Ratapan Cinta Auda
oleh: Fahrizul Ikram

Setelah berjalan
menapak aspal menuju taman sambil menenteng sebuah buku yang tersusun dari
lembaran-lembaran yang tak menyatu. Aku duduk diatas ayunan yang bergantung
diatas sebuah dahan kayu. Sebuah pohon rindang yang menghijaukan halaman
rumahku. Sore itu benar-benar sepi.
Tiada aku melihat anak-anakku yang canti-cantik dan manis-manis. Entah dimana
mereka berada, bermain diantara luas halaman rumahku. Meski hari ini adalah
hari minggu tetapi suamiku tetap bekerja, hari-hariku bersamanya sangat
singkat. Bahkan bisa dihitung beberapa jam saja kami bertemu karena kesibukkan
masing-masing. Aku kasihan melihat anak-anak yang jarang sekali mendapat
perhatian ayahnya. Kadang aku serampangan dalam hati, seolah menyesal menikahi
laki-laki yang super sibuk seperti dia. Tapi,disisi lain aku mempunyai perasaan
yang susah diungkapkan. Sampai sekarang aku tidak pernah mengatakan cinta
kepadanya. Karena aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak. Tapi
bagaimanapun dia adalah suamiku, meski sesibuk itu demi menghidupi aku dan
anak-anakku.
Aku telah lama
mengenalnya. Dia orang yang setia, tapi ketika itu sangat sulit bagiku untuk
menerimanya. Mungkin karena dia adalah orang yang aku sayang. Sebab aku takut
cinta akan memutuskan ikatan persahabatan yang telah lama kami bena. Daffa
namanya. Dia sahabatku dari kecil, dan entah bagaimana bisa sampai menjadi
pendamping hidup. Sebenarnya kami bertiga, tapi yang ketiga itu hanyut terbuai
dalam cinta sehingga persahabatan yang jauh lebih berharga tidak berarti
dimatanya. Namanya Nurul. Meski cantik tapi sikapnya terlalu kasar. Meskipun
kami selalu mengalah dan mencoba untuk mengerti dia, tapi justru dia tidak
menghargainya.
Hmm, terasa
kesejukkan dan kelembutan angin yang berhembus. Ku lihat disekeliling, sepi
tanpa ada selain aku dan benda-benda yang bersuara diterpa angin. Tiba-tiba
saja aku tersenyum, melihat kertas-kertas berharga yang dari tadi aku letakkan
dipangkuanku. Tercoret di lembaran pertama, “BBF Aurel, Nurul, dan Daffa”.
Au membuka kaca mataku, sambil
menyingkap lembaran-lembaran yang penuh dengan coretan coretan tinta yang rapi.
Kembali aku tersenyum dan bahagia, ternyata semua kisah itu masih terjaga. Dan
tiada satupun lembaran-lembaran kenangan
itu yang hilang. Kecuali sepenggal kisah yang belum tersingkap. yaitu Dia. Sepuluh tahun sudah, aku menyusun kata-kata
untuk menceritakan semua ini. hingga pada lembaran yang terakhir, aku bingung
untuk mengungkapkan kata-kata yang menceritakannya. Tiada kata-kata yang dapat
melebihi keindahan dirinya. Aku tak dapat menuliskan ceritanya ketika ia
bersamaku, sebab semua itu sangat berat bagiku untuk mengenangnya. Namun, Aku
akan berusaha untuk melakukannya.
Hanya beberapa
bait puisi yang sederhana yang dapat kutuangkan untuk mengenangnya.
sejak hari pertama
jalan hidup kita bertemu
seperti hidup kita saling terlilit
aku tidak akan melupakan bagaimana bertemu dengan mu
atau bagaimana kamu dengan perlahan mencuri hatiku
mungkin kau tak percaya
seberapa dalam perasaan ku padamu
bahkan sekarang, kau tak tau isi hatiku
bagai mana bisa ku jelaskan apa yang kurasakan
ohhh...
sayang, jangan
biarkan semua ini pergi
kita dapat melewatinya jika kita menjadi kuat
kau tau aku tidak dapat memilikimu
aku hanya menangis untukmu
kau tau hatiku merindukanmu
sayang, aku cinta kamu, aku menunggumu
aku tau kita
mengahadapi banyak kesulitan
bersama diriku bukanlah hal yang mudah
aku minta maaf karena kesombongan ku
kau tau kau menjadi satu-satunya yang
mengubah hidupku
mengapa kau tidak mengerti
ku berikan dunia hanya untukmu
bahkan jika itu akan membuatku
membayar dengan semua yang ku punya
aku akan mempertahankan apa yang kita miliki
ohhh...
sayang,tolong
maafkan kebodohan ini
aku hanya ingin melindungimu
hatiku berhenti berdetak untuk mengatakan
kata-kata yang menyakitkan itu
aku sendiri menangis untukmu
“selamat tinggal”,
jangan katakan itu
ingatlah betapa banyak cinta kita
aku butuh kamu, aku ingin berkata bahwa
betapa aku menginginkanmu
sayang, berikan aku kesempatan sekali lagi
Angin berhembus
menerbangkan semua yang dilaluinya. Debu-debu kelabu bertebaran mengikuti laju
angin yang berputar. Daun-daun jatuh berguguran. Berserakan dibawah pohon yang
rindang. lembaran-lembaran yang mengkisahkanmu tersingkap pada sebuah halaman dimana
waktu itu pertama kali kita bertemu.
sejak hari pertama
jalan hidup kita bertemu
seperti hidup kita saling terlilit
aku tidak akan melupakan bagaimana bertemu dengan mu
atau bagaimana kamu dengan perlahan mencuri hatiku
Aku melihat,
dibalik rak-rak buku perpustakaan. Tiada suara berisik menghangatkan suasana
kecuali bisikan orang-orang yang membaca. Aku mencari sebuah buku di beberapa
rak buku yang telah kulalui. Beberapa buku telah kutenteng sambil berjalan.
Sampai pada sebuah rak disudut ruangan, aku mendapatkan buku itu. aku
menariknya perlahan. Mengeluarkannya dari rak buku yang tersusun rapi. Tapi,
sulit sekali untuk mengeluarkannya. Seolah-olah buku itu terkait sesuatu yang
menahannya untuk dikeluarkan. Aku tarik dengan sekuat tenaga. Sedikit, demi
sedikit bagian dari buku itu keluar, aku terus menariknya. Tiba-tiba buku itu
dengan sendirinya masuk kembali kedalam rak. Sperti ada yang menariknya
kedalam. Aku keheranan. Dengan hati yang kesal, ku tarik buku itu dengan keras
sekali. Akhirnya buku itu terlepas dari sesuatu yang menahannya. Aku
terpelanting kebelakang. Membentur rak-rak buku dibelakangku. Buku-buku
berjatuhan bagai hujan yang menimpaku. Keributanpun terjadi. Suasana hening
menjadi buyar. Seseorang datang menghampiri dari balik rak buku itu. itulah
dia. Laki-laki culun, berambut keriting memakai kacamata. Dia mendekat,
berusaha menolong mengembalikan buku-buku itu kembali keatas rak.
“kamu gak papa kan?” ucapnya
sambil menoleh memandangku.
Aku Cuma tersenyum malu dan
menggeleng-gelengkan kepala. Kupandangi terus laki-laki itu sampai
buku-buku-buku itu tersusun kembali.
“emmm, lain kali hati-hati ya”
gumamnya.
“i..iya”. sahut ku salah tingkah.
“yasudah aku duluan” ujar
laki-laki itu. aku menganggukkan kepala.
Kemudian
laki-laki itu berjalan meninggalkanku, ditanganya ada buku yang ia sisihkan
saat merapikan buku. Aku mulai curiga, sepertinya buku yang ada ditangannya itu
adalah buku yang aku cari-cari sampai-sampai membuatku jadi seperti ini.
“hei, tunggu!” aku berlari
kearahnya.Dia kebingungan.
“maaf, aku mau mengambil buku
yang ada ditanganmu. Dari tadi aku mencarinya” ucapku sambil mengulurkan tangan
kearahnya.
“buku ini? tapi aku yang lebih
dulu menemukannya.” Sahutnya.
“maaf buku itu kutemukan lebih
dulu, sampai-sampai aku dihujani buku-buku saat mengeluarkannya dari rak. Kamu
menemukannya setelah buku-buku itu berserakan dilantai. Jadi tolong berikan
buku itu”.
“tapi sebelum itu aku yang
mengambilnya duluan, tapi buku itu susah dikeluarkan, atau jangan-jangan kamu
yang menariknya?” ucap lelaki berambut keriting itu.
“apa? Berarti kamu yang...? hei,
sini balikin. Aku yang nemuin duluan” sanggahku kesal.
“gak bisa gitu dong, aku yang
temukan pertama kali. Jadi aku lebih berhak meminjamnya lebih dulu.” Teriaknya
kesal.
“balikin!” bantahku dengan nada
tinggi. Aku mencoba merampas buku itu dari tangannya. tapi dengan sigap ia
mengayunkan tangannya kebelakang.
“enggak! kamu apa-apaan sih?”.
Bantahnya. Mukaku memerah melihatnya.
“ngalah dong ma cewe, sini
balikin.” Paksaku.
Tiba-tiba aku
dikejutkan dengan teriakan seorang wanita bertubuh besar. Mukanya sangar. Dia
berdiri diujung lorong lemari buku. Wanita itu adalah penjaga perpustakaan.
Namanya buk Desrina. Anak-anak sekolah biasa menyebutnya “buldoser”. Mungkin
namanya cocok diganti dengan gelar itu.
“kalian berdua, kemari!”
teriaknya galak. Matanya memandang tajam kearahku.
Suasana hening sejenak. Jantungku
berdebar. Laki-laki itu terlihat santai. Tak terlihat gugup dari raut wajahnya.
Dia berjalan dengan percaya diri menndekati buldoser perpustakaan itu. Aku
mengikutinya dari belakang dengan langkah yang lambat. Aku ketakutan.
“ikut saya.” Ucap buldoser itu
garang.
Kami dibawa
kesebuah ruangan di sudut perpustakaan. Buldoser itu terlihat garang dengan
wajah yang masam. Wajahnya begitu bengis membuat kakiku gemetar berhadapan
dengannya. Sementara laki-laki itu terlihat biasa-biasa saja seperti tidak
terjadi apa-apa.
“kalian berdua sudah berbuat onar
didalam perpustakaan saya. Dan itu artinya kalian harus menerima hukumannya.”
Kata buldoser dengan sinis.
“tapi buk, yang salah dia kenapa
saya juga dihukum”. ucapku memaksa buldoser yang sedang naik darah.
“saya tidak perduli, gak ada
tapi-tapian. Saya akan memberikan hukuman untuk kalian. Kalian harus mem5bersihkan
toilet sekolah sampai bau pesingnya hilang. Sekarang!!!!” bentak buldoser.
Kami berdua keluar meninggalkan
ruangan buldoser dengan langkah yang tergesa-gesa menuju toilet. Tempat yang
paling mengerikan yang pernah kulihat.
“hei, tunggu dulu. Ini semua
gara-gara kamu. Kalau kamu kasi buku itu pasti gak kaya gini jadinya. Pokoknya
aku gak mau tau, kamu aja yang ngerjai. Aku gak mau!”. Ucapku kesal.
Laki-laki itu
tidak memperdulikanku, ia terus bekerja membersihkan toilet. Aku semakin kesal
dibuatnya. Saking kesalnya, aku menyepak ember yang berisi air disamping lelaki
itu. celananya basah tersiram air itu.
“kamu apa-apaan sih? kalau gak
mau ngerjain yasudah pergi aja sana. ngapai juga marah-marah.” Bentaknya.
Aku semakin naik
darah, ingin sekali rasanya aku menarik-narik rambut keritingnya itu. setelah
ia berkata sperti itu aku langsung berpaling dan beranjak keluar. Tiba-tiba aku
terpeleset, aku terjatuh didepan pintu toilet. Kepalaku membentur tembok.
Setelah itu aku tak sadarkan diri.
Saat aku membuka mata, aku sudah
berada di atas kasur putih. Sebuah tirai menghijab, menjadi pembatas dan
membentuk ruangan dimana aku berada ditengah-tengahnya. Saat aku mencoba
menoleh kesekelilingku, aku dikejutkan lelaki itu.
to be continued...