Daftar Blog Saya

Selasa, 30 Oktober 2012

Opini

Kota Pening Lalat, Kota Sampah
oleh: Fahrizul Ikram


Betapa indahnya kota ini tanpa ada sampah yang menumpuk, sampah yang berserak, dan bau busuk sampah yang menyengat. Diantara ruko-ruko yang berjejeran disepanjang jalan terdapat tempat pembuangan sampah yang telah disediakan. Ada yang berupa tempat sampah organik dan ada juga tempat sampah anorganik. Terlihat pedagang kaki lima antusias membersihkan barang dagangannya, partisipasinya begitu besar dalam menjaga kebersihan. Setiap barang-barang dagangannya yang telah menjadi sampah, mereka buang pada tempat yang telah disediakan itu. mereka dapat memilah, mana sampah organik dan mana sampah anorganik. Artinya dikota ini telah diterapkan slogan “5K”. Para masyarakat kota tersebut sangat peduli terhadap lingkungan. Sejauh mata memandang, tiada lagi terlihat yang namanya sampah. Hanya keasrian kota yang nyaman, bersih, tertib, dan rapi. Becak-becak bermotor terparkir rapi pada area yang telah disediakan. Kendaraan berlalu-lalang dengan tertib dan teratur. Tidak ada pengendara yang saling mendahului. Para pejalan kaki, berjalan dengan nyaman diatas torotoar yang sejuk dibayangi bayang-bayang pohon yang rindang. Tapi sayang, saat saya membuka mata, semuanya berubah. Bahkan jauh berubah dari yang saya lihat sebelumnya. Saya baru menyadari, ternyata saya sedang bermimpi dalam kedipan mata saja. Dimana-mana berserakan sampah-sampah pelastik, kantong-kantong kresek, dan beraneka ragam sampah lainnya. Becak-becak bermotor terparkir bergelimpangan sampai-sampai merembes kesisi tengah jalan. Klakson mobil berdengung memekik garang. Asap kendaraan yang hitam mengepul mengudara. Polusi dimana-mana. Ditambah lagi kepadatan orang-orang yang berjalan menyisiri kota terlihat bagai koloni semut yang kehilangan arah menuju sarangnya. Semua terlihat sangat mengerikan. Seperti inikah yang dinamakan sebuah Kota? mungkin Benar, Kota sampah namanya.
Ini merupakan sebuah gambaran, betapa buruknya keadaan lingkungan kita. Memang banyak orang yang menyadari bahwa sampah itu jorok dan menjijikan. Tapi belum ada kesadarannya untuk berbenah, menanggulangi, menjaga kebersihan dan berpartisipasi dalam menjaga lingkungan yang bersih dan rapi. Bisa kita lihat dibeberapa kota yang katanya adalah kota yang bersih. Kota yang menerapkan kebersihan ligkungan. Dikota itu banyak kita jumpai slogan-slogan kebersihan yang terpampang dimana-mana. Tapi ternyata tidak pada kenyataannya. Upaya-upaya yang dilakukan Pemda setempat bisa dikatakan “gatot”, jika hanya berharap kepada petugas kebersihan saja. Adapun baksos yang banyak dilakukan oleh pelajar, mahasiswa dan organisasi-organisasi, hanya ikut menyemarakkan saja. Saya berpendapat bahwa itu adalah pekerjaan yang sia-sia. Membuang-buang waktu dan tenaga. Tetapi kalau setiap hari mereka lakukan itu baru besar pengaruhnya terhadap kebersihan lingkungan. Namun jka hanya satu hari saja, itu hanya meringankan pekerjaaan petugas kebersihan. Pengaruhnya kecil sekali. Meski begitu, kegiatan ini dilakukan sangat minim. Hanya ada pada hari-hari tertentu saja. Misalnya pada kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS), Ospek dan lain sebagainya.
Seorang petugas kebersihan berkata saat saya wawancarai, “kalau saya diberi pekerjaan lain, sudah lama saya tinggalkan pekerjaaan ini.” begitu ujar pria berinisial Ar itu. ketika saya tanyakan kenapa, ia menjawab bahwa pekerjaan itu tidak sesuai dengan pendapatannya. Ternyata petugas kebersihan melakukan pekerjaan itu dengan terpaksa. Dan pada saat saya masuk pada inti pertanyaan saya, “jika saudara tidak lagi bekerja sebagai petugas kebersihan, apakah saudara mau menjaga kebersihan sebagai mana biasanya saudara memungut sampah-sampah yang tidak pada tempatnya?”. Jawabnya santai sekali, tapi penuh makna. “bangai that lah long, menyoe long tem”. Kata lelaki berdarah Aceh-Tamiang tersebut. Tapi, meskipun para petugas kebersihan mengeluh dengan banjirnya sampah yang terus menumpuk baik itu yang berada pada tempatnya ataupun yang masih berserakan dijalanan tapi tetap saja belum ada kesadaran untuk ikhlas menjaga kebersihan lingkungan. Bisa kita tebak, jika saja para petugas kebersihan ini tidak digaji, mana mungkin mereka rela berjalan diantara sampah-sampah yang bau, dikerubungi lalat, dan dipenuhi belatung, kemudian mengaisnya dan memasukkannya kedalam keranjang sampah.
Jika saja sampah, berupa apapun itu, baik yang berupa organik maupun anorganik dihargai oleh Pemda setempat, saya yakin kota ini bersih dari sampah. Setiap sampah yang mereka temukan dihargai pemerintah dengan harga yang pantas. Bahkan saya yakin ditempat-tempat sampah tidak ada lagi sampah yang menumpuk. Ditempat-tempat pembuangan sampah tidak lagi dipenuhi sampah, tapi digantikan orang-orang yang memungut sampah untuk dijual. Seperti pada realitanya, sampah-sampah yang berupa plastik seperti botol-botol air mineral, kardus dan besi, dan sebagainya licin di tempat pembuangan sampah. Para pemulung sigap bersaing dengan pemulung lain berebut untuk mendapatkan sampah-sampah berharga tersebut. Bisa kita lihat, para pemulung bersedia menunggu untuk sampah-sampah baru, yang dibuang oleh Dinas Kebersihan ditempat penumpukkan sampah. Tak perduli dengan keadaaan sampah yang bau, dipenuhi belatung, yang menurut kita itu sangat menjijikan. Tapi mereka rela, “demi sesuap nasi” kata salah seorang dari pemulung itu.
Realita yang saya sebutkan diatas, sangat jelas gambarannya. Jadikan setiap sampah itu berharga. Kebersihan kota bisa tercapai jika pemerintah melakukan upaya tersebut. Selanjutnya, setiap sampah yang telah dibeli oleh Pemda setempat dikirim kepusat pembuangan sampah kota. Jika upaya seperti ini dilakukan mungkin sangat berdampak positif untuk kebersihan lingkungan. Karena dimata masyarakat saat ini, uang adalah segalanya. Sedangkan masyarat ekonomi menengah keatas saja rela melakukan apa saja untuk memporoleh rupiah, apalagi masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Saya yakin semua orang berebut dengan sampah yang saat ini tidak ada harganya sama sekali. Apabila upaya ini dilakukan, tidak hanya berdampak bagus terhadap lingkungan, tetapi secara tidak sengaja Pemda memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan. Agen-agen sampah sedikit demi sedikit bermunculan. Dan dalam tempo yang singkat banyak tokeh-tokeh sampah yang sukses karena sampah.
Atau jika pemerintah takut rugi karena tidak mendapatkan keuntungan materi dari sampah tersebut, pemerintah bisa mencari solusi lain yang menguntungkan dan berdampak besar terhadap kebersihan kota. Yaitu dengan memberikan sanksi kepada pelaku-pelaku yang tidak bertanggung jawab dengan sampah. Jika pelaku-pelaku yang tidak bertanggung jawab terhadap sampah tersebut kedapatan membuang sampah tidak pada tempatnya dikenakan sanksi hukuman penjara atau membayar denda sekian rupiah misalnya. Namun denda yang dikenakan jangan tanggung-tanggung, sebaiknya dalam jumlah yang besar meskipun hanya untuk sampah sekecil bungkus permen sekalipun. Agar pelaku-pelaku tersebut jera. Tapi upaya ini harus dalam pengawasan yang ketat agar tidak terjadi penggelapan uang-uang dari denda yang dibayar oleh tersangka pembuang sampah sembarangan. Sehingga uang dari denda tersebut bersih masuk ke khas daerah.
Dari solusi-solusi yang saya sampaikan diatas mungkin banyak terdapat kekurangan-kekurangan, pembaca yang budiman bisa berkomentar dalam hati saja. Tapi alangkah lucunya, mengapa harus melakukan hal seperti itu jika masih ada hal yang sangat alternative yang bisa dilakukan. Yaitu kesadaran untuk peduli lingkungan. Ikhlas, memungut sampah yang tidak pada tempatnya. Bersama-sama melakukan bakti sosial minimal seminggu sekali.  Tapi untuk menyadadarkan seseorang itu sangat susah untuk dilakukan. Apalagi orang yang memiliki otak sperti sampah. Perasaannya busuk layaknya sampah yang yang busuk. Hatinya kotor dihinggapi bintik-bintik kemalasan, ketakperdulian, dan keacuhannya terhadap lingkungan. Layaknya lalat yang menghinggapi sampah-sampah busuk yang kemudian melahirkan belatung untuk menambah kebusukannya.
Yang perlu ditanyakan saat ini adalah, apa yang menyebabkan sampah-sampah itu berserakan dimana-mana? Apakah fasilitas tempat pembuangan sampah yang disediakan dinas kebersihan itu kurang? Atau kita yang tidak punya pikiran sehingga membuang sampah sembarangan. Pemda setempat mengeluarkan banyak biaya untuk menanggulangi sampah-sampah itu, truk-truk sampah diberikan kepada dinas kebersihan, program-program pemberian tong sampah organik dan anorganik secara Cuma-Cuma, lain lagi untuk gaji pegawai kebersihannya. Tapi dari tahun ketahun hasilnya tetap NIHIL. Tidak ada alasan yang logis untuk menyangkal mengapa kita membuang sampah tidak pada tempatnya. Kecuali jika Pemda setempat mengeluarkan UU yang menyatakan membuang sampah pada tempatnya dikenakan biaya.
Jika Pemda setempat tidak bertindak lebih tegas, maka beberapa tahun kedepan kita bisa menjadi kota pengekspor sampah terbesar didunia. Mungkin ini hal yang membanggakan untuk kita sebagai  makhluk sampah.
Maka mulailah dari hal yang paling kecil untuk menjaga lingkungan kita dari sampah. Tempat sudah disediakan mengapa kita masih membuangnya sesuka hati kita. Semua orang tahu seberapa besar dampaknya jika lingkungan kita tercemari dengan sampah, bahkan kita sudah merasakan saat ini. tapi tetap saja tidak ada kesadaran untuk menjaga kebersihan. Untuk itu marilah bersama-sama, memulai dari sekarang, membuang sampah pada tempatnya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar