Daftar Blog Saya

Selasa, 30 Oktober 2012

Opini

Kota Pening Lalat, Kota Sampah
oleh: Fahrizul Ikram


Betapa indahnya kota ini tanpa ada sampah yang menumpuk, sampah yang berserak, dan bau busuk sampah yang menyengat. Diantara ruko-ruko yang berjejeran disepanjang jalan terdapat tempat pembuangan sampah yang telah disediakan. Ada yang berupa tempat sampah organik dan ada juga tempat sampah anorganik. Terlihat pedagang kaki lima antusias membersihkan barang dagangannya, partisipasinya begitu besar dalam menjaga kebersihan. Setiap barang-barang dagangannya yang telah menjadi sampah, mereka buang pada tempat yang telah disediakan itu. mereka dapat memilah, mana sampah organik dan mana sampah anorganik. Artinya dikota ini telah diterapkan slogan “5K”. Para masyarakat kota tersebut sangat peduli terhadap lingkungan. Sejauh mata memandang, tiada lagi terlihat yang namanya sampah. Hanya keasrian kota yang nyaman, bersih, tertib, dan rapi. Becak-becak bermotor terparkir rapi pada area yang telah disediakan. Kendaraan berlalu-lalang dengan tertib dan teratur. Tidak ada pengendara yang saling mendahului. Para pejalan kaki, berjalan dengan nyaman diatas torotoar yang sejuk dibayangi bayang-bayang pohon yang rindang. Tapi sayang, saat saya membuka mata, semuanya berubah. Bahkan jauh berubah dari yang saya lihat sebelumnya. Saya baru menyadari, ternyata saya sedang bermimpi dalam kedipan mata saja. Dimana-mana berserakan sampah-sampah pelastik, kantong-kantong kresek, dan beraneka ragam sampah lainnya. Becak-becak bermotor terparkir bergelimpangan sampai-sampai merembes kesisi tengah jalan. Klakson mobil berdengung memekik garang. Asap kendaraan yang hitam mengepul mengudara. Polusi dimana-mana. Ditambah lagi kepadatan orang-orang yang berjalan menyisiri kota terlihat bagai koloni semut yang kehilangan arah menuju sarangnya. Semua terlihat sangat mengerikan. Seperti inikah yang dinamakan sebuah Kota? mungkin Benar, Kota sampah namanya.
Ini merupakan sebuah gambaran, betapa buruknya keadaan lingkungan kita. Memang banyak orang yang menyadari bahwa sampah itu jorok dan menjijikan. Tapi belum ada kesadarannya untuk berbenah, menanggulangi, menjaga kebersihan dan berpartisipasi dalam menjaga lingkungan yang bersih dan rapi. Bisa kita lihat dibeberapa kota yang katanya adalah kota yang bersih. Kota yang menerapkan kebersihan ligkungan. Dikota itu banyak kita jumpai slogan-slogan kebersihan yang terpampang dimana-mana. Tapi ternyata tidak pada kenyataannya. Upaya-upaya yang dilakukan Pemda setempat bisa dikatakan “gatot”, jika hanya berharap kepada petugas kebersihan saja. Adapun baksos yang banyak dilakukan oleh pelajar, mahasiswa dan organisasi-organisasi, hanya ikut menyemarakkan saja. Saya berpendapat bahwa itu adalah pekerjaan yang sia-sia. Membuang-buang waktu dan tenaga. Tetapi kalau setiap hari mereka lakukan itu baru besar pengaruhnya terhadap kebersihan lingkungan. Namun jka hanya satu hari saja, itu hanya meringankan pekerjaaan petugas kebersihan. Pengaruhnya kecil sekali. Meski begitu, kegiatan ini dilakukan sangat minim. Hanya ada pada hari-hari tertentu saja. Misalnya pada kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS), Ospek dan lain sebagainya.
Seorang petugas kebersihan berkata saat saya wawancarai, “kalau saya diberi pekerjaan lain, sudah lama saya tinggalkan pekerjaaan ini.” begitu ujar pria berinisial Ar itu. ketika saya tanyakan kenapa, ia menjawab bahwa pekerjaan itu tidak sesuai dengan pendapatannya. Ternyata petugas kebersihan melakukan pekerjaan itu dengan terpaksa. Dan pada saat saya masuk pada inti pertanyaan saya, “jika saudara tidak lagi bekerja sebagai petugas kebersihan, apakah saudara mau menjaga kebersihan sebagai mana biasanya saudara memungut sampah-sampah yang tidak pada tempatnya?”. Jawabnya santai sekali, tapi penuh makna. “bangai that lah long, menyoe long tem”. Kata lelaki berdarah Aceh-Tamiang tersebut. Tapi, meskipun para petugas kebersihan mengeluh dengan banjirnya sampah yang terus menumpuk baik itu yang berada pada tempatnya ataupun yang masih berserakan dijalanan tapi tetap saja belum ada kesadaran untuk ikhlas menjaga kebersihan lingkungan. Bisa kita tebak, jika saja para petugas kebersihan ini tidak digaji, mana mungkin mereka rela berjalan diantara sampah-sampah yang bau, dikerubungi lalat, dan dipenuhi belatung, kemudian mengaisnya dan memasukkannya kedalam keranjang sampah.
