Kota Pening Lalat, Kota Sampah
oleh: Fahrizul Ikram
Betapa indahnya kota ini tanpa ada sampah yang
menumpuk, sampah yang berserak, dan bau busuk sampah yang menyengat. Diantara
ruko-ruko yang berjejeran disepanjang jalan terdapat tempat pembuangan sampah
yang telah disediakan. Ada yang berupa tempat sampah organik dan ada juga
tempat sampah anorganik. Terlihat pedagang kaki lima antusias membersihkan barang
dagangannya, partisipasinya begitu besar dalam menjaga kebersihan. Setiap
barang-barang dagangannya yang telah menjadi sampah, mereka buang pada tempat
yang telah disediakan itu. mereka dapat memilah, mana sampah organik dan mana
sampah anorganik. Artinya dikota ini telah diterapkan slogan “5K”. Para
masyarakat kota tersebut sangat peduli terhadap lingkungan. Sejauh mata
memandang, tiada lagi terlihat yang namanya sampah. Hanya keasrian kota yang
nyaman, bersih, tertib, dan rapi. Becak-becak bermotor terparkir rapi pada area
yang telah disediakan. Kendaraan berlalu-lalang dengan tertib dan teratur.
Tidak ada pengendara yang saling mendahului. Para pejalan kaki, berjalan dengan
nyaman diatas torotoar yang sejuk dibayangi bayang-bayang pohon yang rindang. Tapi
sayang, saat saya membuka mata, semuanya berubah. Bahkan jauh berubah dari yang
saya lihat sebelumnya. Saya baru menyadari, ternyata saya sedang bermimpi dalam
kedipan mata saja. Dimana-mana berserakan sampah-sampah pelastik,
kantong-kantong kresek, dan beraneka ragam sampah lainnya. Becak-becak bermotor
terparkir bergelimpangan sampai-sampai merembes kesisi tengah jalan. Klakson
mobil berdengung memekik garang. Asap kendaraan yang hitam mengepul mengudara.
Polusi dimana-mana. Ditambah lagi kepadatan orang-orang yang berjalan menyisiri
kota terlihat bagai koloni semut yang kehilangan arah menuju sarangnya. Semua
terlihat sangat mengerikan. Seperti inikah yang dinamakan sebuah Kota? mungkin
Benar, Kota sampah namanya.
Ini merupakan sebuah gambaran, betapa buruknya
keadaan lingkungan kita. Memang banyak orang yang menyadari bahwa sampah itu
jorok dan menjijikan. Tapi belum ada kesadarannya untuk berbenah,
menanggulangi, menjaga kebersihan dan berpartisipasi dalam menjaga lingkungan
yang bersih dan rapi. Bisa kita lihat dibeberapa kota yang katanya adalah kota
yang bersih. Kota yang menerapkan kebersihan ligkungan. Dikota itu banyak kita
jumpai slogan-slogan kebersihan yang terpampang dimana-mana. Tapi ternyata
tidak pada kenyataannya. Upaya-upaya yang dilakukan Pemda setempat bisa
dikatakan “gatot”, jika hanya berharap kepada petugas kebersihan saja. Adapun
baksos yang banyak dilakukan oleh pelajar, mahasiswa dan organisasi-organisasi,
hanya ikut menyemarakkan saja. Saya berpendapat bahwa itu adalah pekerjaan yang
sia-sia. Membuang-buang waktu dan tenaga. Tetapi kalau setiap hari mereka
lakukan itu baru besar pengaruhnya terhadap kebersihan lingkungan. Namun jka
hanya satu hari saja, itu hanya meringankan pekerjaaan petugas kebersihan.
Pengaruhnya kecil sekali. Meski begitu, kegiatan ini dilakukan sangat minim.
Hanya ada pada hari-hari tertentu saja. Misalnya pada kegiatan Masa Orientasi
Sekolah (MOS), Ospek dan lain sebagainya.
Seorang petugas kebersihan berkata saat saya
wawancarai, “kalau saya diberi pekerjaan lain, sudah lama saya tinggalkan
pekerjaaan ini.” begitu ujar pria berinisial Ar itu. ketika saya tanyakan
kenapa, ia menjawab bahwa pekerjaan itu tidak sesuai dengan pendapatannya.
Ternyata petugas kebersihan melakukan pekerjaan itu dengan terpaksa. Dan pada
saat saya masuk pada inti pertanyaan saya, “jika saudara tidak lagi bekerja
sebagai petugas kebersihan, apakah saudara mau menjaga kebersihan sebagai mana
biasanya saudara memungut sampah-sampah yang tidak pada tempatnya?”. Jawabnya
santai sekali, tapi penuh makna. “bangai that lah long, menyoe long tem”. Kata
lelaki berdarah Aceh-Tamiang tersebut. Tapi, meskipun para petugas kebersihan
mengeluh dengan banjirnya sampah yang terus menumpuk baik itu yang berada pada
tempatnya ataupun yang masih berserakan dijalanan tapi tetap saja belum ada
kesadaran untuk ikhlas menjaga kebersihan lingkungan. Bisa kita tebak, jika
saja para petugas kebersihan ini tidak digaji, mana mungkin mereka rela
berjalan diantara sampah-sampah yang bau, dikerubungi lalat, dan dipenuhi belatung,
kemudian mengaisnya dan memasukkannya kedalam keranjang sampah.
Jika saja sampah, berupa apapun itu, baik yang
berupa organik maupun anorganik dihargai oleh Pemda setempat, saya yakin kota
ini bersih dari sampah. Setiap sampah yang mereka temukan dihargai pemerintah
dengan harga yang pantas. Bahkan saya yakin ditempat-tempat sampah tidak ada
lagi sampah yang menumpuk. Ditempat-tempat pembuangan sampah tidak lagi
dipenuhi sampah, tapi digantikan orang-orang yang memungut sampah untuk dijual.
