Daftar Blog Saya

Kamis, 25 Oktober 2012

cerpen bodo'




 inilah aku...
Aku tak biasa menuliskan kisah hidupku untuk dibaca orang lain. Sebab, tiada yang menarik untuk diceritakan. Hanya kepedihan, duka lara yang mencoret lembaran-lembaran kisah hidupku. Tapi hari ini aku berubah pikiran, semua itu akan aku singkap melalui tulisan penuh makna, penuh harapan agar orang mengerti, bahwa aku ini bukan seperti yang mereka bayangkan, aku ingin hidup normal seprti mereka, tanpa ada perbuatan-perbuatan yang melanggar norma. Aku ingin menjadi anak yang baik dimata semua orang. Tapi aku malah mengawali semuanya dengan kebodohan. Aku terperosok dalam jurang kesengsaraan, kemudian terjebak didalamnya. Sampai saat ini aku berusaha keluar dari jurang kegelapan itu. Aku tertipu dengan keadaan, aku kira kesengsaraan, duka, dan lara bisa dihapus dengan kesenangan. tapi aku salah, aku benar-benar bodoh waktu itu. efeknya sekarang, hanya ada penyesalan. Tapi entah apa hikmah dari problem yang ku hadapi ini. mari sama-sama kita simak bagaimana perjuanganku menghadapi problematik hidupku. Thats me, its my life

Waktu itu, aku baru beranjak dewasa. Dimana masa-masa tumbuh berkembangnya hormon-hormon kedewasaan. aku Berharap mendapatkan kisah yang indah, punya pacar yang cantik, punya uang banyak, dan sebagainya. Tapi, semua hasratku sirna setelah masalah sialan itu datang. Kisah berawal.....
Malam itu hujan. sejak maghrib Mama masih dikamar bersama ayah, terdengar ribut sekali dari kamar mereka. Entah apa yang mereka permasalahkan. Tapi aku tidak ambil open, aku keluar rumah mencari sensasi. “itukan masalah mereka biar saja mereka selesaikan sendiri masalah mereka”, ujarku dalam hati.
Hujan semakin deras, malampun semakin larut. Aku pulang, menerobos angin yang melayangkan air-air langit kewajahku. Berlari membelah aspal yang tergenang. Sampai dirumah aku dikagetkan oleh seorang perempuan yang duduk manis di kursi tamu. Rambutnya terurai panjang, membengkok kebelakang telinganya. aku senyum menyapanya sambil berjalan keruang tengah, diapun membalas senyumku.
Suasana hening diruang tengah. Adikku, Putri. Menangis terisak disudut tembok. Tapi aku tidak melihat mama. adikku memberi tahu bahwa mama pergi dari rumah karena perempuan itu. katanya perempuan itu akan menginap semalam dirumahku. Darahku mendidih mendengarnya. Aku mendatangi ayah yang sudah berada diruang tamu bersama perempuan itu. sempat aku bertengkar, aku memaksa ayah untuk menjelaskan apa artinya semua ini. tapi ayah terus menyangkal bahwa semua ini adalah salah paham. Mamaku pergi karena egois. kata ayah mama terlalu cemburu, padahal itu adalah teman kerja ayah. Aku terdiam, bingung siapa yang benar dan siapa yang salah.
Keesokan hari aku pergi sekolah. Rasanya aku tidak bersemangat untuk pergi. diKepalaku masih bergeliut permasalahan kedua orang tuaku. Rupanya pagi itu mama sudah kembali dan mengusir perempuan itu. tak terhindarkan bentrok kembali terjadi antara mama dan ayah. Kepalaku pusing menyaksikannya. Andai aku tau, aku pasti bisa membuat tindakan. Tapi aku tak tau siapa sebenarnya yang salah. Aku tak tahu siapa yang harus ku bela. Dan aku tidak dapat mengetengahi mereka berdua. Aku lemah, waktu itu prinsip aku masa bodo dengan hal-hal seperti ini. aku lebih suka menghindar dari masalah.
Sejak itu aku jarang pulang kerumah, aku lebih suka menginap dirumah teman daripada pulang kerumah.
Hari-hari kulewati bagai bunga yang layu. Tiada keindahan lagi yang kutemui. Sampai bertemunya aku dengan seorang teman yang merubah hidupku. Namanya Farid (samaran), dia membawaku kedunia yang penuh kesenangan. dia yang mengajarkanku cara  merokok dengan baik dan benar. Awalnya aku sangat membenci orang yang merokok, apa lagi dengan rokoknya. Aku pernah bersumpah jika aku merokok maka aku tidak akan berhenti merokok sampai aku mati karena rokok. Tapi karena hidup yang sialan ini menjadikan sumpahku termakan. Aku perokok sekarang. Haaah bodo’.
Sejak bersama Farid masalahku sedikit terlupakan. Dia sangat mengerti apa yang aku rasakan ketika itu. Farid sering membawaku jalan-jalan ketempat hiburan, gabung bareng teman-temannya dan sebagainya. Aku merasa mulai menikmati indahnya hidup.
Semakin hari aku semakin lupa dengan masalah ku. Sampai-sampai aku lupa bahwa aku masih punya keluarga. Waktu itu Farid berkata padaku “ngapain kamu ingat mereka, mereka aja lupa sama kamu”. Hatiku bergetar saat mendengarnya. Yang dikatakan Farid benar, mereka lupa padaku.
Hampir 3 bulan rumah tangga keluargaku dalam masalah, masih pada masalah yang sama. Mama memaksa ayah untuk mengakui bahwa ayaah mempunyai hubungan dengan wanita waktu itu. Tapi tetap saja ayah menyangkalnya. Akibatnya, Rumahku bagai neraka, penuh keributan-keributan, jerit dan tangis, teriak dan bentak oleh penghuninya.
Aku semakin geram dan suntuk. Akhirnya aku mencari hal yang baru. Pucuk dicinta ulampun tiba. Farid datang membawa sebotol minuman. Bentuknya gepeng. Ada tulisan “scott” di kedua sisi botolnya. Farid menwarkannya padaaku, tapi aku menolak. Aku berfikir jika aku minum dan setelah itu mati pasti aku langsung dimasukkan keneraka jahannam. Yaa, aku masih ingat dosa kala itu, tapi pada akhirnya juga aku mencoba minuman kesukaan ibliss itu. rasanya pahit. Sakit sekali waktu menelaannya. Jika aku bayangkan, lebih baik minum kencing sendiri. Tapi nikmatnya di akhiran bro, aku fly..... aku terbang...., aku bebas.... tanpa beban. Fly..... zzzzzzt...
Saat itu mabuk adalah kebutuhan yang harus kupenuhi, jika tidak rasanya bagai nyayur gak pake sayur. Haha gitulaah kira-kira.
Aku pergi membeli minuman, tempatnya kaya di tv-tv gitu, ada musik-musiknya, ada cewek-ceweknya. Daan om-om hidung belangnya. Entah bagaimana aku memainkan asap rokok, bulat-bulat kaya donat, dan ketika pandanganku terfokus pada bulatan asap itu aku melihat ayah sedang berduaan dengan seorang wanita. aku benar-benar kaget. Ingin sekali aku menghajarnya. Tapi aku tahan, karena dia tidak melihaatku. Aku pulang, dan mengatakan apa yang kulihat kepada mama. sore itu aku, mama, dan adik perempuanku menunggu kepulangan ayah yang katanya lagi kerja.
Ayah pulang, dengan wajah tanpa dosanya ia masuk kerumah tanpa perdulikan kami. Dengan nada yang marah aku memanggilnya, dan saat aku bertanya tentang kejadian di kede minuman ayah menyangkal dan balik marah-marah padaku. Spontan darahku naik, tanganku yang keccil menarik kerah bajunya. Kepalan tangan berisi sejuta kemarahan kulayangkan berkali-kali mengenai wajahnya. Darah menyucur keluar. Tak puas sampai disitu aku mengambil sebuah obeng di atas meja yang tak jauh dari tempat aku berdiri. Ku luncurkan kearah perut bagian kanan ayah. Tapi ayah tahan serangan itu,iaa mengeggam tanganku keras sekali. Mataku berubah merah, penuh amarah yang menjadi-jadi, menggebu bagai api. Ingin sekali aku segera membunuhnya. Aku menjerit histeris sambil mengayunkan obeng itu kembali. Dan ayah tak mampu menahahan ayunan tanganku. Ia terjatuh. Kemudian........

To be continued

Tidak ada komentar:

Posting Komentar