Daftar Blog Saya

Selasa, 06 November 2012

cuplikan novel




Ratapan Cinta Auda
oleh: Fahrizul Ikram


 

Setelah berjalan menapak aspal menuju taman sambil menenteng sebuah buku yang tersusun dari lembaran-lembaran yang tak menyatu. Aku duduk diatas ayunan yang bergantung diatas sebuah dahan kayu. Sebuah pohon rindang yang menghijaukan halaman rumahku.  Sore itu benar-benar sepi. Tiada aku melihat anak-anakku yang canti-cantik dan manis-manis. Entah dimana mereka berada, bermain diantara luas halaman rumahku. Meski hari ini adalah hari minggu tetapi suamiku tetap bekerja, hari-hariku bersamanya sangat singkat. Bahkan bisa dihitung beberapa jam saja kami bertemu karena kesibukkan masing-masing. Aku kasihan melihat anak-anak yang jarang sekali mendapat perhatian ayahnya. Kadang aku serampangan dalam hati, seolah menyesal menikahi laki-laki yang super sibuk seperti dia. Tapi,disisi lain aku mempunyai perasaan yang susah diungkapkan. Sampai sekarang aku tidak pernah mengatakan cinta kepadanya. Karena aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak. Tapi bagaimanapun dia adalah suamiku, meski sesibuk itu demi menghidupi aku dan anak-anakku.
Aku telah lama mengenalnya. Dia orang yang setia, tapi ketika itu sangat sulit bagiku untuk menerimanya. Mungkin karena dia adalah orang yang aku sayang. Sebab aku takut cinta akan memutuskan ikatan persahabatan yang telah lama kami bena. Daffa namanya. Dia sahabatku dari kecil, dan entah bagaimana bisa sampai menjadi pendamping hidup. Sebenarnya kami bertiga, tapi yang ketiga itu hanyut terbuai dalam cinta sehingga persahabatan yang jauh lebih berharga tidak berarti dimatanya. Namanya Nurul. Meski cantik tapi sikapnya terlalu kasar. Meskipun kami selalu mengalah dan mencoba untuk mengerti dia, tapi justru dia tidak menghargainya.
Hmm, terasa kesejukkan dan kelembutan angin yang berhembus. Ku lihat disekeliling, sepi tanpa ada selain aku dan benda-benda yang bersuara diterpa angin. Tiba-tiba saja aku tersenyum, melihat kertas-kertas berharga yang dari tadi aku letakkan dipangkuanku. Tercoret di lembaran pertama, “BBF Aurel, Nurul, dan Daffa”.
Au membuka kaca mataku, sambil menyingkap lembaran-lembaran yang penuh dengan coretan coretan tinta yang rapi. Kembali aku tersenyum dan bahagia, ternyata semua kisah itu masih terjaga. Dan tiada satupun lembaran-lembaran  kenangan itu yang hilang. Kecuali sepenggal kisah yang belum tersingkap. yaitu Dia.  Sepuluh tahun sudah, aku menyusun kata-kata untuk menceritakan semua ini. hingga pada lembaran yang terakhir, aku bingung untuk mengungkapkan kata-kata yang menceritakannya. Tiada kata-kata yang dapat melebihi keindahan dirinya. Aku tak dapat menuliskan ceritanya ketika ia bersamaku, sebab semua itu sangat berat bagiku untuk mengenangnya. Namun, Aku akan berusaha untuk melakukannya.
Hanya beberapa bait puisi yang sederhana yang dapat kutuangkan untuk mengenangnya.
sejak hari pertama jalan hidup kita bertemu
seperti hidup kita saling terlilit
aku tidak akan melupakan bagaimana bertemu dengan mu
atau bagaimana kamu dengan perlahan mencuri hatiku

mungkin kau tak percaya
seberapa dalam perasaan ku padamu
bahkan sekarang, kau tak tau isi hatiku
bagai mana bisa ku jelaskan apa yang kurasakan
ohhh...
sayang, jangan biarkan semua ini pergi
kita dapat melewatinya jika kita menjadi kuat
kau tau aku tidak dapat memilikimu
aku hanya menangis untukmu
kau tau hatiku merindukanmu
sayang, aku cinta kamu, aku menunggumu
aku tau kita mengahadapi banyak kesulitan
bersama diriku bukanlah hal yang mudah
aku minta maaf karena kesombongan ku
kau tau kau menjadi satu-satunya yang
mengubah hidupku
mengapa kau tidak mengerti
ku berikan dunia hanya untukmu
bahkan jika itu akan membuatku
membayar dengan semua yang ku punya
aku akan mempertahankan apa yang kita miliki
ohhh...
sayang,tolong maafkan kebodohan ini
aku hanya ingin melindungimu
hatiku berhenti berdetak untuk mengatakan
kata-kata yang menyakitkan itu
aku sendiri menangis untukmu


“selamat tinggal”, jangan katakan itu
ingatlah betapa banyak cinta kita
aku butuh kamu, aku ingin berkata bahwa
betapa aku menginginkanmu
sayang, berikan aku kesempatan sekali lagi

Angin berhembus menerbangkan semua yang dilaluinya. Debu-debu kelabu bertebaran mengikuti laju angin yang berputar. Daun-daun jatuh berguguran. Berserakan dibawah pohon yang rindang. lembaran-lembaran yang mengkisahkanmu tersingkap pada sebuah halaman dimana waktu itu pertama kali kita bertemu.
sejak hari pertama jalan hidup kita bertemu
seperti hidup kita saling terlilit
aku tidak akan melupakan bagaimana bertemu dengan mu
atau bagaimana kamu dengan perlahan mencuri hatiku