Seperti pada realitanya, sampah-sampah yang berupa plastik seperti botol-botol
air mineral, kardus dan besi, dan sebagainya licin di tempat pembuangan sampah.
Para pemulung sigap bersaing dengan pemulung lain berebut untuk mendapatkan
sampah-sampah berharga tersebut. Bisa kita lihat, para pemulung bersedia
menunggu untuk sampah-sampah baru, yang dibuang oleh Dinas Kebersihan ditempat
penumpukkan sampah. Tak perduli dengan keadaaan sampah yang bau, dipenuhi
belatung, yang menurut kita itu sangat menjijikan. Tapi mereka rela, “demi
sesuap nasi” kata salah seorang dari pemulung itu.
Realita yang saya sebutkan diatas, sangat jelas
gambarannya. Jadikan setiap sampah itu berharga. Kebersihan kota bisa tercapai
jika pemerintah melakukan upaya tersebut. Selanjutnya, setiap sampah yang telah
dibeli oleh Pemda setempat dikirim kepusat pembuangan sampah kota. Jika upaya
seperti ini dilakukan mungkin sangat berdampak positif untuk kebersihan
lingkungan. Karena dimata masyarakat saat ini, uang adalah segalanya. Sedangkan
masyarat ekonomi menengah keatas saja rela melakukan apa saja untuk memporoleh
rupiah, apalagi masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Saya yakin semua
orang berebut dengan sampah yang saat ini tidak ada harganya sama sekali. Apabila
upaya ini dilakukan, tidak hanya berdampak bagus terhadap lingkungan, tetapi
secara tidak sengaja Pemda memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat yang
tidak memiliki pekerjaan. Agen-agen sampah sedikit demi sedikit bermunculan.
Dan dalam tempo yang singkat banyak tokeh-tokeh sampah yang sukses karena
sampah.
Atau jika pemerintah takut rugi karena tidak
mendapatkan keuntungan materi dari sampah tersebut, pemerintah bisa mencari
solusi lain yang menguntungkan dan berdampak besar terhadap kebersihan kota.
Yaitu dengan memberikan sanksi kepada pelaku-pelaku yang tidak bertanggung
jawab dengan sampah. Jika pelaku-pelaku yang tidak bertanggung jawab terhadap
sampah tersebut kedapatan membuang sampah tidak pada tempatnya dikenakan sanksi
hukuman penjara atau membayar denda sekian rupiah misalnya. Namun denda yang
dikenakan jangan tanggung-tanggung, sebaiknya dalam jumlah yang besar meskipun
hanya untuk sampah sekecil bungkus permen sekalipun. Agar pelaku-pelaku
tersebut jera. Tapi upaya ini harus dalam pengawasan yang ketat agar tidak
terjadi penggelapan uang-uang dari denda yang dibayar oleh tersangka pembuang
sampah sembarangan. Sehingga uang dari denda tersebut bersih masuk ke khas
daerah.
Dari solusi-solusi yang saya sampaikan diatas
mungkin banyak terdapat kekurangan-kekurangan, pembaca yang budiman bisa
berkomentar dalam hati saja. Tapi alangkah lucunya, mengapa harus melakukan hal
seperti itu jika masih ada hal yang sangat alternative yang bisa dilakukan.
Yaitu kesadaran untuk peduli lingkungan. Ikhlas, memungut sampah yang tidak
pada tempatnya. Bersama-sama melakukan bakti sosial minimal seminggu
sekali. Tapi untuk menyadadarkan
seseorang itu sangat susah untuk dilakukan. Apalagi orang yang memiliki otak
sperti sampah. Perasaannya busuk layaknya sampah yang yang busuk. Hatinya kotor
dihinggapi bintik-bintik kemalasan, ketakperdulian, dan keacuhannya terhadap
lingkungan. Layaknya lalat yang menghinggapi sampah-sampah busuk yang kemudian
melahirkan belatung untuk menambah kebusukannya.
Yang perlu ditanyakan saat ini adalah, apa yang
menyebabkan sampah-sampah itu berserakan dimana-mana? Apakah fasilitas tempat
pembuangan sampah yang disediakan dinas kebersihan itu kurang? Atau kita yang
tidak punya pikiran sehingga membuang sampah sembarangan. Pemda setempat
mengeluarkan banyak biaya untuk menanggulangi sampah-sampah itu, truk-truk
sampah diberikan kepada dinas kebersihan, program-program pemberian tong sampah
organik dan anorganik secara Cuma-Cuma, lain lagi untuk gaji pegawai
kebersihannya. Tapi dari tahun ketahun hasilnya tetap NIHIL. Tidak ada alasan
yang logis untuk menyangkal mengapa kita membuang sampah tidak pada tempatnya.
Kecuali jika Pemda setempat mengeluarkan UU yang menyatakan membuang sampah
pada tempatnya dikenakan biaya.
Jika Pemda setempat tidak bertindak lebih tegas, maka beberapa tahun
kedepan kita bisa menjadi kota pengekspor sampah terbesar didunia. Mungkin ini
hal yang membanggakan untuk kita sebagai
makhluk sampah.
Maka mulailah dari hal yang paling kecil untuk menjaga lingkungan kita dari
sampah. Tempat sudah disediakan mengapa kita masih membuangnya sesuka hati
kita. Semua orang tahu seberapa besar dampaknya jika lingkungan kita tercemari
dengan sampah, bahkan kita sudah merasakan saat ini. tapi tetap saja tidak ada
kesadaran untuk menjaga kebersihan. Untuk itu marilah bersama-sama, memulai
dari sekarang, membuang sampah pada tempatnya.