Jika saja sampah, berupa apapun itu, baik yang berupa organik maupun anorganik dihargai oleh Pemda setempat, saya yakin kota ini bersih dari sampah. Setiap sampah yang mereka temukan dihargai pemerintah dengan harga yang pantas. Bahkan saya yakin ditempat-tempat sampah tidak ada lagi sampah yang menumpuk. Ditempat-tempat pembuangan sampah tidak lagi dipenuhi sampah, tapi digantikan orang-orang yang memungut sampah untuk dijual. Seperti pada realitanya, sampah-sampah yang berupa plastik seperti botol-botol air mineral, kardus dan besi, dan sebagainya licin di tempat pembuangan sampah. Para pemulung sigap bersaing dengan pemulung lain berebut untuk mendapatkan sampah-sampah berharga tersebut. Bisa kita lihat, para pemulung bersedia menunggu untuk sampah-sampah baru, yang dibuang oleh Dinas Kebersihan ditempat penumpukkan sampah. Tak perduli dengan keadaaan sampah yang bau, dipenuhi belatung, yang menurut kita itu sangat menjijikan. Tapi mereka rela, “demi sesuap nasi” kata salah seorang dari pemulung itu.
Realita yang saya sebutkan diatas, sangat jelas gambarannya. Jadikan setiap sampah itu berharga. Kebersihan kota bisa tercapai jika pemerintah melakukan upaya tersebut. Selanjutnya, setiap sampah yang telah dibeli oleh Pemda setempat dikirim kepusat pembuangan sampah kota. Jika upaya seperti ini dilakukan mungkin sangat berdampak positif untuk kebersihan lingkungan. Karena dimata masyarakat saat ini, uang adalah segalanya. Sedangkan masyarat ekonomi menengah keatas saja rela melakukan apa saja untuk memporoleh rupiah, apalagi masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Saya yakin semua orang berebut dengan sampah yang saat ini tidak ada harganya sama sekali. Apabila upaya ini dilakukan, tidak hanya berdampak bagus terhadap lingkungan, tetapi secara tidak sengaja Pemda memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan. Agen-agen sampah sedikit demi sedikit bermunculan. Dan dalam tempo yang singkat banyak tokeh-tokeh sampah yang sukses karena sampah.
Atau jika pemerintah takut rugi karena tidak mendapatkan keuntungan materi dari sampah tersebut, pemerintah bisa mencari solusi lain yang menguntungkan dan berdampak besar terhadap kebersihan kota. Yaitu dengan memberikan sanksi kepada pelaku-pelaku yang tidak bertanggung jawab dengan sampah. Jika pelaku-pelaku yang tidak bertanggung jawab terhadap sampah tersebut kedapatan membuang sampah tidak pada tempatnya dikenakan sanksi hukuman penjara atau membayar denda sekian rupiah misalnya. Namun denda yang dikenakan jangan tanggung-tanggung, sebaiknya dalam jumlah yang besar meskipun hanya untuk sampah sekecil bungkus permen sekalipun. Agar pelaku-pelaku tersebut jera. Tapi upaya ini harus dalam pengawasan yang ketat agar tidak terjadi penggelapan uang-uang dari denda yang dibayar oleh tersangka pembuang sampah sembarangan. Sehingga uang dari denda tersebut bersih masuk ke khas daerah.
Dari solusi-solusi yang saya sampaikan diatas mungkin banyak terdapat kekurangan-kekurangan, pembaca yang budiman bisa berkomentar dalam hati saja. Tapi alangkah lucunya, mengapa harus melakukan hal seperti itu jika masih ada hal yang sangat alternative yang bisa dilakukan. Yaitu kesadaran untuk peduli lingkungan. Ikhlas, memungut sampah yang tidak pada tempatnya. Bersama-sama melakukan bakti sosial minimal seminggu sekali.  Tapi untuk menyadadarkan seseorang itu sangat susah untuk dilakukan. Apalagi orang yang memiliki otak sperti sampah. Perasaannya busuk layaknya sampah yang yang busuk. Hatinya kotor dihinggapi bintik-bintik kemalasan, ketakperdulian, dan keacuhannya terhadap lingkungan. Layaknya lalat yang menghinggapi sampah-sampah busuk yang kemudian melahirkan belatung untuk menambah kebusukannya.
Yang perlu ditanyakan saat ini adalah, apa yang menyebabkan sampah-sampah itu berserakan dimana-mana? Apakah fasilitas tempat pembuangan sampah yang disediakan dinas kebersihan itu kurang? Atau kita yang tidak punya pikiran sehingga membuang sampah sembarangan. Pemda setempat mengeluarkan banyak biaya untuk menanggulangi sampah-sampah itu, truk-truk sampah diberikan kepada dinas kebersihan, program-program pemberian tong sampah organik dan anorganik secara Cuma-Cuma, lain lagi untuk gaji pegawai kebersihannya. Tapi dari tahun ketahun hasilnya tetap NIHIL. Tidak ada alasan yang logis untuk menyangkal mengapa kita membuang sampah tidak pada tempatnya. Kecuali jika Pemda setempat mengeluarkan UU yang menyatakan membuang sampah pada tempatnya dikenakan biaya.
Jika Pemda setempat tidak bertindak lebih tegas, maka beberapa tahun kedepan kita bisa menjadi kota pengekspor sampah terbesar didunia. Mungkin ini hal yang membanggakan untuk kita sebagai  makhluk sampah.
Maka mulailah dari hal yang paling kecil untuk menjaga lingkungan kita dari sampah. Tempat sudah disediakan mengapa kita masih membuangnya sesuka hati kita. Semua orang tahu seberapa besar dampaknya jika lingkungan kita tercemari dengan sampah, bahkan kita sudah merasakan saat ini. tapi tetap saja tidak ada kesadaran untuk menjaga kebersihan. Untuk itu marilah bersama-sama, memulai dari sekarang, membuang sampah pada tempatnya.

