Sudah Tanggung Jawab Orang Tua menjadi Fasilitator PR
Anaknya
Oleh: Fahrizul Ikram
Pekerjaan Rumah (PR) adalah hal yang wajar didapatkan
seorang anak di sekolahnya. Hal itu dilakukan, selain untuk menambah wawasan
anak, juga untuk memenuhi kebijakan-kebijakan sekolah dalam menjalankan
kewajibannya sebagai tempat menimba ilmu. Selain itu sekolah juga berperan
dalam pembentukan kepribadian dan karakter anak itu sendiri. Kadang Orang tua
salah mempersepsikan hal itu sehingga terjadi kesalahpahaman antara orang tua
dengan guru di sekolah. Kewajiban seorang guru selain mentransfer ilmu kepada
muridnya di ruang kelas, tetapi juga berkewajiban untuk membiasakan anak
muridnya belajar di luar ruang kelas dengan memberikan tugas yang harus
diselesaikan di luar jam belajar. Perlu juga untuk diketahui bahwa mengajar berbeda dengan mendidik. Mengajar adalah suatu
kegiatan dalam penyampaian suatu ilmu kepada seseorang. Sedangkan mendidik
adalah membimbing, mengarahkan, serta
membentuk kepribadian anak menjadi pribadi yang diharapkan. Sudah selayaknya
para orang tua mengetahui betapa besarnya tanggung jawab seorang guru terhadap
peserta didiknya. Jika orang tua belum mengerti bagaimana besarnya tanggung
jawab seorang guru kepada peserta didiknya seiring dengan arus globalisasi saat
ini, maka penulis ingin menjelaskan sedikit agar dapat dimengerti.
Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan
adalah guru. Gurulah yang terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya
manusia. Guru berhadapan langsung dengan para peserta didik dikelas melalui
proses belajar mengajar. Ditangan gurulah akan dihasilkan peserta didik yang
berkualitas, baik secara akademis, kematangan emosional dan moral, serta
spiritualnya. Dengan demikian akan dihasilkan generasi masa depan yang siap
hidup dengan tantangan zamannya. Oleh karena itu diperlukan sosok guru yang
mempunyai kualifikasi, kompetensi, dan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan
tugas profesionalnya. Apalagi dalam perubahan kurikulum yang menekankan
kompetensi, guru memegang peranan penting terhadap implementasi KTSP, karena
gurulah yang pada akhirnya akan melaksanakan kurikulum didalam kelas. Menurut
mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hasan mengatakan sebaik apapun
kurikulum dan sistem pendidikan yang ada, tanpa didukung oleh mutu guru yang
memenuhi syarat, maka semuanya akan sia-sia.
Tugas dan peran guru dari hari kehari semakin berat,
seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru sebagai
komponen utama dalam dunia pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan
melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dalam
masyarakat. Melalui sentuhan guru di sekolah diharapkan mampu menghasilkan
peserta didik yang memiliki kompetensi tinggi dan siap menghadapi tantangan
hidup dengan penuh keyakinan dan percaya diri yang tinggi. Sekarang dan kedepan
sekolah harus mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, baik secara
keilmuan maupun secara sikap mental. Oleh karena itu dibutuhkan beberapa
komponen yang dapat mewujudkannya, yaitu; (1) kepala sekolah yang dinamis dan
komunikatif dengan kemerdekaan memimpin menuju visi keunggulan pendidikan; (2)
memiliki visi, misi, dan strategi untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan
dengan jelas; (3) guru-guru yang kompeten dan berjiwa kader yang senantiasa bergairah
dalam melaksanakan profesionalnya secara inovatif; (4) siswa-siswa yang sibuk,
bergairah dan bekerja keras dalam mewujudkan perilaku pembelajar; (5)
masyarakat dan orang tua yang berperan serta, dalam menunjang pendidikan.
