi, apakah terus berjalan menyusul orang
depan atau berhenti menunggu yang dibelakang ditengah hujan yang tiada henti.
Terlintas dikepala
saya tentang tekad seorang pendaki, dan semangat muncak seorang pendaki, “masa
gunung sibayak aja gue takut sih?’pikir saya dalam hati. Tanpa banyak
pertimbangan saya melanjutkan langkah kaki saya yang terus menanjak dengan
jarak yang begitu jauh. Dan saya lihat diatas sudah ada 4 orang anggota
rombongan saya yang sedang duduk diatas sebuah batu. Saya percepat langkah saya
dan bergabung bersama mereka. Tak begitu jauh setelah berjalan bersama serta
mengobrol diperjalanan, mulai terlihat tenda-tenda para pendaki yang juga
sedang muncak. Saya berpikir “akhirnya
sampai juga di batuan kapur”. Disinilah kami mendirikan tenda ditengah hujan
yang diselimuti kabut gunung sibayak.
Pengalaman Mistik gunung Sibayak
Pengalaman ini
sama sekali belum saya ceritakan kepada siapapun. Padahal saya ingin sekali
menceritakan kepada teman dan kerabat saya. Tapi saya tidak yakin mereka
percaya dengan apa yang telah saya alami. Lagi pula, jika saya ceritakan kepada
teman-teman dicamp waktu itu, takutnya mereka jadi parno.
Malam Pertama Diatas Gunung
Setelah makan
malam bersama, saya langsung beranjak menuju tenda dan mengambil tempat untuk
meluruskan tubuh yang penat dan bersembunyi dibalik sarung yang saya kenakan
dari hawa dingin. Namun kaki saya masih terasa dingin, makulum saja saya tidak
memakai kaos kaki. Jika sarung saya turunkan kekaki maka tubuh bagian atas akan
merasa kedinginan. Begitu sebaliknya hingga saya serba salah untuk melakukan
apapun. Karena merasa kesal, saya melilitkan sarung itu pada kaki saya dan
menyimpulkan ujungnya hingga mirip seperti kaki pocong. Akhirnya saya bisa
tidur dengan cara yang agak memaksa.
Pukul 01:30 wib
saya terbangun, hawa dingin semakin menusuk. Dan saya mulai menggigil waktu. Tubuh
saya menggigil hebat. Saya putuskan untuk bangun, tetapi hanya saya sendiri
yang terbangun. Iri sekali rasanya melihat teman-teman yang lain tidur dengan
nyenyak dalam kondisi seperti ini. Saya merasa bimbang untuk membangunkan mereka,
tetapi saya juga enggan untuk beranjak tempat saya tidur. Dalam suasana malam,
saya berdiam diri dan berusaha untuk tidur kembali. Tubuh masih menggigil, dan
semakin menjadi sekali dinginnya. Terlintas dikepala saya, “jika berada
digunung jangan sampek terserang hipotermia. Jika tubuh sudah kedinginan dan
kehilangan suhu, maka kematian segera menanti”. Saya panik, dan segera bangun
dari tempat saya berbaring. Saya cari senter dan pergi keluar tenda. Luar biasa,
diluar terasa dingin sekali. Tangan saya tak berhenti gemetar hingga cahaya
senter tidak beraturan. Jari sudah terasa kaku, sulit untuk digerakkan. Tiba-tiba
salah seorang teman saya juga ikut bangun karena mendengar gerakan saya diluar.
Seperti yang saya lihat, dia juga kedinginan seperti saya. Kami pun mencoba
untuk menghidupkan api dengan ranting basah seadanya, tetapi hasilnya gagal. Tak
jauh dari tenda kami ada pendaki lain yang sedang membakar api unggun, akhirnya
kami pergi kesana dan bergabung bersama mereka. Disinilah saya merasakan betapa
indahnya berbagi kehangatan. Kami disambut dengan baik teman. Kami tidak saling
mengenal, tetapi terasa lebih dekat dari sahabat. Sebentar saja kami sudah
saling tertawa bersama. Secangkir kopi langsung disuguhkan kepada kami. Hingga rasa
dingin dari tubuh saya mulai lenyap. Sunggu indah, baru kali ini saya merasakan
kebersamaan, berbagi rasa, suka, cita, dan tawa, satu untuk semua, semua untuk
satu.
Menuju Puncak
Sekitar pukul
04:00, kami mulai bersiap menuju puncak. Terlihat kabut yang begitu tebal. Dingin
kembali menusuk. Jarak pandang hanya beberapa meter saja. Saya begitu semangat
waktu itu.
Trek menuju
puncak tidak begitu sulit, sudah tersusun tangga sampai keatas. Sedangakan disebelah
kiri terdapat jurang yang lumayan dalam. Dan banyak sekali ditemukan pohon
pandan hutan disepanjang trek ini. Setelah melewati batas vegetasi, mulai
tercium aroma belerang yang menyengat. Gemuruh aktivitas gas belerang yang berada
dikawah terdengar seperti suara pesawat
yang melintas diatas kepala. Diantara bebatuan, saya berjalan menyusuri
jalan setapak hingga saya dpat melihat puncak sudah didepan mata. Saya tersenyum
bahagia, dan mempercepat langkah saya menuju keatas. Luar biasa indahnya,
meskipun ditutup kabut tidak mengurangi keindahan puncak gunung sibayak. Sayang
sekali saya belum dapat kesempatan menyaksikan sunrise waktu itu dikarenakan
kabut yang tebal menutupi. Yang terlihat hanyalah jurang yang tak terlihat
dasarnya. Dan saya baru tahu, ternyata dipuncak jauh lebih dingin ketimbang
ditempat kami ngecamp samalam. Ditambah lagi angin yang begitu kencang terasa
dingin menusuk sampai ketulang. Saya menggigil lagi teman.
Tiba-tiba
beberapa orang anggota rombongan mulai bergerak menuju puncak tertinggi atau
yang biasa disebut ‘Pilar’sibayak. Sebenarnya saya sempat was-was, apa saya
bisa kesana dengan kondisi seperti ini? Melihat treknya sangat ekstrim jalan
setapak diantara jurang yang dalam. “kalo belum sampek pilar bararti gue belum
sukses mendaki sibayak”pikir saya. Tanpa pikir panjang saya ikut mereka menaiki
tebing yang licin. Ketika saya berpegang pada sebuah batu dan bersandar
diatasnya, sekeliling yang saya lihat adalah jurang. Takut sekali rasanya,
ditambah lagi kondisi saya yang tetap menggigil. Yang saya pikirkan hanyalah
keluarga, sahabat dan teman-teman saya. “gue pasti bisa, sedikit lagi, dan gue
nggak bakal mati disini. Gue harus bisa tinggalin jejak kaki gue dipuncak ini.”pikir
saya. Akhirnya, luar biasa puncak sibayak 2094 mdpl, saya berdiri diatasnya,
dekat dengan langit, diatas awan…
Disini saya dapat mengambil
pelajaran, sungguh betapa indahnya ciptaan Allah….
“Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
“Maka nikmat tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan?”
mungkin untuk saat ini, cukup sekian yang dapat saya ceritakan, mohon maaf jika terdapat kesalahan dan kekurangan…..