Kamis, 25 Oktober 2012

cerpen bodo'




 inilah aku...
Aku tak biasa menuliskan kisah hidupku untuk dibaca orang lain. Sebab, tiada yang menarik untuk diceritakan. Hanya kepedihan, duka lara yang mencoret lembaran-lembaran kisah hidupku. Tapi hari ini aku berubah pikiran, semua itu akan aku singkap melalui tulisan penuh makna, penuh harapan agar orang mengerti, bahwa aku ini bukan seperti yang mereka bayangkan, aku ingin hidup normal seprti mereka, tanpa ada perbuatan-perbuatan yang melanggar norma. Aku ingin menjadi anak yang baik dimata semua orang. Tapi aku malah mengawali semuanya dengan kebodohan. Aku terperosok dalam jurang kesengsaraan, kemudian terjebak didalamnya. Sampai saat ini aku berusaha keluar dari jurang kegelapan itu. Aku tertipu dengan keadaan, aku kira kesengsaraan, duka, dan lara bisa dihapus dengan kesenangan. tapi aku salah, aku benar-benar bodoh waktu itu. efeknya sekarang, hanya ada penyesalan. Tapi entah apa hikmah dari problem yang ku hadapi ini. mari sama-sama kita simak bagaimana perjuanganku menghadapi problematik hidupku. Thats me, its my life