Dalam sebuah kasus yang kita temui baru-baru ini,
banyaknya orang tua yang memandang PR anaknya mengarah kepada sisi yang negatif,
sehingga adanya pernyataan bahwa PR anak sangat membebani orang tua, bahkan
membuat orang tua kesal dan jengkel dengan PR anaknya. Terkadang mereka juga
berpikir PR itu dibuat untuk anaknya atau untuk orang tuanya? toh pada akhirnya
orang tua juga yang mengerjakannya. sehingga waktu untuk berkomunikasi dengan
anaknya jadi berkurang karena disibukkan dengan PR, akibatnya orang tua merasa
kehilangan waktu untuk berinteraksi yang intens dengan anaknya. Jika dilihat
dari sisi negatifnya saja ya memang terlihat merugikan, tapi semua itu
merupakan sesuatu yang keliru. Karena,
jika dipandang sisi positifnya justru sangat berdampak baik terhadap
kepribadian anak. Waktu anak yang pada umumnya terbuang untuk bermain jadi
lebih bermanfaat dengan adanya PR, sehingga seorang anak akan terbiasa dan
dapat lebih memahami semua yang didapatnya disekolah. Alhasil, pengetahuannya
akan lebih luas dan mempercepat perkembangan kognitifnya. Sebenarnya sudah
menjadi tanggung jawab orang tua ikut serta dalam memberikan pendidikan kepada
anaknya. Jika disekolah, ya memang sudah menjadi tanggung jawab guru memberikan
pendidikan kepada muridnya, namun jika dirumah sudah selayaknya orang tua
bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan belajar anaknya seperti tugas
ataupun PR dan sejenisnya.
Pemberian PR kepada murid merupakan hal yang wajar
dilakukan oleh guru kepada peserta didiknya guna mencapai tujuan pendidikan
yang berdasarkan Standar Pendidikan Nasional. Sedangkan tujuan yang sebenarnya
dari pemberian PR tersebut merupakan salah satu instrumen guru dalam proses
belajar-mengajar yang dapat mengembangkan kebiasaan belajar, mendorong
kebiasaan positif dalam belajar, serta sarana komunikasi orang tua dan guru
disekolah. Maka dari itu, pemberian PR kepada peserta didik diharapkan proses
pencapaian pembelajaran dapat berjalan dengan baik, karena dilakukan dengan dua
arah yaitu sekolah dan rumah. Harus kita ketahui juga bahwa peran orang tua
dalam PR ini adalah memberikan fasilitas sejauh yang anak butuhkan dalam
mengerjakan PRnya.
Campur tangan orang tua dalam persoalan PR anak sebaiknya dilakukan dengan
seminimal mungkin, agar anak tersebut dapat belajar lebih mandiri. Selain itu seorang anak akan dapat mengerti
dengan perjuangan dalam mencapai sesuatu tujuan lewat persoalan-persoalan sulit
yang dihadapinya ketika membuat PR. Jika hal-hal seperti ini telah ditanamkan
sejak dini maka akan sangat berdampak positif sekali untuk masa depan anak.
Jadi, sebaiknya orang tua memandang PR tersebut tidak dengan sisi negatifnya saja,
karena itu akan membuat orang tua mengeluh dan akibatnya akan merusak
sosialisasi antara orang tua dan guru disekolah. Dan yang menjadi korban adalah
anaknya sendiri. Karena hal-hal seperti itu akan mengurangi minat anak untuk belajar.
Mengapa tidak? Orang tuanya saja mengeluh dengan PR anaknya, bagaimana pula
dengan anaknya?. Maka jangan heran jika anak akan merengek kepada orang tua
jika kebutuhan dalam menyelesaikan PRnya tidak terpenuhi.
Coba kita lihat bagaimana perbedaan antara sikap orang
tua yang memandang PR pada sisi positif dan sikap orang tua yang memandang PR pada sisi negatif. Orang tua yang
memandang PR anaknya pada sisi positif akan lebih percaya diri dalam memberikan
asupan pendidikan bagi anak, sehingga sangat mendorong perkembangan
pengetahuannya. Sedangkan orang tua yang memandang jelek pemberian PR kepada
anaknya, ia akan selalu berpikir yang jelek terus menerus kepada sekolah maupun
guru yang memberikan PR tersebut. akibatnya kepercayaan dirinya akan berkuraang
dalam memberikan dorongan kepada anaknya untuk belajar. Yang dirugikan justru
anak, dia juga akan kehilangan rasa percaya diri, dan rasa cintanya terhadap
pelajaran tersebut akan berkurang bahkan hilang sama sekali akibat asutan orang
tua yang menyalah-nyalahkan PR anaknya.
Internet merupakan salah satu media yang sangat berguna
dalam membantu perkembangan ilmu pengetahuan. Apabila guru menyuruh muridnya
untuk mencari bahan pelajaran di internet maka itu merupakan sesuatu yang
wajar. Sebab, mungkin saja disekolah media pembelajarannya masih kurang atau
belum memenuhi standar nasional pendidikan. Maka dari internet peserta didik
bisa mendapatkan informasi yang lengkap dari semua yang dibutuhkan dalam proses
belajar-mengajar. Jika orang tua masih mengkhawatirkan anaknya menyalah gunakan
internet sebagai media pembelajaran yang efektif, maka sebaiknya orang tua
mengawasi kegiatan anaknya ketika mengunjungi internet. Apalagi dewasa ini
memang sangat terlihat sekali dampak negatif dari internet tersebut. Hal yang
sering digunakan anak ketika membuka internet baik dirumah maupun di warung
internet misalnya, adalah bermain game online seperti Point Blank, membuka
sosial media seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Lebih parahnya lagi
apabila anak tersebut membuka situs-situ porno ataupun situs-situs yang sangat
berdampak buruk terhadap perkembangannya. Maka dari itu dibutuhkan peran orang
tua untuk mengawasi anaknya agar tidak menyalah gunakan fasilitas internet yang
sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan.
Dengan mengawasi jalannya kegiatan anak membuat PR, orang
tua seharusnya menyadari dalam dunia pendidikan itu harus ada pengorbanan, baik
berupa waktu, materi dan sebagainya. Apalah gunanya orang tua hanya
menghitung-hitung seberapa banyak uang yang habis untuk membiayai dalam memberikan
fasilitas belajar kepada anaknya mengingat hal itu nantinya juga untuk kebaikan
anak itu sendiri.
Untuk itu dengan banyaknya tanggapan negatif orang tua
terhadap PR yang diberikan kepada anaknya, penulis ingin memberikan saran
kepada guru dalam pemberian PR kepada muridnya. Pertama, tugas yang
diberikan harus sesuai dengan tingkat kompetensi anak, usia, dan kemampuannya
dalam menyelesaikan PR tersebut. Dan tidak boleh melampaui batas kemampuan anak
didik untuk mengerjakannya. Kedua, waktu yang dibutuhkan anak untuk
mengerjakan PR, sebaiknya tidak melebihi batas maksimal sepertiga dari jumlah
jam belajarnya di kelas dengan materi yang sama. Dan yang ketiga, jumlah
PR yang diberikan harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan, serta
menyesuaikan materi dengan yang tertera pada kurikulum.
Dari pernyataan-pernyataan diatas maka kita dapat
menyimpulkan bahwa PR anak bukanlah suatu hal yang menjadi beban orang tua,
karena memang sudah tanggung jawab orang tua kepada anaknya untuk memenuhi
semua keperluan sekolah anaknya, baik bahan-bahan pelajaran, buku, alat tulis
dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Dari apa yang menjadi anggapan orang tua yang
memberikan pernyataan keras terhadap pemberian PR tersebut adalah benar-benar
kekeliruan dalam dunia pendidikan. Mungkin orang tuanya tidak berpendidikan
sehingga ia dapat menyatakan bahwa PR anak sangat membebaninya.