Daftar Blog Saya

Selasa, 02 April 2013

Peran Pancassila dalam arus Globilsasi




 Peran Pancasila Dalam Arus Globalisasi

 oleh: Fahrizul Ikram

 
Negara Republik Indonesia memang tergolong muda dalam barisan negara-negara didunia. Tetapi bangsa Indonesia lahir dari sejarah dan kebudayaannya yang tua, melalui gemilangnya kerajaan Sriwijaya, Mataram dan Majapahit, kemudian mengalami masa penderitaan penjajahan sepanjang tiga setengah abad sampai akhirnya bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejarah bangsa Indonesia untuk merebut kembali kemerdekaannya sama tuanya dengan sejarah penjajahan itu sendiri. Berbagai babak sejarah dilampaui dan berbagai jalan telah ditempuh dengan gaya yang berbeda-beda mulai dengan cara-cara yang lemah sampai cara-cara yang keras, mulai dari gerakan kaum cendekiawan yang terbatas sampai pada gerakan yang menghimpun kekuatan rakyat banyak, mulai dari bidang pendidikan, kesenian, perdagangan sampai pada gerakan-gerakan politik.
Setelah melalui babak-babak sejarah sebelum terbentuknya negara Indonesia, barulah dimulai perancangan bentuk negara dan pemerintahan negara Indonesia. Maka para tokoh-tokoh bangsa Indonesia sibuk mendiskusikan serta merancang perumusan pancasila, yang akan dijadikan sebagai dasar negara. Pancasila sebagai dasar negara merupakan kesepakatan politik pada saat terbentuknya negara Indonesia hingga sekarang. Sebagai dasar negara, pancasila harus  bisa menghadapi  tantangan global dunia yang terus berkembang saat ini mengingat pancasila adalah acuan negara. Akan tetapi sebuah permasalahan besar bangsa Indonesia saat ini adalah penerapan dari niai-nilai pancasila tersebut mulai memudar pada diri bangsa yang disebabkan oleh globalisasi yang terus berkembang. Disinilah peran pancasila dalam menghadapi kencangnya arus globlisasi yang dapat merusak kepribadian bangsa. Dimana pancasila adalah kepribadian bangsa indonesia, yang memiliki makna bahwa sikap, tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia memeiliki ciri khas tersendiri, sehingga dapat membedakannya dengan bangsa yang lain. Ciri khas inilah yang diartikan sebagai kepribadian bangsa.
Pengaruh masuknya budaya asing ditengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang selalu diikuti tanpa adanya penyaringan kaidah merupakan salah satu penyebab semakin berkurangnya rasa nasionalisme bangsa. Sehingga konsep yang menyatakan pancasila sebagai kepribadian bangsa lenyap begitu saja dengan pengaruh budaya asing yang terus meluas keseluruh penjuru negeri. Betapa sayangnya bumi ibu pertiwi yang di atasnya terdapat beribu-ribu suku, bahasa dan budaya, namun dapat dengan mudahnya ditepis oleh kebudayaan asing dan kemudian menguasainya. Ini dikarenakan nilai-nilai pancasila belum mengakar didalam diri bangsa, sehingga pancasila tidak dapat kokoh berdiri seperti yang diharapkan. Dalam hal ini merupakan realita yang tidak dapat untuk kita pungkiri, melihat keadaan bangsa yang terus mengalami permasalahan-permaslahan dari waktu kewaktu, baik dari segi pemerintahan/ politik, masyarakat dan tindak kejahatan dan kriminalitas yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya.
Arus globalisasi yang terus mengancam pendirian bangsa tentunya menambah tanggung jawab setiap masyarakat yang memikul beban yang berat dengan selalu senantiasa berpegang teguh dengan nilai-nilai yang terkandung dalam rumusan pancasila. Sedikit saja kita tergoda dengan kenikmatan yang disuguhkan dunia global tanpa menyaringnya terlebih dahulu maka secara otomatis pula akan merontokkan  nilai-nilai pancasila yang telah tertanam di dalam diri kita.
Globalisasi adalah fenomena dimana batasan-batasan antar negara seakan memudar karena terjadinya berbagai perkembangan di segala aspek kehidupan, khususnya pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan terjadinya perkembangan berbagai aspek kehidupan khususnya di bidang iptek tersebut maka manusia dapat pergi dan berpindah ke berbagai negara dengan lebih mudah serta mendapatkan berbagai informasi yang ada dan segala sesuatu yang terjadi di dunia secara instan.
