Daftar Blog Saya

Senin, 16 Juni 2014

Dimana Kebahagiaan Itu Berada?




Kenapa dengan hidup saya?
apa sebenarnya yang membuat semua kekacauan dalam hidup saya?
Saya pikir, saya sudah benar-benar menghindar dari masalah yang menjadi beban dalam hidup saya. Tetapi kenapa seakan-akan masalah itu terus saja mengikuti  kemanapun saya melangkah, kemanapun saya berlari, kemanapun saya berpijak tetap masalah tak pernah enyah dari hidup saya.  Semua orang berkata, masalah itu ada karena kita sendiri yang mengundangnya. Tapi kenyataan ini? Benarkah seperti apa yang mereka katakan?
Siapa saja,tolong jelaskan kepada saya apa yang dimaksud dengan kebahagiaan? Saya ingin tahu sudah sejauh manakah kebahagiaan yang saya dapat selama ini. Dan saya juga ingin tahu, seperti apa rasanya bahagia itu. apakah lahir didunia adalaah sebuah kebahagiaan? Apakah bernafas menghirup udara didunia ini juga merupakan kebahagiaan? Apakah kebebasan memilih jalan hidup juga kebahagiaan? Apakah hidup dalam keluarga yang utuh adalah kebahagiaan? apakah hidup dalam keluarga yang pecah adalah kebahagiaan?  apakah hidup dalam keluarga yang kaya raya juga kebahagiaan? ataukah hidup dalam kemiskinan juga kebahagiaan? mungkinkah anugerah hidup dengan fisik sempurna adalah kebahagiaan? apakah memiliki fisik yang jelek adalah kebahagiaan? apakah memiliki kulit hitam legam adalah suatu kebahagiaan yang patut dibanggakan? Apakah dengan memiliki banyak teman adalah sebuah kebahagiaan? dan yang paling ingin saya mengerti, “apakah hidup dirumah orang, dengan fasilitas yang cukup memadai, biaya pendidikan, dan kamar yang tak begitu luas  kemudian membayarnya dengan usaha kerja keras, menguras tenaga, menjatuhkan  mental, makan hati, melukai perasaan, direndahkan, dihina secara tak langsung, serta di budakkan dalam kurun waktu yang lumayan lama adalah kebahagiaan?”
Sedikitpun saya tak mau menampakkan raut wajah yang pilu. Tak pernah terpikir oleh saya untuk bersedih dihadapan bayangan dalam  cermin yang senantiasa menertawakan kenyataan hidup saya. Menghibur diri, menabur senyum, mencari kebahagian bersama teman dan sahabat, hanya itu yang dapat saya lakukan. Meskipun pernah sesekali perasaan itu tak terkendali lagi sehingga teman dan sahabat menjadi korban pelampiasan emosi saya, tetapi saya masih bersyukur mereka mengerti dengan keadaan saya. Mereka bisa menerima dan merangkul saya kembali. Tapi saat ini, saya bukan butuh pelukan dan belas kasih dari semua orang, melainkan suport yang bisa membuat saya bangkit dari keterpurukan ini. Saya hanya butuh kata-kata penyemangat dalam hidup saya. Karena saya benar-benar tersiksa, ini sangat sangat menyakitkan. Sulit sekali menyesuaikan keadaan ketika kita menangis dalam senyum, dalam tawa serta dalam keceriaan. Saya baru menyadari, ternyata tertawa jauh lebih menyedihkan dan menyakitkan dibandingkan dengan menangis. Tapi saya tidak ingin menangisi atas apa yang selama ini menimpa saya, karena air mata ini saya anggap sangat mahal harganya. Saya bukan seseorang  yang cengeng, hanya saja saya seorang pecundang yang mudah mengeluh.

Wahai Dzat yang memberi kebahagiaan..
Pemilik dan penjaga jiwa-jiwa suci
Yang maha tahu apa yang ada dan tiada
Betapa hambamu ini buta
Tak melihat dengan kedua mata
Apa yang ada dilangit dan dibumi

Sungguh…
Tak ada suatu alasan bagi hambamu yang hina ini
Untuk mengkufuri segala nikmatMu
Atas semua yang bercahaya dikegelapan malam
Atas kelembutan awan-awan yang berjalan
Serta Kehangatan mentari yang bersinar
Semua adalah keindahan yang tiada tara atas apa yang kami panjatkan

Wahai Dzat pemiliki nur Muhammad
Pemilik dan penjaga  jiwa-jiwa suci
Pemilik cahaya para malaikat
Pemilik atas apa yang ada dilangit dan bumi
Pemilik raga hambamu yang kecil ini
Pemilik nyawa hambamu yang berdosa ini

Apa kah hidup ini?
Seperti apakah jalan hidup ini?
Penuh liku
Apakah ini sebuah labirin?
Bagaimana hamba melewati ini?
 Seperti apa akhir dari semua ini?
Semua terbalik…
Semua berputar…
Berlawanan dari apa yang hamba bayangkan
Bertolak belakang dengan apa yang hamba angankan

