Muhasabah Tahun
Baru 2013 M.
oleh: Fahrizul Ikram
oleh: Fahrizul Ikram
Malam itu tepat pukul 22:30 saya pergi
menyaksikan perayaan tahun baru yang gemilang kelihatannya. Berputar
mengelilingi kota yang padat dengan orang-orang yang tak mau ketinggalan
mengakhiri tahun 2012. Disepanjang jalan, terlihat disetiap halaman rumah
orang-orang dan sanak keluarganya berkumpul untuk turut memeriahkan. Ada yang
mengisi perayaan itu dengan bakar-membakar, ada yang bermain musik, dan ada
juga perayaan yang dimeriahkan dengan Keyboard band.
Saya terus berjalan mencari tempat yang
cocok untuk merenungkan hal ini, dan pada akhirnya saya singgah disebuah Cafee
Corner yang didalamnya dipenuhi para penikmat kopi yang membooking Cafee itu.
Mereka menyemarakkan tahun baru dengan menghadirkan Band dikota itu. Saya
begitu menikmati, dan perasaan yang sangat senang sekali bisa menyaksikan semua
pengunjung diCaffe itu berbahagia, bernyanyi bersama, berjoget bersama, dan
aksi-aksi gokil yang membuat pengunjung tertawa. Dan saya juga terlarut dalam
suasana, sehinga ikut bernyanyi bersama mereka yang tidak memperdulikan siapa
saya.
Ketika saat-saat yang ditunggu-tunggu
hampir tiba, semua keluar dengan membawa kembang api yang telah mereka sediakan
sebelumnya. Sampai pada hitungan detik-detik tahun baru yang menyapa, “tiga,
dua, satu,” semua meniup terompet dan kembang api dinyalakan pada tempat yang
terbuka. Langit yang berbintang dikalahkan dengan sinar kembang api yang
menghujani kota. Memang terlihat indah, tapi saya tidak dapat menikmati momen
itu. hati saya bertanya-tanya, untuk apa mereka lakukan itu jika hanya
menghambur-hamburkan uangnya untuk hal yang tidak bermanfaat. Dimana hati
mereka ketika ditengah ramainya orang-orang yang berbahagia masih terlihat
segelintir orang yang berbaju kusam, kumuh dan lusung yang mencari sesuatu
untuk mengganjal perutnya.
Pembaca yang budiman, bukankah Aceh
adalah sebuah negeri yang menegakkan syariat? Tapi mengapa budaya barat yang
terkutuk itu berkembang dinegeri Seramoe Mekkah ini? mengapa budaya kembang api
menjadi tradisi kita sebagai umat muslim? Sedangkan jika kita lihat pada
perayaan tahun baru Hijriah yang lalu tidak sedikit umat muslim yang
melupakannya. Tidak ada kita jumpai perayaan yang semeriah tahun baru masehi.
Pembaca yang budiman, saya yang lancang
ini ingin menekankan bahwa perayaan tahun baru Masehi bukanlah sesuatu yang
mendasar dalam Islam. Perayaan tahun baru bukanlah momen yang tepat untuk
berbahagia dan berdoa yang dijadikan ajang dramatisasi. Kita dapat melihat pada
perayaan ini banyak sekali dijumpai hal-hal yang tidak ada faedahnya sama
sekali. Lebih parahnya lagi, maksiatlah yang semakin merajalela. Perayaan tahun baru Masehi bukanlah bagian
yang harus dilekatkan dalam agama kita. Namun inilah kenyataannya, yang akan
menjadi renungan kita. Jangan jadikan tahun baru sebagai ajang bersandiwara,
jangan jadikan tahun baru sebagai even yang membawa bencana untuk kita.
Renungkan kembali apa yang sudah terjadi delapan tahun yang lalu. Bencana itu
datang tanpa kita duga-duga. Semua merasakan kedahsyatannya. Apa yang kita
lakukan? Maha benar Allah dengan firmannya “Dan tidaklah Allah menerima
taubat dari orang yang melakukan kemaksiatan ketika ajal datang kepada salah
seorang diantara mereka barulah ia berkata “sesungguhnya aku bertaubat”.
Ketika Bumi menggoncang tanah Aceh semua orang menggemakan ayat-ayat Allah,
mengumandangkan lafaz Adzan dan sebagainya. Tetapi ketika momen perayaan tahun
baru ini apakah kita ingat kepada Allah? “Nehi”! tidak, semua Asyik dalam
kesenangan dunia.
Untuk itu marilah kita renungkan, apa
yang sebenarnya yang telah kita lakukan malam itu. membakar-bakar uang,
berjoget, bernyanyi dan tertawa bersama, dan semua itu adalah hal-hal yang
sangat dimurkai Allah. Saya bukanlah orang yang begitu paham dalam urusan syariat, tapi saya sadar
bahwa hal ini memang sudah menyimpang dari syariat.
Akhir kata, mohon maaf atas kelancangan
saya. Semua itu sekedar angan-angan saya sebagai Warga baru Aceh untuk membantu
menopang dan menegakkan syariat yang sebagaimana mestinya di negeri Seramoe
Mekkah yang bermartabat ini.
wassalam
ya ,, betul itu setuju
BalasHapus