Kita sebagai bangsa indonesia tentu sering melihat dan sangat mengenal gambar atau lambang-lambang didalam sila-sila pancasila. Tetapi kita tidak pernah memperhatikan simbol-simbol dan makna dari simbol yang terdapat di dalam perisainya. Disinilah kita dapat memahami bahwa arus globalisasilah yang mempengaruhi masyarakat Indonesia kurang memperhatikan dari apa yang tersirat diantara lambang-lambang tersebut. didalam perisai yang terdapat pada dada burung garuda atau lambang pancasila, memiliki arti-arti tersendiri sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya.
Untuk Sila Pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa diwakili oleh simbol bintang.Simbol ini mempunyai arti bahwa Tuhan menjadi cahaya bagi setiap manusia. Sebagai masyarakat beragama sudah sepatutnya kita menjalankan kewajiban-kewajiban yang di bebankan tuhan kepada setiap umat beragama. Dengan kata lain, segala sesuatu yang bersifat moralitas yang terdapat dalam nilai-nilai agama harus berjalan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian tentunya dapat menstabilkan moralitas masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga dapat menjadi prisai dalam menangkis dmapak globalisasi yang merusak. Kemudian di  bagian kanan bawah terdapat rantai yang melambangkan Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Rantai ini mengandung makna bahwa setiap manusia, laki-laki dan perempuan,membutuhkan satu sama lain dan perlu bersatu sehingga menjadi kuat. Dengan tidak membeda-bedakan keterbelakangan dan kekurangan, ras, dan suku kelompok maupun individu, dan membenarkan segala sesuatu yang  benar dan menyalahkan segala sesuatu yang salah. Tidak berpihak  pada satu sisi, tetapi tetap berada ditengah-tengah antara yang benar dan yang salah. Sehingga dapat mengkokohkan pendirian bangsa dalam memberikan keadilan pada setiap lapisan masyarakat tanpa berpihak kepada satu sisi tertentu dengan faktor-faktor tertentu.
Selanjutnya, terdapat gambar pohon beringin untuk Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Simbol ini menyiratkan bahwa seluruh rakyat Indonesia bisa “berteduh” di bawah naungan negara Indonesia. Berlindung dari segala tekanan-tekanan yang mengancam kemaslahatan kehidupan sosial bermasyarakat, baik dari dalam maupun dari luar. Dengan bersatu maka akan terbentuk kekuatan yang besar dan perisai yang kokoh dalam melindungi bngsa dari ancaman arus globalisasi yang berdampak buruk. Di sebelah kiri atas terdapat gambar kepala banteng sebagai simbol Sila Keempat yakni Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Lambang tersebut digunakan karena dalam musyawarah di mana orang-orang harus berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu seperti halnya sifat banteng. Dan yang terakhir terdapat padi dan kapas untuk Sila Kelima yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Simbol padi dan kapas melambangkan kebutuhan dasar setiap manusia yakni pangan dan sandang sebagai syarat utama untuk mencapai kemakmuran Indonesia.
Dari kelima sila-sila tersebut, dapat kita pahami bahwa pancasila sudah terumus dengan begitu sempurna, tetapi pencerminannya dalam diri masyarakat untuk menrapkannya sebagai dasar negara tidak berjalan sesuai dengan tujuan perumusan pancasila. Pada dasarnya, pancasila sudah sangat tangguh dalam membentengi bangsa indonesia dari badai globlisasi yang dampaknya sangat buruk terhadap kepribadian bangsa Indonesia. Jika nilai-nilai pancasila tersebut sudah benar-benar tertanam didalam diri bangsa, maka kita dapat meyakini bahwa pancasila dapat berdiri kokoh meskipun diterjang badai globalisasi sekalipun. Tentunya, tujuan bangsa Indonesia dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, serta solusi dari setiap permasalahan-permasalaha yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Dengan menyaring semua yang diberikan dunia global terhadap bangsa, maka bangsa indonesia mendapatkan dampak yang baik dari arus globalisasi tersebut. sehingga pemanfaatannya sangat mempengaruhi kemajuan dan eksitensi bangsa Indonesia dalam panggung dunia.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar