inilah aku...
Aku tak biasa menuliskan kisah hidupku untuk dibaca orang lain. Sebab,
tiada yang menarik untuk diceritakan. Hanya kepedihan, duka lara yang mencoret
lembaran-lembaran kisah hidupku. Tapi hari ini aku berubah pikiran, semua itu
akan aku singkap melalui tulisan penuh makna, penuh harapan agar orang
mengerti, bahwa aku ini bukan seperti yang mereka bayangkan, aku ingin hidup
normal seprti mereka, tanpa ada perbuatan-perbuatan yang melanggar norma. Aku
ingin menjadi anak yang baik dimata semua orang. Tapi aku malah mengawali
semuanya dengan kebodohan. Aku terperosok dalam jurang kesengsaraan, kemudian
terjebak didalamnya. Sampai saat ini aku berusaha keluar dari jurang kegelapan
itu. Aku tertipu dengan keadaan, aku kira kesengsaraan, duka, dan lara bisa
dihapus dengan kesenangan. tapi aku salah, aku benar-benar bodoh waktu itu. efeknya
sekarang, hanya ada penyesalan. Tapi entah apa hikmah dari problem yang ku
hadapi ini. mari sama-sama kita simak bagaimana perjuanganku menghadapi
problematik hidupku. Thats me, its my life
Waktu itu, aku baru beranjak dewasa. Dimana masa-masa tumbuh berkembangnya
hormon-hormon kedewasaan. aku Berharap mendapatkan kisah yang indah, punya
pacar yang cantik, punya uang banyak, dan sebagainya. Tapi, semua hasratku
sirna setelah masalah sialan itu datang. Kisah berawal.....
Malam itu hujan. sejak maghrib Mama masih dikamar bersama ayah, terdengar
ribut sekali dari kamar mereka. Entah apa yang mereka permasalahkan. Tapi aku
tidak ambil open, aku keluar rumah mencari sensasi. “itukan masalah mereka biar
saja mereka selesaikan sendiri masalah mereka”, ujarku dalam hati.
Hujan semakin deras, malampun semakin larut. Aku pulang, menerobos angin
yang melayangkan air-air langit kewajahku. Berlari membelah aspal yang
tergenang. Sampai dirumah aku dikagetkan oleh seorang perempuan yang duduk
manis di kursi tamu. Rambutnya terurai panjang, membengkok kebelakang
telinganya. aku senyum menyapanya sambil berjalan keruang tengah, diapun
membalas senyumku.
Suasana hening diruang tengah. Adikku, Putri. Menangis terisak disudut
tembok. Tapi aku tidak melihat mama. adikku memberi tahu bahwa mama pergi dari
rumah karena perempuan itu. katanya perempuan itu akan menginap semalam
dirumahku. Darahku mendidih mendengarnya. Aku mendatangi ayah yang sudah berada
diruang tamu bersama perempuan itu. sempat aku bertengkar, aku memaksa ayah
untuk menjelaskan apa artinya semua ini. tapi ayah terus menyangkal bahwa semua
ini adalah salah paham. Mamaku pergi karena egois. kata ayah mama terlalu
cemburu, padahal itu adalah teman kerja ayah. Aku terdiam, bingung siapa yang
benar dan siapa yang salah.
Keesokan hari aku pergi sekolah. Rasanya aku tidak bersemangat untuk pergi.
diKepalaku masih bergeliut permasalahan kedua orang tuaku. Rupanya pagi itu
mama sudah kembali dan mengusir perempuan itu. tak terhindarkan bentrok kembali
terjadi antara mama dan ayah. Kepalaku pusing menyaksikannya. Andai aku tau,
aku pasti bisa membuat tindakan. Tapi aku tak tau siapa sebenarnya yang salah.
Aku tak tahu siapa yang harus ku bela. Dan aku tidak dapat mengetengahi mereka
berdua. Aku lemah, waktu itu prinsip aku masa bodo dengan hal-hal seperti ini.
aku lebih suka menghindar dari masalah.
Sejak itu aku jarang pulang kerumah, aku lebih suka menginap dirumah teman
daripada pulang kerumah.
Hari-hari kulewati bagai bunga yang layu. Tiada keindahan lagi yang
kutemui. Sampai bertemunya aku dengan seorang teman yang merubah hidupku. Namanya
Farid (samaran), dia membawaku kedunia yang penuh kesenangan. dia yang
mengajarkanku cara merokok dengan baik
dan benar. Awalnya aku sangat membenci orang yang merokok, apa lagi dengan
rokoknya. Aku pernah bersumpah jika aku merokok maka aku tidak akan berhenti merokok
sampai aku mati karena rokok. Tapi karena hidup yang sialan ini menjadikan
sumpahku termakan. Aku perokok sekarang. Haaah bodo’.
Sejak bersama Farid masalahku sedikit terlupakan. Dia sangat mengerti apa
yang aku rasakan ketika itu. Farid sering membawaku jalan-jalan ketempat
hiburan, gabung bareng teman-temannya dan sebagainya. Aku merasa mulai
menikmati indahnya hidup.
Semakin hari aku semakin lupa dengan masalah ku. Sampai-sampai aku lupa
bahwa aku masih punya keluarga. Waktu itu Farid berkata padaku “ngapain kamu
ingat mereka, mereka aja lupa sama kamu”. Hatiku bergetar saat mendengarnya. Yang
dikatakan Farid benar, mereka lupa padaku.
Hampir 3 bulan rumah tangga keluargaku dalam masalah, masih pada masalah
yang sama. Mama memaksa ayah untuk mengakui bahwa ayaah mempunyai hubungan
dengan wanita waktu itu. Tapi tetap saja ayah menyangkalnya. Akibatnya, Rumahku
bagai neraka, penuh keributan-keributan, jerit dan tangis, teriak dan bentak
oleh penghuninya.
Aku semakin geram dan suntuk. Akhirnya aku mencari hal yang baru. Pucuk dicinta
ulampun tiba. Farid datang membawa sebotol minuman. Bentuknya gepeng. Ada tulisan
“scott” di kedua sisi botolnya. Farid menwarkannya
padaaku, tapi aku menolak. Aku berfikir jika aku minum dan setelah itu mati
pasti aku langsung dimasukkan keneraka jahannam. Yaa, aku masih ingat dosa kala
itu, tapi pada akhirnya juga aku mencoba minuman kesukaan ibliss itu. rasanya
pahit. Sakit sekali waktu menelaannya. Jika aku bayangkan, lebih baik minum
kencing sendiri. Tapi nikmatnya di akhiran bro, aku fly..... aku terbang....,
aku bebas.... tanpa beban. Fly..... zzzzzzt...
Saat itu mabuk adalah kebutuhan yang harus kupenuhi, jika tidak rasanya
bagai nyayur gak pake sayur. Haha gitulaah kira-kira.
Aku pergi membeli minuman, tempatnya kaya di tv-tv gitu, ada
musik-musiknya, ada cewek-ceweknya. Daan om-om hidung belangnya. Entah bagaimana
aku memainkan asap rokok, bulat-bulat kaya donat, dan ketika pandanganku terfokus
pada bulatan asap itu aku melihat ayah sedang berduaan dengan seorang wanita.
aku benar-benar kaget. Ingin sekali aku menghajarnya. Tapi aku tahan, karena
dia tidak melihaatku. Aku pulang, dan mengatakan apa yang kulihat kepada mama.
sore itu aku, mama, dan adik perempuanku menunggu kepulangan ayah yang katanya
lagi kerja.
Ayah pulang, dengan wajah tanpa dosanya ia masuk kerumah tanpa perdulikan
kami. Dengan nada yang marah aku memanggilnya, dan saat aku bertanya tentang
kejadian di kede minuman ayah menyangkal dan balik marah-marah padaku. Spontan darahku
naik, tanganku yang keccil menarik kerah bajunya. Kepalan tangan berisi sejuta
kemarahan kulayangkan berkali-kali mengenai wajahnya. Darah menyucur keluar. Tak
puas sampai disitu aku mengambil sebuah obeng di atas meja yang tak jauh dari
tempat aku berdiri. Ku luncurkan kearah perut bagian kanan ayah. Tapi ayah
tahan serangan itu,iaa mengeggam tanganku keras sekali. Mataku berubah merah,
penuh amarah yang menjadi-jadi, menggebu bagai api. Ingin sekali aku segera
membunuhnya. Aku menjerit histeris sambil mengayunkan obeng itu kembali. Dan ayah
tak mampu menahahan ayunan tanganku. Ia terjatuh. Kemudian........
To be continued
Tidak ada komentar:
Posting Komentar