Waktu itu, aku baru beranjak dewasa. Dimana masa-masa tumbuh berkembangnya hormon-hormon kedewasaan. aku Berharap mendapatkan kisah yang indah, punya pacar yang cantik, punya uang banyak, dan sebagainya. Tapi, semua hasratku sirna setelah masalah sialan itu datang. Kisah berawal.....
Malam itu hujan. sejak maghrib Mama masih dikamar bersama ayah, terdengar ribut sekali dari kamar mereka. Entah apa yang mereka permasalahkan. Tapi aku tidak ambil open, aku keluar rumah mencari sensasi. “itukan masalah mereka biar saja mereka selesaikan sendiri masalah mereka”, ujarku dalam hati.
Hujan semakin deras, malampun semakin larut. Aku pulang, menerobos angin yang melayangkan air-air langit kewajahku. Berlari membelah aspal yang tergenang. Sampai dirumah aku dikagetkan oleh seorang perempuan yang duduk manis di kursi tamu. Rambutnya terurai panjang, membengkok kebelakang telinganya. aku senyum menyapanya sambil berjalan keruang tengah, diapun membalas senyumku.
Suasana hening diruang tengah. Adikku, Putri. Menangis terisak disudut tembok. Tapi aku tidak melihat mama. adikku memberi tahu bahwa mama pergi dari rumah karena perempuan itu. katanya perempuan itu akan menginap semalam dirumahku. Darahku mendidih mendengarnya. Aku mendatangi ayah yang sudah berada diruang tamu bersama perempuan itu. sempat aku bertengkar, aku memaksa ayah untuk menjelaskan apa artinya semua ini. tapi ayah terus menyangkal bahwa semua ini adalah salah paham. Mamaku pergi karena egois. kata ayah mama terlalu cemburu, padahal itu adalah teman kerja ayah. Aku terdiam, bingung siapa yang benar dan siapa yang salah.
Keesokan hari aku pergi sekolah. Rasanya aku tidak bersemangat untuk pergi. diKepalaku masih bergeliut permasalahan kedua orang tuaku. Rupanya pagi itu mama sudah kembali dan mengusir perempuan itu. tak terhindarkan bentrok kembali terjadi antara mama dan ayah. Kepalaku pusing menyaksikannya. Andai aku tau, aku pasti bisa membuat tindakan. Tapi aku tak tau siapa sebenarnya yang salah. Aku tak tahu siapa yang harus ku bela. Dan aku tidak dapat mengetengahi mereka berdua. Aku lemah, waktu itu prinsip aku masa bodo dengan hal-hal seperti ini. aku lebih suka menghindar dari masalah.
Sejak itu aku jarang pulang kerumah, aku lebih suka menginap dirumah teman daripada pulang kerumah.
Hari-hari kulewati bagai bunga yang layu. Tiada keindahan lagi yang kutemui. Sampai bertemunya aku dengan seorang teman yang merubah hidupku. Namanya Farid (samaran), dia membawaku kedunia yang penuh kesenangan. dia yang mengajarkanku cara  merokok dengan baik dan benar. Awalnya aku sangat membenci orang yang merokok, apa lagi dengan rokoknya. Aku pernah bersumpah jika aku merokok maka aku tidak akan berhenti merokok sampai aku mati karena rokok. Tapi karena hidup yang sialan ini menjadikan sumpahku termakan. Aku perokok sekarang. Haaah bodo’.
Sejak bersama Farid masalahku sedikit terlupakan. Dia sangat mengerti apa yang aku rasakan ketika itu. Farid sering membawaku jalan-jalan ketempat hiburan, gabung bareng teman-temannya dan sebagainya. Aku merasa mulai menikmati indahnya hidup.
Semakin hari aku semakin lupa dengan masalah ku. Sampai-sampai aku lupa bahwa aku masih punya keluarga. Waktu itu Farid berkata padaku “ngapain kamu ingat mereka, mereka aja lupa sama kamu”. Hatiku bergetar saat mendengarnya. Yang dikatakan Farid benar, mereka lupa padaku.
Hampir 3 bulan rumah tangga keluargaku dalam masalah, masih pada masalah yang sama. Mama memaksa ayah untuk mengakui bahwa ayaah mempunyai hubungan dengan wanita waktu itu. Tapi tetap saja ayah menyangkalnya. Akibatnya, Rumahku bagai neraka, penuh keributan-keributan, jerit dan tangis, teriak dan bentak oleh penghuninya.
Aku semakin geram dan suntuk. Akhirnya aku mencari hal yang baru. Pucuk dicinta ulampun tiba. Farid datang membawa sebotol minuman. Bentuknya gepeng. Ada tulisan “scott” di kedua sisi botolnya. Farid menwarkannya padaaku, tapi aku menolak. Aku berfikir jika aku minum dan setelah itu mati pasti aku langsung dimasukkan keneraka jahannam. Yaa, aku masih ingat dosa kala itu, tapi pada akhirnya juga aku mencoba minuman kesukaan ibliss itu. rasanya pahit. Sakit sekali waktu menelaannya. Jika aku bayangkan, lebih baik minum kencing sendiri. Tapi nikmatnya di akhiran bro, aku fly..... aku terbang...., aku bebas.... tanpa beban. Fly..... zzzzzzt...
Saat itu mabuk adalah kebutuhan yang harus kupenuhi, jika tidak rasanya bagai nyayur gak pake sayur. Haha gitulaah kira-kira.
Aku pergi membeli minuman, tempatnya kaya di tv-tv gitu, ada musik-musiknya, ada cewek-ceweknya. Daan om-om hidung belangnya. Entah bagaimana aku memainkan asap rokok, bulat-bulat kaya donat, dan ketika pandanganku terfokus pada bulatan asap itu aku melihat ayah sedang berduaan dengan seorang wanita. aku benar-benar kaget. Ingin sekali aku menghajarnya. Tapi aku tahan, karena dia tidak melihaatku. Aku pulang, dan mengatakan apa yang kulihat kepada mama. sore itu aku, mama, dan adik perempuanku menunggu kepulangan ayah yang katanya lagi kerja.
Ayah pulang, dengan wajah tanpa dosanya ia masuk kerumah tanpa perdulikan kami. Dengan nada yang marah aku memanggilnya, dan saat aku bertanya tentang kejadian di kede minuman ayah menyangkal dan balik marah-marah padaku. Spontan darahku naik, tanganku yang keccil menarik kerah bajunya. Kepalan tangan berisi sejuta kemarahan kulayangkan berkali-kali mengenai wajahnya. Darah menyucur keluar. Tak puas sampai disitu aku mengambil sebuah obeng di atas meja yang tak jauh dari tempat aku berdiri. Ku luncurkan kearah perut bagian kanan ayah. Tapi ayah tahan serangan itu,iaa mengeggam tanganku keras sekali. Mataku berubah merah, penuh amarah yang menjadi-jadi, menggebu bagai api. Ingin sekali aku segera membunuhnya. Aku menjerit histeris sambil mengayunkan obeng itu kembali. Dan ayah tak mampu menahahan ayunan tanganku. Ia terjatuh. Kemudian........

