Peran Pancasila Dalam Arus Globalisasi
oleh: Fahrizul Ikram
Negara Republik Indonesia memang tergolong muda dalam
barisan negara-negara didunia. Tetapi bangsa Indonesia lahir dari sejarah dan
kebudayaannya yang tua, melalui gemilangnya kerajaan Sriwijaya, Mataram dan
Majapahit, kemudian mengalami masa penderitaan penjajahan sepanjang tiga
setengah abad sampai akhirnya bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya
pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejarah bangsa Indonesia untuk merebut kembali
kemerdekaannya sama tuanya dengan sejarah penjajahan itu sendiri. Berbagai
babak sejarah dilampaui dan berbagai jalan telah ditempuh dengan gaya yang
berbeda-beda mulai dengan cara-cara yang lemah sampai cara-cara yang keras,
mulai dari gerakan kaum cendekiawan yang terbatas sampai pada gerakan yang
menghimpun kekuatan rakyat banyak, mulai dari bidang pendidikan, kesenian,
perdagangan sampai pada gerakan-gerakan politik.
Setelah melalui babak-babak sejarah sebelum terbentuknya
negara Indonesia, barulah dimulai perancangan bentuk negara dan pemerintahan
negara Indonesia. Maka para tokoh-tokoh bangsa Indonesia sibuk mendiskusikan
serta merancang perumusan pancasila, yang akan dijadikan sebagai dasar negara.
Pancasila sebagai dasar negara merupakan kesepakatan politik pada saat
terbentuknya negara Indonesia hingga sekarang. Sebagai dasar negara, pancasila
harus bisa menghadapi tantangan global dunia yang terus berkembang
saat ini mengingat pancasila adalah acuan negara. Akan tetapi sebuah
permasalahan besar bangsa Indonesia saat ini adalah penerapan dari niai-nilai
pancasila tersebut mulai memudar pada diri bangsa yang disebabkan oleh
globalisasi yang terus berkembang. Disinilah peran pancasila dalam menghadapi
kencangnya arus globlisasi yang dapat merusak kepribadian bangsa. Dimana
pancasila adalah kepribadian bangsa indonesia, yang memiliki makna bahwa sikap,
tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia memeiliki ciri khas tersendiri,
sehingga dapat membedakannya dengan bangsa yang lain. Ciri khas inilah yang
diartikan sebagai kepribadian bangsa.
Pengaruh masuknya budaya asing ditengah-tengah kehidupan
masyarakat Indonesia yang selalu diikuti tanpa adanya penyaringan kaidah
merupakan salah satu penyebab semakin berkurangnya rasa nasionalisme bangsa.
Sehingga konsep yang menyatakan pancasila sebagai kepribadian bangsa lenyap
begitu saja dengan pengaruh budaya asing yang terus meluas keseluruh penjuru
negeri. Betapa sayangnya bumi ibu pertiwi yang di atasnya terdapat beribu-ribu
suku, bahasa dan budaya, namun dapat dengan mudahnya ditepis oleh kebudayaan
asing dan kemudian menguasainya. Ini dikarenakan nilai-nilai pancasila belum
mengakar didalam diri bangsa, sehingga pancasila tidak dapat kokoh berdiri
seperti yang diharapkan. Dalam hal ini merupakan realita yang tidak dapat untuk
kita pungkiri, melihat keadaan bangsa yang terus mengalami permasalahan-permaslahan
dari waktu kewaktu, baik dari segi pemerintahan/ politik, masyarakat dan tindak
kejahatan dan kriminalitas yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya.
Arus globalisasi yang terus mengancam pendirian bangsa
tentunya menambah tanggung jawab setiap masyarakat yang memikul beban yang
berat dengan selalu senantiasa berpegang teguh dengan nilai-nilai yang
terkandung dalam rumusan pancasila. Sedikit saja kita tergoda dengan kenikmatan
yang disuguhkan dunia global tanpa menyaringnya terlebih dahulu maka secara
otomatis pula akan merontokkan
nilai-nilai pancasila yang telah tertanam di dalam diri kita.
Globalisasi adalah fenomena
dimana batasan-batasan antar negara seakan memudar karena terjadinya berbagai
perkembangan di segala aspek kehidupan, khususnya pada bidang ilmu pengetahuan
dan teknologi. Dengan terjadinya perkembangan berbagai aspek kehidupan
khususnya di bidang iptek tersebut maka manusia dapat pergi dan berpindah ke
berbagai negara dengan lebih mudah serta mendapatkan berbagai informasi yang
ada dan segala sesuatu yang terjadi di dunia secara instan.
