Telah lama aku tinggalkan tempat ini. Kini aku
kembali hanya sekedar melihat-lihat cerita lama yang pernah kutorehkan disini.
Sebetulnya, ada begitu banyak cerita yang ingin aku torehkan lagi, namun tidak
memungkinkan ku untuk memenuhi hasrat yang pernah terbuang ini. Menulis adalah
sebuah hobi dikala aku merasa bosan, senang,sedih, dan dikala perasaan ini
terjepit diantaara beban yang selalu menimpa. Aku tidak begitu percaya akan hal
ini, mengapa aku terlihat lebay? Benarkah? Mungkin asumsi itu akan berubah saat
bertemu langsung dengan orang yang
menulis postingan ini.
Tadinya aku ingin membuat sebuah lagu yang
bertemakan bunga edelweiss. Tapi tak ada salahnya jika keinginan itu tertunda
demi postingan ini.
Semua mungkin tau bunga edelweiss, ya bunga yang
hanya tumbuh didataran tinggi ekosistem gunung berapi. Dialah si bunga pujaan,
sang legenda diatas awan, bunga yang di impi-impikan kehadirannya sebagai
symbol keabadian. Bagiku, bunga yang molek ini adalah anugerah terindah dari
tuhan yang harus dijaga, bukan untuk dimiliki. Karena aku yakin dan percaya
bahwa semua yang ada dibumi ini merupakan titipan tuhan semata.
Edelweissku sayang, butuh usaha dan kerja keras agar
aku bisa mendapatkanmu. Banyak rintangan yang harus kulalui demi keindahan parasmu. Berdiri diantara tebing yang tinggi, merayap diantara akar-akar pohon yang rapuh, melewati sungai, dibawah terik matahari, diantara hujan dan malam yang begitu dingin dan menusuk.
Bahkan badai sekalipun aku lewati agar aku bisa melihat dan menyaksikan kau
masih disana, ditempat yang sulit ditemukan. Ya… kau! Kau lah edelweissku.
Bukan untuk kumiliki, tetapi untuk kujaga. Kaulah edelweissku, yang membuatku
merasa bahagia ketika kau masih disana. Kaulah edelweiseku, yang tak ada
sepasang matapun yang tak akan jatuh hati saat melihatmu. Andai aku bisa, aku
ingin berada disana, bersamamu menyaksikan sunrise dari atas awan. Oh
edelweiss, jika ada seseorang yang mencintaimu dan tak mampu
memilikimu, maka akulah orangnya. Akulah yang akan selalu menjagamu sampai kau
mulai layu ditelan usia.
~tetaplah menjadi edelweise dihatiku
~tetaplah menjadi edelweise dihatiku