To be continued

Senin, 22 Oktober 2012

Puisi



berikan aku kesempatan sekali lagi

sejak hari pertama jalan hidup kita bertemu
seperti hidup kita saling terlilit
aku tidak akan melupakan bagaimana bertemu dengan mu
atau bagaimana kamu dengan perlahan mencuri hatiku
uhmmm...

mungkin kau tak percaya
seberapa dalam perasaan ku padamu
bahkan sekarang, kau tak tau isi hatiku
bagai mana bisa ku jelaskan apa yang kurasakan
ohhh...
sayang, jangan biarkan semua ini pergi
kita dapat melewatinya jika kita menjadi kuat
kau tau aku tidak dapat memilikimu
aku hanya menangis untukmu
kau tau hatiku merindukanmu
sayang, aku cinta kamu, aku menunggumu
aku tau kita mengahadapi banyak kesulitan
bersama diriku bukanlah hal yang mudah
aku minta maaf karena kesombongan ku
kau tau kau menjadi satu-satunya yang
mengubah hidupku
mengapa kau tidak mengerti
ku berikan dunia hanya untukmu?
bahkan jika itu akan membuatku
membayar dengan semua yang ku punya
aku akan mempertahankan apa yang kita miliki
ohhh...
sayang,tolong maafkan kebodohan ini
aku hanya ingin melindungimu
hatiku berhenti berdetak untuk mengatakan
kata-kata yang menyakitkan itu
aku sendiri menangis untukmu
selamat tinggal, jangan katakan itu
ingatlah betapa banyak cinta kita
aku butuh kamu, aku ingin berkata bahwa
betapa aku menginginkanmu
sayang, berikan aku kesempatan sekali lagi

Rabu, 10 Oktober 2012

Hakikat Manusia Sebagai Makhluk Budaya



BAB 1
PENDAHULUAN
A.                Latar Belakang
Kehidupan manusia sangatlah komplek, begitu pula hubungan yang terjadi pada manusia sangatlah luas. Hubungan tersebut dapat terjadi antara manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan makhluk hidup yang ada di alam, dan manusia dengan Sang Pencipta. Setiap hubungan tersebut harus berjalan seimbang. Selain itu manusia juga diciptakan dengan sesempurna penciptaan, dengan sebaik-baik bentuk yang dimiliki. Hal ini diisyaratkan dalam Surat At-Tiin: 4
“Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya”.
Dalam ayat ini Allah menegaskan bahwa Dia telah menjadikan manusia makhluk ciptaan-Nya yang paling baik; badannya lurus ke atas, cantik parasnya, mengambil dengan tangan apa yang dikehendakinya; bukan seperti kebanyakan binatang yang mengambil benda yang dikehendakinya dengan perantaraan mulut. Kepada manusia diberikan-Nya akal dan dipersiapkan untuk menerima bermacam-macam ilmu pengetahuan dan kepandaian; sehingga dapat berkreasi (berdaya cipta) dan sanggup menguasai alam dan binatang.
Manusia juga harus bersosialisasi dengan lingkungan, yang merupakan pendidikan awal dalam suatu interaksi sosial. Hal ini menjadikan manusia harus mempunyai ilmu pengetahuan yang berlandaskan ketuhanan. Karena dengan ilmu tersebut manusia dapat membedakan antara yang hak dengan yang bukan hak, antara kewajiban dan yang bukan kewajiban. Sehingga norma-norma dalam lingkungan berjalan dengan harmonis dan seimbang. Agar norma-norma tersebut berjalan haruslah manusia di didik dengan berkesinambungan dari “dalam ayunan hingga ia wafat”, agar hasil dari pendidikan –yakni kebudayaan– dapat diimplementasikan dimasyaakat.
Pendidikan sebagai hasil kebudayaan haruslah dipandang sebagai “motivator” terwujudnya kebudayaan yang tinggi. Selain itu pendidikan haruslah memberikan kontribusi terhadap kebudayaan, agar kebudayaan yang dihasilkan memberi nilai manfaat bagi manusia itu sendiri khususnya maupun bagi bangsa pada umumnya. Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kualitas manusia pada suatu negara akan menentukan kualitas kebudayaan dari suatu negara tersebut, begitu pula pendidikan yang tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.

B.                 Rumusan Masalah
1.      Apa hakikat manusia sebagai makhluk budaya?
2.      Apa apresiasi terhadap kemanusiaan dan kebudayaan?
3.      Apa yang dimaksud dengan etika, esketika, dan budaya?
4.      Apa yang dimaksud dengan problematika kebudayaan?

C.                Tujuan
1.      Untuk mengetahui hakikat manusia sebagai makhluk budaya.
2.      Untuk mengetahui apresiasi terhadap kemanusiaan dan budaya.
3.      Untuk mengetahui etika, esketika, dan budaya.
4.      Untuk mengetahui apa-apa saja problematika kebudayaan.








BAB II
MANUSIA SEBAGAI MAKHLUK BUDAYA
A.                Hakikat Manusia Sebagai Budaya
1.      Pengertian Manusia
Secara bahasa manusia berasal dari kata “manu” (Sansekerta), “mens” (Latin), yang berarti berpikir, berakal budi atau makhluk yang berakal budi (mampu menguasai makhluk lain). Secara istilah manusia dapat diartikan sebuah konsep atau sebuah fakta, sebuah gagasan atau realitas, sebuah kelompok (genus) atau seorang individu.
Dalam hubungannya dengan lingkungan, manusia merupakan suatu oganisme hidup (living organism). Terbentuknya pribadi seseorang dipengaruhi oleh lingkungan bahkan secara ekstrim dapat dikatakan, setiap orang berasal dari satu lingkungan, baik lingkungan vertikal (genetika, tradisi), horizontal (geografik, fisik, sosial), maupun kesejarahan. Tatkala seoang bayi lahir, ia merasakan perbedaan suhu dan kehilangan energi, dan oleh karena itu ia menangis, menuntut agar perbedaan itu berkurang dan kehilangan itu tergantikan. Dari sana timbul anggapan dasar bahwa setiap manusia dianugerahi kepekaan (sense) untuk membedakan (sense of discrimination) dan keinginan untuk hidup. Untuk dapat hidup, ia membutuhkan sesuatu. Alat untuk memenuhi kebutuhan itu bersumber dari lingkungan.
2.      Pengertian Budaya
Kata budaya merupakan bentuk majemuk kata budi-daya yang berarti cipta, karsa, dan rasa. Sebenarnya kata budaya hanya dipakai sebagai singkatan kata kebudayaan, yang berasal dari Bahasa Sangsekerta budhayah yaitu bentuk jamak dari budhi yang berarti budi atau akal. Budaya atau kebudayaan dalam Bahasa Belanda di istilahkan dengan kata culturur. Dalam bahasa Inggris culture. Sedangkan dalam bahasa Latin dari kata colera. Colera berarti mengolah, mengerjakan, menyuburkan, dan mengembangkan tanah (bertani). Kemudian pengertian ini berkembang dalam arti culture, yaitu sebagai segala daya dan aktivitas manusia untuk mengolah dan mengubah alam.
Definisi budaya dalam pandangan ahli antropologi sangat berbeda dengan pandangan ahli berbagai ilmu sosial lain. Ahli-ahli antropologi merumuskan definisi budaya sebagai berikut: (Antropologi budaya menyelidiki seluruh cara hidup manusia, bagaimana manusia dan akal budinya dan struktur fisiknya dalam mengubah lingkungan berdasarkan pengalamannya juga memahami dan melukiskan kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat manusia)

a.       E.B. Taylor: 1871 berpendapat bahwa budaya adalah: Suatu keseluruhan kompleks yang meliputi pengetahuan, kepercayaan, seni, kesusilaan, hukum, adat istiadat, serta kesanggupan dan kebiasaan lainnya yang dipelajari manusia sebagai anggota masyarakat.
b.      Linton: 1940, mengartikan budaya dengan: Keseluruhan dari pengetahuan, sikap dan pola perilaku yang merupakan kebiasaan yang dimiliki dan diwariskan oleh anggota suatu masyarakat tertentu.
c.       Kluckhohn dan Kelly: 1945 berpendapat bahwa budaya adalah: Semua rancangan hidup yang tercipta secara historis, baik yang eksplisit maupun implisit, rasional, irasional, yang ada pada suatu waktu, sebagai pedoman yang potensial untuk perilaku manusia.
d.      Koentjaraningrat: 1979 yang mengatikan budaya dengan: Keseluruhan sistem gagasan, tindakan dan hasil karya manusia dalam rangka kehidupan masyarakat yang dijadikan milik diri manusia dengan belajar.
Berdasarkan definisi para ahli tersebut dapat dinyatakan bahwa unsur belajar merupakan hal terpenting dalam tindakan manusia yang berkebudayaan. Hanya sedikit tindakan manusia dalam rangka kehidupan bermasyarakat yang tak perlu dibiasakan dengan belajar.
Dari kerangka tersebut diatas tampak jelas benang merah yang menghubungkan antara pendidikan dan kebudayaan. Dimana budaya lahir melalui proses belajar yang merupakan kegiatan inti dalam dunia pendidikan.Selain itu terdapat tiga wujud kebudayaan yaitu :
1.      Wujud pikiran, gagasan, ide-ide, norma-norma, peraturan,dan sebagainya. Wujud pertama dari kebudayaan ini bersifat abstrak, berada dalam pikiran masing-masing anggota masyarakat di tempat kebudayaan itu hidup.
2.      Aktifitas kelakuan berpola manusia dalam masyarakat. Sistem sosial terdiri atas aktifitas-aktifitas manusia yang saling berinteraksi, berhubungan serta bergaul satu dengan yang lain setiap saat dan selalu mengikuti pola-pola tertentu berdasarkan adat kelakuan. Sistem sosial ini bersifat nyata atau konkret.
3.      Wujud fisik, merupakan seluruh total hasil fisik dari aktifitas perbuatan dan karya manusia dalam masyarakat.

B.                 Apresiasi Terhadap Kemanusiaan dan Kebudayaan
1.      Perwujudan Kebudayaan
Dari definisi tersebut dapat di peroleh pengertian mengenai kebudayaan sistem pengetahuan yang meliputi sistem ide atau gagasan yang terdapat dalam pikiran manusia, sehingga dalam kehidupan sehari-hari, kebudayaan itu bersifat abstrak. Sedangkan perwujudan kebudayaan adalah benda-benda yang di ciptakan oleh manusia sebagai makhluk yang berbudaya, berupa perilaku dan benda-benda yang bersifat nyata.
Menurut J.J. Hoeningman membagi wujud kebudayaan menjadi tiga yaitu :
a.       Gagasan (wujud ideal), wujud ideal kebudayaan adalah kebudayaan yang berbentuk kumpulan ide, gagasan, nilai, norma, peraturan dan sebagainya yang sifatnya abstrak tidak dapat di raba atau di sentuh.
b.      Aktivitas (tindakan), Aktivitas adalah wujud kebudayaan sebagai suatu tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat itu.
c.       Afertak (karya), Wujud kebudayaan fisik yang berupa hasil dari aktivitas, perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat berupa benda-benda atau hal-hal yang dapat di raba, di lihat dan di dokumentasikan.
Sifatnya konkret di antara ketiga wujud kebudayaan. Koentjaraningrat membagi wujud kebudayaan menjadi tiga pula, yaitu :
a.       Wujud sebagai suatu kompleks dari ide-ide, gagasan, nilai-nilai, norma-norma dan peraturan lain.Wujud tersebut menunjukan ide dari kebudayaan, sifatnya abstrak tak dapat di raba, di pegang, ataupun di foto, dan tempatnya ada di dalam pikiran warga masyarakat di mana kebudayaan yang bersangkutan itu hidup.
b.      Wujud kebudayaan sebagai suatu kompleks aktivitas serta tindakan berpola dari manusia dalam masyarakat.Wujud tersebut di namakan sistem sosial, karena menyangkut tindakan dan kelakuan berpola dari manusia itu sendiri. Wujud ini bisa di observasi, di foto dan di dokumentasikan karena dalam sistem sosial ini terdapat aktivitas-aktivitas manusia yang berinteraksi.
c.       Wujud kebudayaan sebagai benda-benda hasil karya manusia. Wujud ini di sebut pula kebudayaan fisik. Di mana wujud ini hampir seluruhnya merupakan hasil fisik (aktivitas perbuatan dan karya semua manusia dalam masyarakat.

2.      Unsur Kebudayaan
Tujuh unsur kebudayaan yang bersifat universal :
1.      Sistem peralatan dan perlengkapan hidup (teknologi)
2.      Sistem mata pencaharian hidup
3.      Sistem kemasyarakatan atau organisasi social
4.      Bahasa
5.      Kesenian
6.      Sistem pengetahuan
7.      Sistem religi

Manusia merupakan pencipta kebudayaan karena manusia di anugrahi akal dan budi daya. Dengan akal dan budi daya itulah manusia menciptakan dan mengembangkan kebudayaan. Terciptanya kebudayaan adalah hasil interaksi manusia dengan segala isi alam raya ini. Hasil interaksi binatang dengan alam sekitar tidak membentuk kebudayaan, tetapi hanya menghasilkan pembiasaan saja. Hal ini karena binatang tidak di bekali akal budi, tetapi hanya nafsu dan naluri tingkat rendah.
Karena manusia adalah pencipta kebudayaan maka manusia adalah makhluk berbudaya. Kebudayaan adalah ekspresi eksitensi manusia di dunia. Dengan kebudayaannya, manusia mampu menampakkan jejak-jejaknya dalam pangggung sejarah dunia.

3.      Hubungan manusia dan kebudayaan
Dipandang dari sudut antropologi, manusia dapat ditinjau dari 2 segi yaitu :
a.       Manusia sebagai makhluk biologis
b.      Manusia sebagai makhluk sosio-budaya
Sebagai mahluk biologi, manusia di pelajari dalam ilmu biologi atau anatomi; dan sebagai mahluk sosio-budaya manusia dipelajari dalam antropologi budaya. Antropologi budaya menyelidiki seluruh cara hidup manusia, bagaimana manusia dan akal budinya dan struktur fisiknya dalam mengubah lingkungan berdasarkan pengalamannya juga memahami dan melukiskan kebudayaan yang terdapat dalam masyarakat manusia.
Akhirnya terdapat konsepsi tentang kebudayaan manusia yang menganalisa masalah-masalah hidup sosial-kebudayaan manusia. Konsepsi tersebut ternyata memberi gambaran kepada kita bahwasanya hanya manusialah yang mampu berkebudayaan. Sedang pada hewan tidak memiliki kemampuan tersebut. Mengapa hanya manusia saja yang memiliki kebudayaan? Hal ini dikarenakan manusia dapat belajar dan dapat memahami bahasa, yang semuanya itu bersumber pada akal manusia.


C.                Etika dan Esketika dan Kebudayaan

a.       Etika manusia dalam berbudaya
Etika berasal dari bahasa Yuniani, ethos. Ada 3 jenis makna etika menurut Bertens :
1.      Etika dlam arti nilai-nilai atau norma yang menjadi pegangan bagi seseorang atau kelompok orang dalm mengatur tingkah laku.
2.      Etika dalam arti kumpulan asas atau nilai moral ( kode etik)
3.      Etika dalam arti ilmu atau ajaran tentang baik dan buruk ( filsafat moral)
Manusia beretika, akan menghasilkan budaya yang beretika. Etika berbudaya mengandung tuntutan bahwa budaya yang diciptakan harus mengandung niali-nilai etik yang bersifat universal. Meskipun demikian suatu budaya yang dihasilkan memenuhi nilai-nilai etik atau tidak bergantung dari paham atau ideologi yang diyakini oleh masyarakat.

b.       Estetika manusia dalam berbudaya
Estetika dapat dikatakan sebagi teori tentang keindahan atau seni, Estetika berkaitan dengan nilai indah-jelek. Makna keindahan :
a.       secara luas, keindahan mengandung ide kebaikan
b.       secara sempit, yaitu indah dalam lingkup persepsi penglihatan ( bentuk dan warna)

secara estetik murni, menyangkut pengalaman estetik sesorang dalam hubungannya dengan segala ssuatu yang diresapinya melalui indera. Estetika berifat subyektif,sehingga tidak bisa dipaksakan. Tetapi yang penting adalah menghargai keindahan budaya yang dihasilkan oleh orang lain.


D.    Problematika Kebudayaan
1.      hambatan budaya yang berkaitan dengan pandangan hidup dan sistem kepercayaan. Keterkaitan orang jawa terhadap tanah yang mereka tempati secara turun temurun di yakini sebagai pemberi berkah kehidupan. Mereka enggan meninggalkan kampung halaman nya atau beralih pola hidup sebagai petani. Padahal hidup mereka umum nya miskin.
2.      hambatan budaya yang berkaitan dengan perbadaan persepsi atau sudut pandang hambatan budaya yang berkaitan dengan perbedaayn persepsi atau sudut pandang ini dapat terjadi antara masyarakat dan pelaksana pembangunan. Conton nya: program keluarga berencana atau KB semula di tolak masyarakat,mereka beranggapan bahwa banyak anak banyak rezeki.
3.      Hambatan budaya berkaitan dengan faktor psikologi dan kejiwaan. Upaya untuk menstranmigrasi penduduk dari daerah yang terkena bencana alam banyak mengalami kesulitan. Hal ii di sebabkan karena adanya kekhawatiran penduduk bahw di tempat yang baru kehidupn mereka akan lebih sengsara di bandingkan dengan hidup mereka ditempat yang lama.
4.      masyarakat yang terasing dan kurang komunikasi dangan masyarakat luar. Masyarakat daerah-daerah terpencil yang kurang komuikasi dengan masyaraakat luar,karena pengetahuannya serba teratas, seolah-olah teetutup untuk menerima program-program pembangunan.
5.      siap tradisionalisme yang berprasangka buruk terhadap hal-hal baru. Sikap ini sangat mengagung-agungkan budya tradisional sedemiian rupa,yang menganggap hal-hal baru itu akan merusak tatanan hidup mereka yang sudah mereka miliki secara turun-temurun.
6.      sikap etnosentrisme, Sikap etnosentrisme adalah sikap yang mengagung-agungkan budaya suku bangsa sendiri dan menganggap rendah budaya suku bangsa lain.
7.      perkembangan IPTEK sebagai hasil dari kebudayaan,sering di salahgunakan oleh manusia,sebagai contoh nuklir dan bom di buat justru untuk menghancurkan manusia bukan untuk melestarikan suatu generasi,obat-obatan di ciptakan untuk kesehatan tetapi justru mengganggu kesehatan manusia.

BAB III
PENUTUP
A.    Kesimpulan
Manusia sebagai makhluk yang berbudaya tidak lain adalah makhluk yang senantiasa mendayagunakan akal budinya untuk menciptakan kebahagiaan, karena yang membahagiakan hidup manusia itu hakikatnya sesuatu yang baik, benar dan adil, maka hanya manusia yang selalu berusaha menciptakan kebaikan, kebenaran dan keadilan sajalah yang berhak menyandang gelar manusia berbudaya.
Dengan demikian dapat kita katakan bahwa kualitas manusia pada suatu negara akan menentukan kualitas kebudayaan dari suatu negara tersebut, begitu pula pendidikan yang tinggi akan menghasilkan kebudayaan yang tinggi. Karena kebudayaan adalah hasil dari pendidikan suatu bangsa.
B.     Saran
Pada dasarnya, hakikat manusia merupakan dasar pembentukan jati diri manusia. Namun, dewasa ini hakikat manusia hampir tidak dimiliki oleh semua manusia. Oleh karena itulah kami menyusun makalah ini. adapun hala yang ingin kami capai adalah;
1.      Pembaca dapat mengembangkan mengenai hakikat manusia sebagai makhluk budaya.
2.      Pembaca dapat mengapresiasikan hakikat manusia sebagai makhluk budaya.
3.      Pembaca memahami dan memberikan tanhggapan mengenai hakikat manusia sebagai makhluk budaya.
4.      Mampu menyelesaikan problematika kebudayaan.