Kita sebagai bangsa indonesia
tentu sering melihat dan sangat mengenal gambar atau lambang-lambang didalam
sila-sila pancasila. Tetapi kita tidak pernah memperhatikan simbol-simbol dan
makna dari simbol yang terdapat di dalam perisainya. Disinilah kita dapat
memahami bahwa arus globalisasilah yang mempengaruhi masyarakat Indonesia
kurang memperhatikan dari apa yang tersirat diantara lambang-lambang tersebut.
didalam perisai yang terdapat pada dada burung garuda atau lambang pancasila,
memiliki arti-arti tersendiri sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung
didalamnya.
Untuk Sila
Pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa diwakili oleh simbol bintang.Simbol ini
mempunyai arti bahwa Tuhan menjadi cahaya bagi setiap manusia. Sebagai masyarakat beragama sudah sepatutnya kita menjalankan
kewajiban-kewajiban yang di bebankan tuhan kepada setiap umat beragama. Dengan
kata lain, segala sesuatu yang bersifat moralitas yang terdapat dalam
nilai-nilai agama harus berjalan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian
tentunya dapat menstabilkan moralitas masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Sehingga dapat menjadi prisai dalam menangkis dmapak globalisasi
yang merusak. Kemudian di bagian kanan bawah terdapat rantai yang
melambangkan Sila Kedua, Kemanusiaan
yang Adil dan Beradab. Rantai ini mengandung makna bahwa setiap manusia,
laki-laki dan perempuan,membutuhkan satu sama lain dan perlu bersatu sehingga
menjadi kuat. Dengan tidak membeda-bedakan keterbelakangan dan kekurangan, ras, dan suku
kelompok maupun individu, dan membenarkan segala sesuatu yang benar dan menyalahkan segala sesuatu yang
salah. Tidak berpihak pada satu sisi,
tetapi tetap berada ditengah-tengah antara yang benar dan yang salah. Sehingga
dapat mengkokohkan pendirian bangsa dalam memberikan keadilan pada setiap
lapisan masyarakat tanpa berpihak kepada satu sisi tertentu dengan faktor-faktor
tertentu.
Selanjutnya, terdapat gambar pohon
beringin untuk Sila Ketiga,
Persatuan Indonesia. Simbol
ini menyiratkan bahwa
seluruh
rakyat Indonesia bisa “berteduh” di bawah naungan negara Indonesia. Berlindung dari segala tekanan-tekanan yang mengancam
kemaslahatan kehidupan sosial bermasyarakat, baik dari dalam maupun dari luar.
Dengan bersatu maka akan terbentuk kekuatan yang besar dan perisai yang kokoh
dalam melindungi bngsa dari ancaman arus globalisasi yang berdampak buruk. Di sebelah kiri atas terdapat gambar kepala banteng
sebagai simbol Sila Keempat yakni Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Lambang tersebut
digunakan karena dalam musyawarah di mana orang-orang harus berkumpul untuk
mendiskusikan sesuatu seperti halnya sifat banteng. Dan yang terakhir terdapat padi dan
kapas untuk Sila Kelima yaitu
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Simbol padi dan kapas
melambangkan kebutuhan dasar setiap manusia yakni pangan dan sandang sebagai
syarat utama untuk mencapai kemakmuran Indonesia.
Dari kelima
sila-sila tersebut, dapat kita pahami bahwa pancasila sudah terumus dengan
begitu sempurna, tetapi pencerminannya dalam diri masyarakat untuk menrapkannya
sebagai dasar negara tidak berjalan sesuai dengan tujuan perumusan pancasila.
Pada dasarnya, pancasila sudah sangat tangguh dalam membentengi bangsa
indonesia dari badai globlisasi yang dampaknya sangat buruk terhadap
kepribadian bangsa Indonesia. Jika nilai-nilai pancasila tersebut sudah
benar-benar tertanam didalam diri bangsa, maka kita dapat meyakini bahwa
pancasila dapat berdiri kokoh meskipun diterjang badai globalisasi sekalipun.
Tentunya, tujuan bangsa Indonesia dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, serta
solusi dari setiap permasalahan-permasalaha yang sedang dihadapi bangsa
Indonesia. Dengan menyaring semua yang diberikan dunia global terhadap bangsa,
maka bangsa indonesia mendapatkan dampak yang baik dari arus globalisasi
tersebut. sehingga pemanfaatannya sangat mempengaruhi kemajuan dan eksitensi
bangsa Indonesia dalam panggung dunia.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar