Daftar Blog Saya

Rabu, 03 April 2013

PR dalam kasus belajar mengajar



Sudah Tanggung Jawab Orang Tua menjadi Fasilitator PR Anaknya

Oleh: Fahrizul Ikram


Pekerjaan Rumah (PR) adalah hal yang wajar didapatkan seorang anak di sekolahnya. Hal itu dilakukan, selain untuk menambah wawasan anak, juga untuk memenuhi kebijakan-kebijakan sekolah dalam menjalankan kewajibannya sebagai tempat menimba ilmu. Selain itu sekolah juga berperan dalam pembentukan kepribadian dan karakter anak itu sendiri. Kadang Orang tua salah mempersepsikan hal itu sehingga terjadi kesalahpahaman antara orang tua dengan guru di sekolah. Kewajiban seorang guru selain mentransfer ilmu kepada muridnya di ruang kelas, tetapi juga berkewajiban untuk membiasakan anak muridnya belajar di luar ruang kelas dengan memberikan tugas yang harus diselesaikan di luar jam belajar. Perlu juga untuk diketahui bahwa mengajar  berbeda dengan mendidik. Mengajar adalah suatu kegiatan dalam penyampaian suatu ilmu kepada seseorang. Sedangkan mendidik adalah  membimbing, mengarahkan, serta membentuk kepribadian anak menjadi pribadi yang diharapkan. Sudah selayaknya para orang tua mengetahui betapa besarnya tanggung jawab seorang guru terhadap peserta didiknya. Jika orang tua belum mengerti bagaimana besarnya tanggung jawab seorang guru kepada peserta didiknya seiring dengan arus globalisasi saat ini, maka penulis ingin menjelaskan sedikit agar dapat dimengerti.
Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan adalah guru. Gurulah yang terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya manusia. Guru berhadapan langsung dengan para peserta didik dikelas melalui proses belajar mengajar. Ditangan gurulah akan dihasilkan peserta didik yang berkualitas, baik secara akademis, kematangan emosional dan moral, serta spiritualnya. Dengan demikian akan dihasilkan generasi masa depan yang siap hidup dengan tantangan zamannya. Oleh karena itu diperlukan sosok guru yang mempunyai kualifikasi, kompetensi, dan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan tugas profesionalnya. Apalagi dalam perubahan kurikulum yang menekankan kompetensi, guru memegang peranan penting terhadap implementasi KTSP, karena gurulah yang pada akhirnya akan melaksanakan kurikulum didalam kelas. Menurut mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hasan mengatakan sebaik apapun kurikulum dan sistem pendidikan yang ada, tanpa didukung oleh mutu guru yang memenuhi syarat, maka semuanya akan sia-sia.
Tugas dan peran guru dari hari kehari semakin berat, seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru sebagai komponen utama dalam dunia pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dalam masyarakat. Melalui sentuhan guru di sekolah diharapkan mampu menghasilkan peserta didik yang memiliki kompetensi tinggi dan siap menghadapi tantangan hidup dengan penuh keyakinan dan percaya diri yang tinggi. Sekarang dan kedepan sekolah harus mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, baik secara keilmuan maupun secara sikap mental. Oleh karena itu dibutuhkan beberapa komponen yang dapat mewujudkannya, yaitu; (1) kepala sekolah yang dinamis dan komunikatif dengan kemerdekaan memimpin menuju visi keunggulan pendidikan; (2) memiliki visi, misi, dan strategi untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan dengan jelas; (3) guru-guru yang kompeten dan berjiwa kader yang senantiasa bergairah dalam melaksanakan profesionalnya secara inovatif; (4) siswa-siswa yang sibuk, bergairah dan bekerja keras dalam mewujudkan perilaku pembelajar; (5) masyarakat dan orang tua yang berperan serta, dalam menunjang pendidikan.
Dalam sebuah kasus yang kita temui baru-baru ini, banyaknya orang tua yang memandang PR anaknya mengarah kepada sisi yang negatif, sehingga adanya pernyataan bahwa PR anak sangat membebani orang tua, bahkan membuat orang tua kesal dan jengkel dengan PR anaknya. Terkadang mereka juga berpikir PR itu dibuat untuk anaknya atau untuk orang tuanya? toh pada akhirnya orang tua juga yang mengerjakannya. sehingga waktu untuk berkomunikasi dengan anaknya jadi berkurang karena disibukkan dengan PR, akibatnya orang tua merasa kehilangan waktu untuk berinteraksi yang intens dengan anaknya. Jika dilihat dari sisi negatifnya saja ya memang terlihat merugikan, tapi semua itu merupakan sesuatu yang keliru.  Karena, jika dipandang sisi positifnya justru sangat berdampak baik terhadap kepribadian anak. Waktu anak yang pada umumnya terbuang untuk bermain jadi lebih bermanfaat dengan adanya PR, sehingga seorang anak akan terbiasa dan dapat lebih memahami semua yang didapatnya disekolah. Alhasil, pengetahuannya akan lebih luas dan mempercepat perkembangan kognitifnya. Sebenarnya sudah menjadi tanggung jawab orang tua ikut serta dalam memberikan pendidikan kepada anaknya. Jika disekolah, ya memang sudah menjadi tanggung jawab guru memberikan pendidikan kepada muridnya, namun jika dirumah sudah selayaknya orang tua bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan belajar anaknya seperti tugas ataupun PR dan sejenisnya.
Pemberian PR kepada murid merupakan hal yang wajar dilakukan oleh guru kepada peserta didiknya guna mencapai tujuan pendidikan yang berdasarkan Standar Pendidikan Nasional. Sedangkan tujuan yang sebenarnya dari pemberian PR tersebut merupakan salah satu instrumen guru dalam proses belajar-mengajar yang dapat mengembangkan kebiasaan belajar, mendorong kebiasaan positif dalam belajar, serta sarana komunikasi orang tua dan guru disekolah. Maka dari itu, pemberian PR kepada peserta didik diharapkan proses pencapaian pembelajaran dapat berjalan dengan baik, karena dilakukan dengan dua arah yaitu sekolah dan rumah. Harus kita ketahui juga bahwa peran orang tua dalam PR ini adalah memberikan fasilitas sejauh yang anak butuhkan dalam mengerjakan PRnya.
Campur tangan orang tua dalam  persoalan PR anak sebaiknya dilakukan dengan seminimal mungkin, agar anak tersebut dapat belajar lebih mandiri.  Selain itu seorang anak akan dapat mengerti dengan perjuangan dalam mencapai sesuatu tujuan lewat persoalan-persoalan sulit yang dihadapinya ketika membuat PR. Jika hal-hal seperti ini telah ditanamkan sejak dini maka akan sangat berdampak positif sekali untuk masa depan anak. Jadi, sebaiknya orang tua memandang PR tersebut tidak dengan sisi negatifnya saja, karena itu akan membuat orang tua mengeluh dan akibatnya akan merusak sosialisasi antara orang tua dan guru disekolah. Dan yang menjadi korban adalah anaknya sendiri. Karena hal-hal seperti itu akan mengurangi minat anak untuk belajar. Mengapa tidak? Orang tuanya saja mengeluh dengan PR anaknya, bagaimana pula dengan anaknya?. Maka jangan heran jika anak akan merengek kepada orang tua jika kebutuhan dalam menyelesaikan PRnya tidak terpenuhi.
Coba kita lihat bagaimana perbedaan antara sikap orang tua yang memandang PR pada sisi positif dan sikap orang tua yang memandang  PR pada sisi negatif. Orang tua yang memandang PR anaknya pada sisi positif akan lebih percaya diri dalam memberikan asupan pendidikan bagi anak, sehingga sangat mendorong perkembangan pengetahuannya. Sedangkan orang tua yang memandang jelek pemberian PR kepada anaknya, ia akan selalu berpikir yang jelek terus menerus kepada sekolah maupun guru yang memberikan PR tersebut. akibatnya kepercayaan dirinya akan berkuraang dalam memberikan dorongan kepada anaknya untuk belajar. Yang dirugikan justru anak, dia juga akan kehilangan rasa percaya diri, dan rasa cintanya terhadap pelajaran tersebut akan berkurang bahkan hilang sama sekali akibat asutan orang tua yang menyalah-nyalahkan PR anaknya.
Internet merupakan salah satu media yang sangat berguna dalam membantu perkembangan ilmu pengetahuan. Apabila guru menyuruh muridnya untuk mencari bahan pelajaran di internet maka itu merupakan sesuatu yang wajar. Sebab, mungkin saja disekolah media pembelajarannya masih kurang atau belum memenuhi standar nasional pendidikan. Maka dari internet peserta didik bisa mendapatkan informasi yang lengkap dari semua yang dibutuhkan dalam proses belajar-mengajar. Jika orang tua masih mengkhawatirkan anaknya menyalah gunakan internet sebagai media pembelajaran yang efektif, maka sebaiknya orang tua mengawasi kegiatan anaknya ketika mengunjungi internet. Apalagi dewasa ini memang sangat terlihat sekali dampak negatif dari internet tersebut. Hal yang sering digunakan anak ketika membuka internet baik dirumah maupun di warung internet misalnya, adalah bermain game online seperti Point Blank, membuka sosial media seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Lebih parahnya lagi apabila anak tersebut membuka situs-situ porno ataupun situs-situs yang sangat berdampak buruk terhadap perkembangannya. Maka dari itu dibutuhkan peran orang tua untuk mengawasi anaknya agar tidak menyalah gunakan fasilitas internet yang sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan.
Dengan mengawasi jalannya kegiatan anak membuat PR, orang tua seharusnya menyadari dalam dunia pendidikan itu harus ada pengorbanan, baik berupa waktu, materi dan sebagainya. Apalah gunanya orang tua hanya menghitung-hitung seberapa banyak uang yang habis untuk membiayai dalam memberikan fasilitas belajar kepada anaknya mengingat hal itu nantinya juga untuk kebaikan anak itu sendiri.
Untuk itu dengan banyaknya tanggapan negatif orang tua terhadap PR yang diberikan kepada anaknya, penulis ingin memberikan saran kepada guru dalam pemberian PR kepada muridnya. Pertama, tugas yang diberikan harus sesuai dengan tingkat kompetensi anak, usia, dan kemampuannya dalam menyelesaikan PR tersebut. Dan tidak boleh melampaui batas kemampuan anak didik untuk mengerjakannya. Kedua, waktu yang dibutuhkan anak untuk mengerjakan PR, sebaiknya tidak melebihi batas maksimal sepertiga dari jumlah jam belajarnya di kelas dengan materi yang sama. Dan yang ketiga, jumlah PR yang diberikan harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan, serta menyesuaikan materi dengan yang tertera pada kurikulum.
Dari pernyataan-pernyataan diatas maka kita dapat menyimpulkan bahwa PR anak bukanlah suatu hal yang menjadi beban orang tua, karena memang sudah tanggung jawab orang tua kepada anaknya untuk memenuhi semua keperluan sekolah anaknya, baik bahan-bahan pelajaran, buku, alat tulis dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Dari apa yang menjadi anggapan orang tua yang memberikan pernyataan keras terhadap pemberian PR tersebut adalah benar-benar kekeliruan dalam dunia pendidikan. Mungkin orang tuanya tidak berpendidikan sehingga ia dapat menyatakan bahwa PR anak sangat membebaninya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar