Daftar Blog Saya

Senin, 23 Desember 2013

Bukan Masalah biasa

hari ini adalah hari dimana gue ngerasain kekecewan yang begitu besar dalam hidup gue. nggak terkecuali dalam segala hal. baik itu dari keluarga, sahabat-sahabat gue, masalah cinta gue, juga masalah kuliah gue. hari ini selasa 24 desember 2013, tepat satu hari sebelum natal.
pada dasarnya gue tau, tadi malem temen-temen gue pada bilang hari ini ada ujian tengah semester, dan gue coba untuk belajar sebisa gue. tapi loa tau sendirikan gan, gue nggak bisa mikir. gue juga nggak tau sampe berapa lama lagi gue kaya gini, yang gue harapin ya gue bisa kaya dulu lagi. dapet sepuluh besar dikelas, dan hasilnya buat gue bangga kalau gue bisa. terakhir nilai kebanggaan gue itu cuma bisa gue nikmati sampek gue duduk dibangku SMP. hari itu kepala gue bener-bener sakit sampe-sampe gue nggak sadar gue ada dimana pas gue sadar. yang gue ingat waktu itu, nggak ada seorangpun yang gue kenal, semua orang asing. orang tua gue, sodara dan temen-temen gue nggak satupun diantara mereka yang gue liat. ahh!! lupain, gue juga nggak berapa ingat dengan itu.
sambung ke hari ini, gue yakin apa yang gue kerjain tadi adalah sebuah keputusan yang benar. masak gue nyontek terus-terusan sama temen gue. sebenarnya gue juga udah janji sama diri gue untuk mata kuliah yang satu ini gue nggak mau kalo dosennya nganngap sepele gue. dari yang gue denger dari temen-temen, dia nggak mau kalo murid-muridnya nyaontek. lagian walaupun gue nyontek, bakalan sama aja, kan dia udah tau kemampuan gue di 'PD' itu gimana!! soalnya dia juga udah gue anggap kaya temen gue, sayangnya gue segen karena status dia dosen gan!! ya terserah dia deh mau anggap gue gimana. busyet deh gan, hari ini gue beneran galau pangkat y"!! haha.
mmmh!! hari ini juga gue beneran kecewa sama diri gue. cinta gue nggak pernah sempurna. mau nyerah ngejer dia, tapi gue sayang banget sama dia. katanya sih dia juga sayang banget sama gue. tapi kayanya nggak sayang-sayang banget!! gue percaya dia sayang banget sama gue kalau cuma ada gue seorang dihatinya! haha gaaan gan!!
ternyata cewe itu sama semua gan, cewe itu suka bohong kalo dia nggak punya rasa sama lo. kelihatan baik sih, senggaknya dia menghargai lo dan berusaha agar lo nggak nyesek. tapi kan kita cuma butuh cinta dari dia gan. sebaik dan seperhatiannyapun dia ke kita, tapi kalau memang nggak memiliki rasa seperti yang kita harapkan ya sama aja gan!! tau nggak gan, lo adalah sesuatu yang maya yang tahu tentang hal ini, gue nggak bisa buang rasa sayang gue sama dia. secintanya gue sama si "X" dulu yang sampe-sampe tujuh tahun rasa itu gue pendem dan kalo ngga salah sih beberapa minggu yang lalu baru gue ungkapin tapi sayangnya dia udah punya belahan hatinya, dan sesayangnya gue sama si "Y" dulu, sampe-sampe gue berubah tigaratusenampuluh derajat cuma karena dia, dan sebutuh-butuhnya gue sama si "Z" dulu, tetep begitu mudahnya gue relain begitu aja dalam hati gue. tapi cewe yang satu ini, dengan semua usaha dan doa serta pengorbanan gue, gue nggak bisa ngerelainnya gitu aja. oooh gan, gue sayang banget sama dia. kapan gue bisa dapetin cinta yang sempurna dari hati dia.
kalau aja gue bisa pergi jauh dari sini, gue mau mandiri dan bangun kembali hidup gue! tapi sayangnya, nasib gue udah ditentuin sama orang lain gan!! sialan banget kan gan!
haha, tapi selama ada elo gan, gue bakalan bisa hidup dan ngerasain hidup bersama seseorang. elo udah gue anggap sahabat yang hidup meski elo benda mati!!!

Sabtu, 21 Desember 2013

love hope

a
Add caption
sudah kulihat!! telah lama tidak berkunjung disini. penuh debu dan usang. sudah saatnya kita bersama lagi. selama ini aku malu untuk bercerita dan berkeluh kesah disini. selama ini keberanian hanya tertuju pada kekasih semu, netbook tercinta. dan sekarang kalian berdua bersatu untuk menghibur dan saling mengerti untuk memberikan terbaik kepada majikanmu ini.
sudah selama ini, tiada yang sempurna. aku tau butuh kerja keras dan pengorbanan untuk sebuah cinta. tapi sampai kapan perasaan ini terus bertahan dan berusaha bersandiwara kepada dunia, bahwa aku sangat mencintainya. tak ada yang mengerti dengan perasaan ini, kecuali segi empat hitam yang berwana dan aku selalu berhadapan dengannya, tiap kali aku mengalami kegagalan, luka, lara, tawa canda dan semua momen ku pada usia muda ini telah disaksikannya. jika saja kau adalah sesuatu yang hidup, kau pasti mengerti dengan apa yang sedang kurasakan saat ini. penuh gejolak dalam hidup. penuh guncangan, tekanan dan rasa takut yang luar biasa dan akan terus selamanya membayangi kemanapun aku melangkah. 
sungguh sia-sia jika aku terus memperlakukan perasaan sewenang-wenang tanpa memperdulikan bagaimana keadaannya. aku terus memaksa bahwa aku akan bisa, karna aku masih memiliki mimpi yang begitu indah. tapi aku tidak pernah mengerti, kau terluka didalam sana. kau merintih kesakitan, tiada kawan dan tiada tempat bagimu untuk mencurahkan rasa sakitmu, dan tiada yang memperdulikan separah apa lukamu itu. sesekali kau menjerit dalam kesepian, memohan dan mengiba kepadaku untuk memperlakukanmu sebagai mana aku memperlakukan perasaan cinta. aku ingin kau tau, sesakit apapun itu, dan separah apapun lukamu, aku tetap merasakannya. kita adalah tubuh yang satu. meski aku tidak dapat melihat jauh didalam sana, tapi sebenarnya aku bisa merasakannya. air mata tidak pernah mengalir tanpa sebab. air mata ini selalu merespon apa yang sedang kau rasakan didalam sana. kita hidup bersama, dan selalu bersama, sejak hadirnya kita didunia ini. dan banyak hal yang telah kita lewati bersama. banyak cerita yang telah kita tuliskan bersama didunia ini. dan untuk waktu yang sekarang, aku mohon, kita hrus bisa bersatu, mengerti satu sama lain, kita hrus bisa kuat dan wjudkan mimpi indah itu bersama. aku yakin kau dapat bertahan lebih lama lagi, aku akan terus memperhatikanmu, berikan aku kekuatanmu, bantu aku, dan aku mohon, berkorbanlah untukku, kali ini saja. aku berjanji, ini adalah terakhir kalinya. kegagalan yang selama ini belum separuh dari perjalan kita untuk menggapai mimpi itu. apa kau tidak melihat sesuatu yang ada didalam sepertimu, pada diri yang lain diluar sana?. lukamu, dan belahan jiwamu, dan serpihan dirimu yang telah hancur itu, akan diperbaiki olehnya. maka dari itu, aku mohon, berkorbanlah sekali lagi, kita bersama mengorbankan segalanya yang kita bisa untuk meraih mimpi itu. 
waktu kita tidak banyak, entah berapa lagi kita dapt bertahan disini, dan jika waktu itu telah tiba, kita akan hancur bersama, dan bersandar pada tempat yang tiada seorangpun melihatnya. dan, semua mimpi-mimpi kita itu akan terkubur bersam jiwa dan raga kita. "HATI" :)

Rabu, 03 April 2013

PR dalam kasus belajar mengajar



Sudah Tanggung Jawab Orang Tua menjadi Fasilitator PR Anaknya

Oleh: Fahrizul Ikram


Pekerjaan Rumah (PR) adalah hal yang wajar didapatkan seorang anak di sekolahnya. Hal itu dilakukan, selain untuk menambah wawasan anak, juga untuk memenuhi kebijakan-kebijakan sekolah dalam menjalankan kewajibannya sebagai tempat menimba ilmu. Selain itu sekolah juga berperan dalam pembentukan kepribadian dan karakter anak itu sendiri. Kadang Orang tua salah mempersepsikan hal itu sehingga terjadi kesalahpahaman antara orang tua dengan guru di sekolah. Kewajiban seorang guru selain mentransfer ilmu kepada muridnya di ruang kelas, tetapi juga berkewajiban untuk membiasakan anak muridnya belajar di luar ruang kelas dengan memberikan tugas yang harus diselesaikan di luar jam belajar. Perlu juga untuk diketahui bahwa mengajar  berbeda dengan mendidik. Mengajar adalah suatu kegiatan dalam penyampaian suatu ilmu kepada seseorang. Sedangkan mendidik adalah  membimbing, mengarahkan, serta membentuk kepribadian anak menjadi pribadi yang diharapkan. Sudah selayaknya para orang tua mengetahui betapa besarnya tanggung jawab seorang guru terhadap peserta didiknya. Jika orang tua belum mengerti bagaimana besarnya tanggung jawab seorang guru kepada peserta didiknya seiring dengan arus globalisasi saat ini, maka penulis ingin menjelaskan sedikit agar dapat dimengerti.
Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru. Gurulah yang terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia. Guru berhadapan langsung dengan para peserta didik dikelas melalui proses belajar mengajar. Ditangan gurulah akan dihasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, kematangan emosional dan moral, serta spiritualnya. Dengan demikian akan dihasilkan generasi masa depan yang siap hidup dengan tantangan zamannya. Oleh karena itu diperlukan sosok guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi, dan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalnya. Apalagi dalam perubahan kurikulum yang menekankan kompetensi, guru memegang peranan penting terhadap implementasi KTSP, karena gurulah yang pada akhirnya akan melaksanakan kurikulum didalam kelas. Menurut mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hasan mengatakan sebaik apapun kurikulum dan sistem pendidikan yang ada, tanpa didukung oleh mutu guru yang memenuhi syarat, maka semuanya akan sia-sia.
Tugas dan peran guru dari hari kehari semakin berat, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru sebagai komponen utama dalam dunia pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dalam masyarakat. Melalui sentuhan guru di sekolah diharapkan mampu menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi tinggi dan siap menghadapi tantangan hidup dengan penuh keyakinan dan percaya diri yang tinggi. Sekarang dan kedepan sekolah harus mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, baik secara keilmuan maupun secara sikap mental. Oleh karena itu dibutuhkan beberapa komponen yang dapat mewujudkannya, yaitu; (1) kepala sekolah yang dinamis dan komunikatif dengan kemerdekaan memimpin menuju visi keunggulan pendidikan; (2) memiliki visi, misi, dan strategi untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dengan jelas; (3) guru-guru yang kompeten dan berjiwa kader yang senantiasa bergairah dalam melaksanakan profesionalnya secara inovatif; (4) siswa-siswa yang sibuk, bergairah dan bekerja keras dalam mewujudkan perilaku pembelajar; (5) masyarakat dan orang tua yang berperan serta, dalam menunjang pendidikan.
Dalam sebuah kasus yang kita temui baru-baru ini, banyaknya orang tua yang memandang PR anaknya mengarah kepada sisi yang negatif, sehingga adanya pernyataan bahwa PR anak sangat membebani orang tua, bahkan membuat orang tua kesal dan jengkel dengan PR anaknya. Terkadang mereka juga berpikir PR itu dibuat untuk anaknya atau untuk orang tuanya? toh pada akhirnya orang tua juga yang mengerjakannya. sehingga waktu untuk berkomunikasi dengan anaknya jadi berkurang karena disibukkan dengan PR, akibatnya orang tua merasa kehilangan waktu untuk berinteraksi yang intens dengan anaknya. Jika dilihat dari sisi negatifnya saja ya memang terlihat merugikan, tapi semua itu merupakan sesuatu yang keliru.  Karena, jika dipandang sisi positifnya justru sangat berdampak baik terhadap kepribadian anak. Waktu anak yang pada umumnya terbuang untuk bermain jadi lebih bermanfaat dengan adanya PR, sehingga seorang anak akan terbiasa dan dapat lebih memahami semua yang didapatnya disekolah. Alhasil, pengetahuannya akan lebih luas dan mempercepat perkembangan kognitifnya. Sebenarnya sudah menjadi tanggung jawab orang tua ikut serta dalam memberikan pendidikan kepada anaknya. Jika disekolah, ya memang sudah menjadi tanggung jawab guru memberikan pendidikan kepada muridnya, namun jika dirumah sudah selayaknya orang tua bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan belajar anaknya seperti tugas ataupun PR dan sejenisnya.
Pemberian PR kepada murid merupakan hal yang wajar dilakukan oleh guru kepada peserta didiknya guna mencapai tujuan pendidikan yang berdasarkan Standar Pendidikan Nasional. Sedangkan tujuan yang sebenarnya dari pemberian PR tersebut merupakan salah satu instrumen guru dalam proses belajar-mengajar yang dapat mengembangkan kebiasaan belajar, mendorong kebiasaan positif dalam belajar, serta sarana komunikasi orang tua dan guru disekolah. Maka dari itu, pemberian PR kepada peserta didik diharapkan proses pencapaian pembelajaran dapat berjalan dengan baik, karena dilakukan dengan dua arah yaitu sekolah dan rumah. Harus kita ketahui juga bahwa peran orang tua dalam PR ini adalah memberikan fasilitas sejauh yang anak butuhkan dalam mengerjakan PRnya.
Campur tangan orang tua dalam  persoalan PR anak sebaiknya dilakukan dengan seminimal mungkin, agar anak tersebut dapat belajar lebih mandiri.  Selain itu seorang anak akan dapat mengerti dengan perjuangan dalam mencapai sesuatu tujuan lewat persoalan-persoalan sulit yang dihadapinya ketika membuat PR. Jika hal-hal seperti ini telah ditanamkan sejak dini maka akan sangat berdampak positif sekali untuk masa depan anak. Jadi, sebaiknya orang tua memandang PR tersebut tidak dengan sisi negatifnya saja, karena itu akan membuat orang tua mengeluh dan akibatnya akan merusak sosialisasi antara orang tua dan guru disekolah. Dan yang menjadi korban adalah anaknya sendiri. Karena hal-hal seperti itu akan mengurangi minat anak untuk belajar. Mengapa tidak? Orang tuanya saja mengeluh dengan PR anaknya, bagaimana pula dengan anaknya?. Maka jangan heran jika anak akan merengek kepada orang tua jika kebutuhan dalam menyelesaikan PRnya tidak terpenuhi.
Coba kita lihat bagaimana perbedaan antara sikap orang tua yang memandang PR pada sisi positif dan sikap orang tua yang memandang  PR pada sisi negatif. Orang tua yang memandang PR anaknya pada sisi positif akan lebih percaya diri dalam memberikan asupan pendidikan bagi anak, sehingga sangat mendorong perkembangan pengetahuannya. Sedangkan orang tua yang memandang jelek pemberian PR kepada anaknya, ia akan selalu berpikir yang jelek terus menerus kepada sekolah maupun guru yang memberikan PR tersebut. akibatnya kepercayaan dirinya akan berkuraang dalam memberikan dorongan kepada anaknya untuk belajar. Yang dirugikan justru anak, dia juga akan kehilangan rasa percaya diri, dan rasa cintanya terhadap pelajaran tersebut akan berkurang bahkan hilang sama sekali akibat asutan orang tua yang menyalah-nyalahkan PR anaknya.
Internet merupakan salah satu media yang sangat berguna dalam membantu perkembangan ilmu pengetahuan. Apabila guru menyuruh muridnya untuk mencari bahan pelajaran di internet maka itu merupakan sesuatu yang wajar. Sebab, mungkin saja disekolah media pembelajarannya masih kurang atau belum memenuhi standar nasional pendidikan. Maka dari internet peserta didik bisa mendapatkan informasi yang lengkap dari semua yang dibutuhkan dalam proses belajar-mengajar. Jika orang tua masih mengkhawatirkan anaknya menyalah gunakan internet sebagai media pembelajaran yang efektif, maka sebaiknya orang tua mengawasi kegiatan anaknya ketika mengunjungi internet. Apalagi dewasa ini memang sangat terlihat sekali dampak negatif dari internet tersebut. Hal yang sering digunakan anak ketika membuka internet baik dirumah maupun di warung internet misalnya, adalah bermain game online seperti Point Blank, membuka sosial media seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Lebih parahnya lagi apabila anak tersebut membuka situs-situ porno ataupun situs-situs yang sangat berdampak buruk terhadap perkembangannya. Maka dari itu dibutuhkan peran orang tua untuk mengawasi anaknya agar tidak menyalah gunakan fasilitas internet yang sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan.
Dengan mengawasi jalannya kegiatan anak membuat PR, orang tua seharusnya menyadari dalam dunia pendidikan itu harus ada pengorbanan, baik berupa waktu, materi dan sebagainya. Apalah gunanya orang tua hanya menghitung-hitung seberapa banyak uang yang habis untuk membiayai dalam memberikan fasilitas belajar kepada anaknya mengingat hal itu nantinya juga untuk kebaikan anak itu sendiri.
Untuk itu dengan banyaknya tanggapan negatif orang tua terhadap PR yang diberikan kepada anaknya, penulis ingin memberikan saran kepada guru dalam pemberian PR kepada muridnya. Pertama, tugas yang diberikan harus sesuai dengan tingkat kompetensi anak, usia, dan kemampuannya dalam menyelesaikan PR tersebut. Dan tidak boleh melampaui batas kemampuan anak didik untuk mengerjakannya. Kedua, waktu yang dibutuhkan anak untuk mengerjakan PR, sebaiknya tidak melebihi batas maksimal sepertiga dari jumlah jam belajarnya di kelas dengan materi yang sama. Dan yang ketiga, jumlah PR yang diberikan harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan, serta menyesuaikan materi dengan yang tertera pada kurikulum.
Dari pernyataan-pernyataan diatas maka kita dapat menyimpulkan bahwa PR anak bukanlah suatu hal yang menjadi beban orang tua, karena memang sudah tanggung jawab orang tua kepada anaknya untuk memenuhi semua keperluan sekolah anaknya, baik bahan-bahan pelajaran, buku, alat tulis dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Dari apa yang menjadi anggapan orang tua yang memberikan pernyataan keras terhadap pemberian PR tersebut adalah benar-benar kekeliruan dalam dunia pendidikan. Mungkin orang tuanya tidak berpendidikan sehingga ia dapat menyatakan bahwa PR anak sangat membebaninya.

Selasa, 02 April 2013

Peran Pancassila dalam arus Globilsasi




 Peran Pancasila Dalam Arus Globalisasi

 oleh: Fahrizul Ikram

 
Negara Republik Indonesia memang tergolong muda dalam barisan negara-negara didunia. Tetapi bangsa Indonesia lahir dari sejarah dan kebudayaannya yang tua, melalui gemilangnya kerajaan Sriwijaya, Mataram dan Majapahit, kemudian mengalami masa penderitaan penjajahan sepanjang tiga setengah abad sampai akhirnya bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejarah bangsa Indonesia untuk merebut kembali kemerdekaannya sama tuanya dengan sejarah penjajahan itu sendiri. Berbagai babak sejarah dilampaui dan berbagai jalan telah ditempuh dengan gaya yang berbeda-beda mulai dengan cara-cara yang lemah sampai cara-cara yang keras, mulai dari gerakan kaum cendekiawan yang terbatas sampai pada gerakan yang menghimpun kekuatan rakyat banyak, mulai dari bidang pendidikan, kesenian, perdagangan sampai pada gerakan-gerakan politik.
Setelah melalui babak-babak sejarah sebelum terbentuknya negara Indonesia, barulah dimulai perancangan bentuk negara dan pemerintahan negara Indonesia. Maka para tokoh-tokoh bangsa Indonesia sibuk mendiskusikan serta merancang perumusan pancasila, yang akan dijadikan sebagai dasar negara. Pancasila sebagai dasar negara merupakan kesepakatan politik pada saat terbentuknya negara Indonesia hingga sekarang. Sebagai dasar negara, pancasila harus  bisa menghadapi  tantangan global dunia yang terus berkembang saat ini mengingat pancasila adalah acuan negara. Akan tetapi sebuah permasalahan besar bangsa Indonesia saat ini adalah penerapan dari niai-nilai pancasila tersebut mulai memudar pada diri bangsa yang disebabkan oleh globalisasi yang terus berkembang. Disinilah peran pancasila dalam menghadapi kencangnya arus globlisasi yang dapat merusak kepribadian bangsa. Dimana pancasila adalah kepribadian bangsa indonesia, yang memiliki makna bahwa sikap, tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia memeiliki ciri khas tersendiri, sehingga dapat membedakannya dengan bangsa yang lain. Ciri khas inilah yang diartikan sebagai kepribadian bangsa.
Pengaruh masuknya budaya asing ditengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang selalu diikuti tanpa adanya penyaringan kaidah merupakan salah satu penyebab semakin berkurangnya rasa nasionalisme bangsa. Sehingga konsep yang menyatakan pancasila sebagai kepribadian bangsa lenyap begitu saja dengan pengaruh budaya asing yang terus meluas keseluruh penjuru negeri. Betapa sayangnya bumi ibu pertiwi yang di atasnya terdapat beribu-ribu suku, bahasa dan budaya, namun dapat dengan mudahnya ditepis oleh kebudayaan asing dan kemudian menguasainya. Ini dikarenakan nilai-nilai pancasila belum mengakar didalam diri bangsa, sehingga pancasila tidak dapat kokoh berdiri seperti yang diharapkan. Dalam hal ini merupakan realita yang tidak dapat untuk kita pungkiri, melihat keadaan bangsa yang terus mengalami permasalahan-permaslahan dari waktu kewaktu, baik dari segi pemerintahan/ politik, masyarakat dan tindak kejahatan dan kriminalitas yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya.
Arus globalisasi yang terus mengancam pendirian bangsa tentunya menambah tanggung jawab setiap masyarakat yang memikul beban yang berat dengan selalu senantiasa berpegang teguh dengan nilai-nilai yang terkandung dalam rumusan pancasila. Sedikit saja kita tergoda dengan kenikmatan yang disuguhkan dunia global tanpa menyaringnya terlebih dahulu maka secara otomatis pula akan merontokkan  nilai-nilai pancasila yang telah tertanam di dalam diri kita.
Globalisasi adalah fenomena dimana batasan-batasan antar negara seakan memudar karena terjadinya berbagai perkembangan di segala aspek kehidupan, khususnya pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan terjadinya perkembangan berbagai aspek kehidupan khususnya di bidang iptek tersebut maka manusia dapat pergi dan berpindah ke berbagai negara dengan lebih mudah serta mendapatkan berbagai informasi yang ada dan segala sesuatu yang terjadi di dunia secara instan.
Kita sebagai bangsa indonesia tentu sering melihat dan sangat mengenal gambar atau lambang-lambang didalam sila-sila pancasila. Tetapi kita tidak pernah memperhatikan simbol-simbol dan makna dari simbol yang terdapat di dalam perisainya. Disinilah kita dapat memahami bahwa arus globalisasilah yang mempengaruhi masyarakat Indonesia kurang memperhatikan dari apa yang tersirat diantara lambang-lambang tersebut. didalam perisai yang terdapat pada dada burung garuda atau lambang pancasila, memiliki arti-arti tersendiri sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya.
Untuk Sila Pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa diwakili oleh simbol bintang.Simbol ini mempunyai arti bahwa Tuhan menjadi cahaya bagi setiap manusia. Sebagai masyarakat beragama sudah sepatutnya kita menjalankan kewajiban-kewajiban yang di bebankan tuhan kepada setiap umat beragama. Dengan kata lain, segala sesuatu yang bersifat moralitas yang terdapat dalam nilai-nilai agama harus berjalan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian tentunya dapat menstabilkan moralitas masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga dapat menjadi prisai dalam menangkis dmapak globalisasi yang merusak. Kemudian di  bagian kanan bawah terdapat rantai yang melambangkan Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Rantai ini mengandung makna bahwa setiap manusia, laki-laki dan perempuan,membutuhkan satu sama lain dan perlu bersatu sehingga menjadi kuat. Dengan tidak membeda-bedakan keterbelakangan dan kekurangan, ras, dan suku kelompok maupun individu, dan membenarkan segala sesuatu yang  benar dan menyalahkan segala sesuatu yang salah. Tidak berpihak  pada satu sisi, tetapi tetap berada ditengah-tengah antara yang benar dan yang salah. Sehingga dapat mengkokohkan pendirian bangsa dalam memberikan keadilan pada setiap lapisan masyarakat tanpa berpihak kepada satu sisi tertentu dengan faktor-faktor tertentu.
Selanjutnya, terdapat gambar pohon beringin untuk Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Simbol ini menyiratkan bahwa seluruh rakyat Indonesia bisa “berteduh” di bawah naungan negara Indonesia. Berlindung dari segala tekanan-tekanan yang mengancam kemaslahatan kehidupan sosial bermasyarakat, baik dari dalam maupun dari luar. Dengan bersatu maka akan terbentuk kekuatan yang besar dan perisai yang kokoh dalam melindungi bngsa dari ancaman arus globalisasi yang berdampak buruk. Di sebelah kiri atas terdapat gambar kepala banteng sebagai simbol Sila Keempat yakni Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Lambang tersebut digunakan karena dalam musyawarah di mana orang-orang harus berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu seperti halnya sifat banteng. Dan yang terakhir terdapat padi dan kapas untuk Sila Kelima yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Simbol padi dan kapas melambangkan kebutuhan dasar setiap manusia yakni pangan dan sandang sebagai syarat utama untuk mencapai kemakmuran Indonesia.
Dari kelima sila-sila tersebut, dapat kita pahami bahwa pancasila sudah terumus dengan begitu sempurna, tetapi pencerminannya dalam diri masyarakat untuk menrapkannya sebagai dasar negara tidak berjalan sesuai dengan tujuan perumusan pancasila. Pada dasarnya, pancasila sudah sangat tangguh dalam membentengi bangsa indonesia dari badai globlisasi yang dampaknya sangat buruk terhadap kepribadian bangsa Indonesia. Jika nilai-nilai pancasila tersebut sudah benar-benar tertanam didalam diri bangsa, maka kita dapat meyakini bahwa pancasila dapat berdiri kokoh meskipun diterjang badai globalisasi sekalipun. Tentunya, tujuan bangsa Indonesia dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, serta solusi dari setiap permasalahan-permasalaha yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Dengan menyaring semua yang diberikan dunia global terhadap bangsa, maka bangsa indonesia mendapatkan dampak yang baik dari arus globalisasi tersebut. sehingga pemanfaatannya sangat mempengaruhi kemajuan dan eksitensi bangsa Indonesia dalam panggung dunia.

Rabu, 06 Maret 2013

opini




Demokrasi
vs
Khilafah
Oleh: Fahrizul Ikram

Siapa yang tidak prnah berangan-angan hidup dibwah naungan khliafah. Sudah mimpi setiap muslim didunia mendambakan khilafah. Tapi beginilah adanya, manusia adalah khalifah dimuka bumi, dengan demikian dapat dikatakan manusia mempunyai hak dalam membuat suatu hukum dan tata kehidupan dimuka bumi. Memang benar, Alquran adalah sumber hukum yang paling utama, tapi apakah mungkin hukum dan peraturan berlalu-lintas juga kita kait-kaitkan dengan Alqur’an? Tentu saja tidak.
Pembaca yang budiman, bukan penulis bermaksud sok pintar, tapi hanya sekedar memberikan pendapat untuk menanggapi pernyataan-pernyataan dari berbagai kalangan yang mengganggap sistem pemerintahan negara kita ini salah. Mengingat negara kita yang berasaskan demokrasi, sudah haknya setiap orang dalam memberikan pendapatnya. Tetapi dalam kasus beberapa waktu terkhir ini sering sekali muncul anggapan-anggapan, maupun penyataan-pernyataan yang sedikit konyol menurut penulis sendiri. Sudah susah-susah rakyat Indonesia membangun bangsa dan negara, menuju negara yang adil dan makmur, tetapi malah kesengsaraan yang didapat. Tidak perlu kita bertanya siapa yang perlu disalahkan. Karena yang salah itu benar. Artinya, semua menganggap dirinya benar meskipun dalam pandangan orang lain salah. Menganggap orang lain salah dan membenarkan dirinya meskipun sudah mutlak salahnya. Jadi salah itu tidak ada sebenarnya. Yang ada itu keliru barangkali.
Entah bagaimana kasus ini menjadi hal yang menarik untuk dijadikan bahan kepenulisan penulis dalam menyuarakan pendapatnya. Sering sekali penulis melihat berbagai bentuk tulisan yang menolak “DEMOKRASI”, mengapa? Entah, penulis juga tidak mengetahuinya. Yang terpenting utnuk kita pahami, yang menjadi landasan dasar para pemberontak demokrasi ini adalah menganggap bahwa demokrasi bukanlah cara alternatif dalam mewujudkan pemertintahan yang sejahtera. Melihat dari makna Demokrasi itu sendiri yaitu kedaulatan ditangan rakyat, dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat pula, maka dengan itu mungkin mereka tidak terima mengingat kedaulatan atau kekuasaan tertinggi itu bukan ditangan manusia melainkan ditangan tuhan. Tuhanlah yang lebih pantas menyandang kedaulatan tersebut. dengan hal itu maka mulailah pergejolakan ditengah masyarakat Indonesia menolak demokrasi. Dan bermunculan pula semboyan-semboyan yang menyudutkan demokrasi, seperti “islam dan demokrasi antara iman dan kufur”, salah satunya.
Memang, para penolak demokrasi ini  sangat berambisi sekali dalam mewujudkan suatu tatanan pemerintahan yang sesuai dengan Syari’at Islam yaitu Khilafah Islamiyah. Seperti evaluasi kritis atas sejarah pemerintahan Islam dalam salah satu maha karya seorang tokoh ulama Abul A’la al-Maudadi didalam bukunya yang berjudul Khilafah wal Mulk. Dalam kisahnya memperjuangkan sistem khilafah dimata dunia sangat menarik perhatian para pembaca dari buku-buku yang ditulisnya. Abul A’la sangat anti sekali dengan demokrasi, sama seperti kelompok diatas. Dan landasan yang mendasarinya juga sama mengenai kedaulatan.
Untuk menanggapinya, penulis ingin bertanya terlebih dahulu kepada para pemberontak demokrasi ini. Sudah siapkah anda menjadikan sebuah negara dengan sistem pemerintahan Khilafah Islamiyah? Sudah siapkah anda menghadapi permasalah-permasalahan negeri ini dari masa kemasa sambil menggeser demokrasi dari singgasananya? Dapatkah anda menjamin kesejahteraan rakyat dibawah naungan khilafah seperti yang anda dambakan? Ya,sudah pasti jawabannya “insya Allah”.
Perlu kita ketahui bahwa manusia bukanlah malaikat yang bersih dari dosa dan kesalahan. Hanya Rasulullah saw, pemimpin yang sangat sempurna. Sepeninggalnya, tidak ditemukan pemimpin yang sesempurna dari dirinya. Wajar, beliau adalah seorang Rasul. Lantas, dizaman sekarang? Mungkinkah ada manusia seperti Rasulullah? Jawabnya tetap “insya Allah ada”. Beriringan dengan arus globalisasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat memungkinkan seseorang untuk jauh dari kehidupan beragama. Bahkan seorang muslim sekalipun. Meskipun banyak kita jumpai pelopor-pelopor kebenaran yang ingin mewujudkan Khilafah Islamiyah, tetapi tetap saja, itu merupakan ilusi semata.jika mereka mengangap demokrasi adalah ilusi maka tidak ada salahnya orang yang hidup dalam pemerintahan demokrasi mengatakan perwujudan khilafah adalah ilusi. Karena khilafah hanya bisa ditegakkan oleh Rasulullah saw saja.
                Dari sedikit dari sekian banyak anggapan orang tentang demokrasi diatas, maka dapat disimpulkan, manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan tuhan dengan dibekali akal dan pikiran sehingga dapat membedakan mana yang benar dan salah. Dalam kehidupan sehari-hari ternyata tidak ada kata “salah”, semua “benar” adanya. Apapun sistem pemerintahannya, sebaik dan sesempurna apapun ideologinya, meski khilafah sekalipun tanpa memiliki manusia yang berakhlak, berilmu, dan berkualitas, maka itu adalah hal yang sia-sia. Kesejahteraan akan terus menjadi ilusi setiap orang.

Sabtu, 05 Januari 2013

opini



Walimah Bukan Pestafora
Oleh: Fahrizul Ikram

Pesta itu asyik, jika semua sistem telah berjalan sebagaimana yang di inginkan. Pesta adalah tempat berkumpulnya keluarga maupun teman dan rekan-rekan kita dalam satu acara. Dimana tempat lahirnya semua ekpspresi yang melukiskan kebahagiaan semua orang. Ditambah lagi, tuntutan zaman yang memaksa kita untuk berpesta jika berencana membuat sebuah acara. Tetap saja kita tidak bisa menolak jika zaman yang meminta. Karena apa? Ya apa lagi kalau bukan karena gengsi. Selain itu ada pula yang mencari keuntungan dari sebuah pesta yang diselenggarakan. Seperti halnya dalam pesta pernikahan atau “weedding party” bahasa kerennya. Jika kita telusuri lebih dalam, tidak sedikit masyarakat kita yang menyelenggarakan pesta pernikahan, hanyalah untuk mencari keuntungan materi saja. Sederhananya, mereka menginvestasikan uang mereka untuk mempersiapkan bahan-bahan yang deperlukan untuk sebuah pesta. Hal yang paling umum yang paling sering kita jumpai dalam pesta adalah makanan, dan hiburan. Ini adalah hal-hal yang harus ada dalam sebuah pesta, karena dari situlah penyelenggara akan mendapatkan keuntungan. Hidangan yang disajikan sangat menarik perhatian tamu undangan untuk mnghadiri sebuah pesta tersebut. jika dalam sebuah pesta tidak terdapat sesuatupun yang dapat untuk dimakan, maka seorang tamu undangan akan berfikir seribu kali untuk datang memenuhi undangan tersebut. kemudian hiburan, jika sebuah pesta tidak terdapat sebuah hiburan didalamnya maka itu sangat mempengaruhi tamu undangan yang datang. Sebab tamu undangan akan merasa terhibur dan dapat merasakan suasana yang ramai, sehingga tidak membuatnya bosan. Pada umumnya hiburan yang sangat disenangi oleh tamu undangan dewasa ini adalah Keyboard. Dimanapun dan kapanpun tetap saja Keyboard yang paling populer. Sehingga dari kedua hal tersebut, kita dapat menyadari bahwa, semakin banyak tamu maka semakin banyak amplopnya. Nah tentu saja ini merupakan sebuah bisnis tahunan yang mengutungkan. Jika kita hitung dari makanan yang telah disantap, anggap saja satu porsi harganya RP15.000, dan satu amplop rata-ratanya Rp20.000-Rp25.000. Berapakah keuntungan yang diperoleh dari seorang tamu Undangan? Iya, Rp5000-Rp10.000.
Dapat kita kalikan berapa banyak keuntungan yang diperoleh jika tamu undangan mencapai 10.000 orang. Inilah realita kehidupan pada akhir zaman. Sebenarnya, bukan seperti itu yang anjurkan Islam untuk umat Muslim yang menyelenggarakan pesta pernikahan atau yang lazimnya disebut Waliemah dari kebanyakan orang.
Waliemah adalah peralatan perkawinan yang disdiakan oleh mempelai laki-laki setelah akad berlangsung dan mempelai laki-laki memasuki kamar pengantin istri, dengan sekurang-kurangnya dengan menyembelih seekor kambing jiaka sanggup. Dan Rasul juga telah melakukan hal yang demikian itu. sebagai mana diberitakan oleh Annas r.a “Bahwa Nabi saw melaksanakan Waliemahnya untuk Zainab dengan menyembeli seeekor kambing”.
Tetapi, diceritakan oleh Asma binti ‘umais, ia berkata: “aku menjadi teman Aisyah ra. pada malam aku menyelenggarakannya untuk dimasukkan kedalam rumah Rasul. Aisyah ditemani oleh beberpa perempuan lain. Demi Allah, kami hanya mendapati disisi Rasulullah kala itu hanya segelas besar susu. Maka Nabi kemukakan kepada Aisyah. Tetapi Aisyah malu menerimanya, sehingga dengan ajakanku yang keras Aisyahpun menerimanya dengan malu dan meminumnya. Stelah itu Nabi berkata “berilah kepada teman-temanmu yang lain.” Kemudian aku berkata “kami tidak suka minum susu ya Rasulullah” (saya katakan itu karena melihat sedikitnya susu itu) mendengar itu Rasulullah berkata “jangan kamu kumpulkan Lapar dan Dusta”. Kemudian aku bertanya “apakah ya rasulullah jika kami mengatakan tidak suka kepada sesuatunya yang sebenarnya kami suka dipandang dusta?. Menjawab Nabi, “segala dusta itu dicatat, tak ada yang terluputi dari catatannya”.

Dari beberpa hadis yang disebutkan diatas, diketahui bahwa Waliemah itu dituntut atas suami dan dilaksanakan setelah Dukhul, dengan cara yang sederhana. Dan difahamkan bahwa atas orang yang berada, dituntut Waliemah itu sekurang-kurangnya seekor kambing. Tidak salah jika sesorang yang memiliki kesanggupan membuat waliemah yang besar-besaran, mengundang beribu-ribu orang. Tetapi apalah artinya semua itu jika hanya menambah dosa dan mengurangi berkah Allah ‘aza wazalla. Tamu yang diundang juga merupakan orang-orang yang besar, memiliki jabatan dan sebagainya. Barulah ia menyantap makanan itu sesuka hatinya, jika ia sanggup maka habislah satu porsi, tetapi jika tidak maka terbuanglah makanan itu dan menjadilah ia mubazir. Dari realita yang terjadi, kita dapat melihat betapa banyak makanan yang terbuang pada setiap melaksanakan suatu acara yang berlebihan seperti ini. orang yang terbiasa makan enak, dan terbiasa hidup dalam kemewahan, tidak tersentuh hatinya melihat makanan yang bertimbun di tempat cuci piring yang berada didapur pesta. Tetapi jika orang yang terbiasa hidupnya susah, bahkan untuk mencari makan saja harus mengemis dan merangkak mengaisi sampah, melihat itu semua mereka akan menangis. Mereka begitu susah untuk mendapatkan sekepal nasi, tapi disini, pada pesta yang begitu meriah ini, begitu mudahnya mereka membuang-buangnya.
Inilah kenyataan yang begitu nyata untuk kita lihat. Para umat sekarang, mengaku dirinya pengemban sunnah, tetapi malah berlomba-lomba dalam kemegahan dalam Waliemah. Maka, dengan demikian, mereka membuat dua kesalahan. Yang pertama, memberat-beratkan diri, dan yang kedua ialah mengerjakannya tidak sesuai dengan tuntutan agama, melainkan hanya mementingkan untuk kesesuaian pada perkembangan zaman. Entah kesalahan yang kedua akibat dari kesalahan yang pertama? Hanya saja kita perlu menyadari bahwa kesalahan-kesalahan itu menimbulkan banyak kesalahan.