Sungguh…
Betapa indahnya kehidupan burung itu
Terbang kian kesana kemari
Menerawang dari atas
Menemukan jalan yang di idamkan
Labirin telah berujung
Hamba masih dilema
Memilih mana yang benar mana yang salah
Ditengah persimpangan
Bertaruh nyawa…

By: Fahrizul Ikram

Jumat, 13 Juni 2014

Aku Tersesat Dalam Kehidupan


Jemari ini kembali menari diatas papan tombol yang berdebu. Desah nafas yang beriringan dengan alunan instrumen musik "Despair" membawa saya kedalam suasana sepi dan menyedihkan. Tak tau lagi kemana mata ini akan memandang masa depan, jika disekeliling ini hanya kenyataan yang menyengsarakan. Ilusi dalam mimpi terus berjalan, mencoba membawa saya kealam yang tenteram, damai dan nyaman. ilusi itu terus saja membawa saya untuk berangan-angan, terbalut dalam kebahagiaan semu. Tak ada yang tau, betapa resahnya hati ini menunggu sesuatu yang mustahil. "Kebebasan"! ya, itulah yang saya cari selama ini. sementara kesempurnaan itu tak kunjung datang, berbagai masalah dan ancaman selalu membayangi kemanapun saya berdiri.
Mengapa saya selalu mengeluh dengan hidup yang saya jalani? Apakah saya secemen itu?
Terserahlah, apapun itu, hinaan, cacian, ejekan, serta pandangan negatif dari setiap orang yang menilai akan saya terima. Saya tidak pernah marah dengan semua perkataan yang mencoba menjatuhkan saya, baik itu cacian serta direndahkan, dan atau sebagainya. Karena saya menyadari segala kekurangan dalam diri saya. Meskipun dianggap sebagai sampah yang tak berguna sekalipun saya tetap menghargai pujian yang menyedihkan itu.  

"Aku tidak suka dengan orang yang membohongi dirinya sendiri ditengah turunnya salju"

ya, saya juga sangat membenci orang seperti ini. Tetapi betapa munafiknya saya setelah menyadari selama ini saya terus berada dalam kebahagiaan palsu. Menangis didalam keceriaan senda gurau. Menutupi segala kepedihan abadi yang tak pernah terobati. Bukan tertutup, tapi justru saya tak malu untuk bercerita. Bukan mengharap belas kasih orang yang mendengarkan, dan tak pernah juga saya berharap sesuatu yang lebih dari mereka selain kata-kata yang bisa membuat saya bangkit. Mungkin dilain sisi saya merasa tidak ada  seorangpun yang bisa mengerti dengan penderitaan yang saya jalani, tapi ada sebuah sisi yang membuat saya berpikir positif kepada orang-orang di sekeliling saya yang telah mencoba memberikan apa yang saya butuhkan. Semangat dan dorongan selalu saya hargai meskipun jika tidak bisa diterima dengan akal sehat sekalipun.

hidup susah selamanyapun akan susah, tiada tempat, dan waktu selain kesengsaraan dan kepedihan melawan penderitaan.
Malam ini, semua mimpi dan angan-angan terbang bersama angin. Itu artinya, saya yakin dengan pilihan yang saya ambil. Hidup saya hanya untuk bermimpi.
dan untuk meraih mimpi itu, pendidikan yang sedang berjalan ini pasti akan berhenti. Ya... jika sudah tiba saatnya saya akan melambaikan tangan kepada anda-anda semua yang berbahagia mengenakan Toga kebanggaannya. Dan saat itu, saya berharap bisa menyaksikan diri saya sendiri untuk dapat tersenyum bersama mereka..

Jumat, 06 Juni 2014

Dreams or Despair

Entah kenapa, apa yang membuat saya terdorong untuk menuliskan keluh kesah saya disini? saya hanya merasa setiap kali saya menulis, sesuatu yang hebat terasa dalam diri saya. Seolah-olah rasa kesepian saya terobati. Dimana saya di dunia nyata tidak mendapatkan seseorangpun yang benar-benar dapat mengerti saya, tapi disini saya merasakan ada yang mengerti dengan apa yang saya rasakan, ada yang mengerti dengan perasaan saya, seolah-olah ia paham dengan apa yang sedang asaya alami. Iya, mengapa itu bisa terjadi? Karena dunia maya ini saya anggap sebagai cerminan hidup saya. Dunia maya saya anggap sebagai sahabat sejati saya yang siap mendengarkan semua, dan segala sesuatu yang menyangkut dengan saya, baik itu perasaan dan atau sebagainya.  Saya merasa telah gagal menjalani hidup ini, dan mungkin dalam waktu dekat pikiran yang buruk akan selalu membayangi saya. dan saya terlalu takut jika hal itu terjadi kepada saya. Saya terlalu cepat bertindak, dan hal terbodoh mengakhiri hidup dengan cara yang konyol sangat sulit saya hindari. Saya merasa takut dengan masa depan saya, saya sangat takut jika mengetahui dan mengakui bayangan masa depan saya itu nanti. Tetapi, saya sadar betul! dengan apa yang saya hadapi dan segala sesuatu yang telah saya alami mungkin sudah jelas tergambar jadi apa saya kelak. Saya berusaha menghibur diri, menghindari dari semua yang membuat saya merasa bersedih. Tapi apalah yang bisa saya lakukan, selain tertawa bersama sahabat dan teman disekeliling saya, padahal hati dan persaan saya merasa tersayat didalam sana. Saya terus menahan sesak didada, mencari sesuatu yang bisa dijadikan sebagai penenang, meredamkan rasa gelisah yang terus membayangi diri saya. Dulu saya penjarakan perasaan saya, mencari suasan sepi sebagai tempat berdiam diri. Tapi apa yang saya dapat? selain rasa sakit itu terus menggerogoti hidup saya. Mungkin banyak orang-orang diluar sana mengalami penderitaan seperti saya, tapi apakah kita bisa saling mengerti satu sama lain? saya melihat mereka menjadi liar. apa yang menyebabkannya? karena mereka merasa tak ada yang peduli dengan hidupnya, tak ada yang menerima keberadaannya, tak ada yang bisa mengerti dan memahami dirinya. sehinggga ia terus melakukan perbuatan yang menurutnya bisa  membuatnya senang dan bahagia sebagai obat penawar kesepiannya. Saya benar-benar dapat merasakan penderitaan orang lain, karena pernyataan itu benar. Hanya orang yang pernah mederita yang dapat mengerti  dan memahami artinya penderitaan. Cinta yang selama ini diasumsikan sebagai sesuatu yang sempurna, serta keindahan yang tiada tara, dalam artian saya cinta hanya bualan belaka. Bagi saya, cinta melahirkan benci. Saya cinta ibu dan ayah saya, tapi justru karena demi melindungi orang-orang yang saya cintai itu saya malah jatuh dalam perasaan benci yang luar biasa terhadap paman saya yang selama ini mencoba mengusik keharmonisan keluarga saya.
Hati saya bertanya, "kenapa? kenapa kalian memandangiku seperti itu?". dari kecil saya merasa orang-orang telah mengucilkan saya, menjauhi saya, mempermainkan saya, meperolok-olok saya, menghina saya, merendahkan saya, meremehkan saya, dan tidak sedikit teman ataupun yang sudah saya anggap sebagai sahabatpun bisa mengacuhkan sapaan saya. Entah apa yang ada dalam diri saya, saya mengerti dengan semua sikap saya yang kasar, sok akrab, dan keisengan yang sering kali saya lakukan kepada orang-orang disekeliling saya mungkin itu adalah efek dari kerasnya hidup yang saya jalani. Perbuatan-perbuatan saya rasa membuat saya sedikit lupa dengan apa yang terjadi pada diri saya. 
Saya rindu dengan impian-impian saya, mimpi-mimpi saya, dan sebagainya. Saya ingat, dikala kecil saya terbiasa dengan angan-angan, berlari kehalaman rumah kemudian berbaring diatas rumput hijau menghadap kelangit. saya cermati awan-awan yang berjalan, burung-burung yang bebas, dan pasangan capung-capung yang beterbangan diatas saya. Saya memimpikan ingin merasakan hidup yang teman saya alami. teman saya ini adalah seorang anak yang beruntung dengan dilahirkan oleh kedua orang tua yang berlimpah hartanya. apa saja yang ia mau, dia tinggal meminta maka terkabullah permintaannya itu. sesekali saya tersenyum, menikmati indahnya kebahagian saya dalam hayalan itu. Sampai saya tak sadar bahwa hari sudah gelap, jika saja suara azan tak berkumandang mungkin saja saya akan betah berlama-lama berada dalam angan-angan dan hayalan itu.
bagi saya, mungkin tak ada yang lebih indah selain angan-angan belaka!!
Cukup untuk hari ini, saya tidak tau ingin mencurahkan isi hati saya kepada siapa. Saya berusaha menceritakan kepada teman, tapi saya lihat mereka merasa terbebani dengan masalah saya. Saya kembali berusaha tertawa, sementara hati semakin tersayat didalam sana. Pikiran bodoh sering melintas, dengan segala ancaman-ancamannya yang membuat saya semakin takut dengan masa depan saya.
saya hanya berharap, mimpi ini akan tetap ada dan abadi untuk selamanya. Walaupun kenyataan mengatakan saya lebih dari seorang pemimpi, "" matipun akan kuraih mimpi itu!!!"