Aku melihat, dibalik rak-rak buku perpustakaan. Tiada suara berisik menghangatkan suasana kecuali bisikan orang-orang yang membaca. Aku mencari sebuah buku di beberapa rak buku yang telah kulalui. Beberapa buku telah kutenteng sambil berjalan. Sampai pada sebuah rak disudut ruangan, aku mendapatkan buku itu. aku menariknya perlahan. Mengeluarkannya dari rak buku yang tersusun rapi. Tapi, sulit sekali untuk mengeluarkannya. Seolah-olah buku itu terkait sesuatu yang menahannya untuk dikeluarkan. Aku tarik dengan sekuat tenaga. Sedikit, demi sedikit bagian dari buku itu keluar, aku terus menariknya. Tiba-tiba buku itu dengan sendirinya masuk kembali kedalam rak. Sperti ada yang menariknya kedalam. Aku keheranan. Dengan hati yang kesal, ku tarik buku itu dengan keras sekali. Akhirnya buku itu terlepas dari sesuatu yang menahannya. Aku terpelanting kebelakang. Membentur rak-rak buku dibelakangku. Buku-buku berjatuhan bagai hujan yang menimpaku. Keributanpun terjadi. Suasana hening menjadi buyar. Seseorang datang menghampiri dari balik rak buku itu. itulah dia. Laki-laki culun, berambut keriting memakai kacamata. Dia mendekat, berusaha menolong mengembalikan buku-buku itu kembali keatas rak.
“kamu gak papa kan?” ucapnya sambil menoleh memandangku.
Aku Cuma tersenyum malu dan menggeleng-gelengkan kepala. Kupandangi terus laki-laki itu sampai buku-buku-buku itu tersusun kembali.
“emmm, lain kali hati-hati ya” gumamnya.
“i..iya”. sahut ku salah tingkah.
“yasudah aku duluan” ujar laki-laki itu. aku menganggukkan kepala.
Kemudian laki-laki itu berjalan meninggalkanku, ditanganya ada buku yang ia sisihkan saat merapikan buku. Aku mulai curiga, sepertinya buku yang ada ditangannya itu adalah buku yang aku cari-cari sampai-sampai membuatku jadi seperti ini.
“hei, tunggu!” aku berlari kearahnya.Dia kebingungan.
“maaf, aku mau mengambil buku yang ada ditanganmu. Dari tadi aku mencarinya” ucapku sambil mengulurkan tangan kearahnya.
“buku ini? tapi aku yang lebih dulu menemukannya.” Sahutnya.
“maaf buku itu kutemukan lebih dulu, sampai-sampai aku dihujani buku-buku saat mengeluarkannya dari rak. Kamu menemukannya setelah buku-buku itu berserakan dilantai. Jadi tolong berikan buku itu”.
“tapi sebelum itu aku yang mengambilnya duluan, tapi buku itu susah dikeluarkan, atau jangan-jangan kamu yang menariknya?” ucap lelaki berambut keriting itu.
“apa? Berarti kamu yang...? hei, sini balikin. Aku yang nemuin duluan” sanggahku kesal.
“gak bisa gitu dong, aku yang temukan pertama kali. Jadi aku lebih berhak meminjamnya lebih dulu.” Teriaknya kesal.
“balikin!” bantahku dengan nada tinggi. Aku mencoba merampas buku itu dari tangannya. tapi dengan sigap ia mengayunkan tangannya kebelakang.
“enggak! kamu apa-apaan sih?”. Bantahnya. Mukaku memerah melihatnya.
“ngalah dong ma cewe, sini balikin.” Paksaku.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan teriakan seorang wanita bertubuh besar. Mukanya sangar. Dia berdiri diujung lorong lemari buku. Wanita itu adalah penjaga perpustakaan. Namanya buk Desrina. Anak-anak sekolah biasa menyebutnya “buldoser”. Mungkin namanya cocok diganti dengan gelar itu.
“kalian berdua, kemari!” teriaknya galak. Matanya memandang tajam kearahku.
Suasana hening sejenak. Jantungku berdebar. Laki-laki itu terlihat santai. Tak terlihat gugup dari raut wajahnya. Dia berjalan dengan percaya diri menndekati buldoser perpustakaan itu. Aku mengikutinya dari belakang dengan langkah yang lambat. Aku ketakutan.
“ikut saya.” Ucap buldoser itu garang.
Kami dibawa kesebuah ruangan di sudut perpustakaan. Buldoser itu terlihat garang dengan wajah yang masam. Wajahnya begitu bengis membuat kakiku gemetar berhadapan dengannya. Sementara laki-laki itu terlihat biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.
“kalian berdua sudah berbuat onar didalam perpustakaan saya. Dan itu artinya kalian harus menerima hukumannya.” Kata buldoser dengan sinis.
“tapi buk, yang salah dia kenapa saya juga dihukum”. ucapku memaksa buldoser yang sedang naik darah.
“saya tidak perduli, gak ada tapi-tapian. Saya akan memberikan hukuman untuk kalian. Kalian harus mem5bersihkan toilet sekolah sampai bau pesingnya hilang. Sekarang!!!!” bentak buldoser.
Kami berdua keluar meninggalkan ruangan buldoser dengan langkah yang tergesa-gesa menuju toilet. Tempat yang paling mengerikan yang pernah kulihat.
“hei, tunggu dulu. Ini semua gara-gara kamu. Kalau kamu kasi buku itu pasti gak kaya gini jadinya. Pokoknya aku gak mau tau, kamu aja yang ngerjai. Aku gak mau!”. Ucapku kesal.
Laki-laki itu tidak memperdulikanku, ia terus bekerja membersihkan toilet. Aku semakin kesal dibuatnya. Saking kesalnya, aku menyepak ember yang berisi air disamping lelaki itu. celananya basah tersiram air itu.
“kamu apa-apaan sih? kalau gak mau ngerjain yasudah pergi aja sana. ngapai juga marah-marah.” Bentaknya.
Aku semakin naik darah, ingin sekali rasanya aku menarik-narik rambut keritingnya itu. setelah ia berkata sperti itu aku langsung berpaling dan beranjak keluar. Tiba-tiba aku terpeleset, aku terjatuh didepan pintu toilet. Kepalaku membentur tembok. Setelah itu aku tak sadarkan diri.
Saat aku membuka mata, aku sudah berada di atas kasur putih. Sebuah tirai menghijab, menjadi pembatas dan membentuk ruangan dimana aku berada ditengah-tengahnya. Saat aku mencoba menoleh kesekelilingku, aku dikejutkan lelaki itu. 
to be continued...

2 komentar: