Kenapa dengan hidup
saya?
apa sebenarnya yang membuat semua kekacauan dalam hidup saya?
apa sebenarnya yang membuat semua kekacauan dalam hidup saya?
Saya pikir, saya sudah
benar-benar menghindar dari masalah yang menjadi beban dalam hidup saya. Tetapi
kenapa seakan-akan masalah itu terus saja mengikuti kemanapun saya melangkah, kemanapun saya
berlari, kemanapun saya berpijak tetap masalah tak pernah enyah dari hidup
saya. Semua orang berkata, masalah itu
ada karena kita sendiri yang mengundangnya. Tapi kenyataan ini? Benarkah
seperti apa yang mereka katakan?
Siapa saja,tolong
jelaskan kepada saya apa yang dimaksud dengan kebahagiaan? Saya ingin tahu
sudah sejauh manakah kebahagiaan yang saya dapat selama ini. Dan saya juga
ingin tahu, seperti apa rasanya bahagia itu. apakah lahir didunia adalaah
sebuah kebahagiaan? Apakah bernafas menghirup udara didunia ini juga merupakan
kebahagiaan? Apakah kebebasan memilih jalan hidup juga kebahagiaan? Apakah hidup
dalam keluarga yang utuh adalah kebahagiaan? apakah hidup dalam keluarga yang
pecah adalah kebahagiaan? apakah hidup
dalam keluarga yang kaya raya juga kebahagiaan? ataukah hidup dalam kemiskinan
juga kebahagiaan? mungkinkah anugerah hidup dengan fisik sempurna adalah
kebahagiaan? apakah memiliki fisik yang jelek adalah kebahagiaan? apakah
memiliki kulit hitam legam adalah suatu kebahagiaan yang patut dibanggakan? Apakah
dengan memiliki banyak teman adalah sebuah kebahagiaan? dan yang paling ingin
saya mengerti, “apakah hidup dirumah orang, dengan fasilitas yang cukup
memadai, biaya pendidikan, dan kamar yang tak begitu luas kemudian membayarnya dengan usaha kerja keras,
menguras tenaga, menjatuhkan mental,
makan hati, melukai perasaan, direndahkan, dihina secara tak langsung, serta di
budakkan dalam kurun waktu yang lumayan lama adalah kebahagiaan?”
Sedikitpun saya tak mau menampakkan raut wajah yang pilu. Tak pernah terpikir oleh saya untuk bersedih dihadapan bayangan dalam cermin yang senantiasa menertawakan kenyataan hidup saya. Menghibur diri, menabur senyum, mencari kebahagian bersama teman dan sahabat, hanya itu yang dapat saya lakukan. Meskipun pernah sesekali perasaan itu tak terkendali lagi sehingga teman dan sahabat menjadi korban pelampiasan emosi saya, tetapi saya masih bersyukur mereka mengerti dengan keadaan saya. Mereka bisa menerima dan merangkul saya kembali. Tapi saat ini, saya bukan butuh pelukan dan belas kasih dari semua orang, melainkan suport yang bisa membuat saya bangkit dari keterpurukan ini. Saya hanya butuh kata-kata penyemangat dalam hidup saya. Karena saya benar-benar tersiksa, ini sangat sangat menyakitkan. Sulit sekali menyesuaikan keadaan ketika kita menangis dalam senyum, dalam tawa serta dalam keceriaan. Saya baru menyadari, ternyata tertawa jauh lebih menyedihkan dan menyakitkan dibandingkan dengan menangis. Tapi saya tidak ingin menangisi atas apa yang selama ini menimpa saya, karena air mata ini saya anggap sangat mahal harganya. Saya bukan seseorang yang cengeng, hanya saja saya seorang pecundang yang mudah mengeluh.
Sedikitpun saya tak mau menampakkan raut wajah yang pilu. Tak pernah terpikir oleh saya untuk bersedih dihadapan bayangan dalam cermin yang senantiasa menertawakan kenyataan hidup saya. Menghibur diri, menabur senyum, mencari kebahagian bersama teman dan sahabat, hanya itu yang dapat saya lakukan. Meskipun pernah sesekali perasaan itu tak terkendali lagi sehingga teman dan sahabat menjadi korban pelampiasan emosi saya, tetapi saya masih bersyukur mereka mengerti dengan keadaan saya. Mereka bisa menerima dan merangkul saya kembali. Tapi saat ini, saya bukan butuh pelukan dan belas kasih dari semua orang, melainkan suport yang bisa membuat saya bangkit dari keterpurukan ini. Saya hanya butuh kata-kata penyemangat dalam hidup saya. Karena saya benar-benar tersiksa, ini sangat sangat menyakitkan. Sulit sekali menyesuaikan keadaan ketika kita menangis dalam senyum, dalam tawa serta dalam keceriaan. Saya baru menyadari, ternyata tertawa jauh lebih menyedihkan dan menyakitkan dibandingkan dengan menangis. Tapi saya tidak ingin menangisi atas apa yang selama ini menimpa saya, karena air mata ini saya anggap sangat mahal harganya. Saya bukan seseorang yang cengeng, hanya saja saya seorang pecundang yang mudah mengeluh.
Wahai
Dzat yang memberi kebahagiaan..
Pemilik
dan penjaga jiwa-jiwa suci
Yang
maha tahu apa yang ada dan tiada
Betapa
hambamu ini buta
Tak
melihat dengan kedua mata
Apa
yang ada dilangit dan dibumi
Sungguh…
Tak
ada suatu alasan bagi hambamu yang hina ini
Untuk
mengkufuri segala nikmatMu
Atas
semua yang bercahaya dikegelapan malam
Atas
kelembutan awan-awan yang berjalan
Serta
Kehangatan mentari yang bersinar
Semua
adalah keindahan yang tiada tara atas apa yang kami panjatkan
Wahai
Dzat pemiliki nur Muhammad
Pemilik
dan penjaga jiwa-jiwa suci
Pemilik
cahaya para malaikat
Pemilik
atas apa yang ada dilangit dan bumi
Pemilik
raga hambamu yang kecil ini
Pemilik
nyawa hambamu yang berdosa ini
Apa
kah hidup ini?
Seperti
apakah jalan hidup ini?
Penuh
liku
Apakah
ini sebuah labirin?
Bagaimana
hamba melewati ini?
Seperti apa akhir dari semua ini?
Semua
terbalik…
Semua
berputar…
Berlawanan
dari apa yang hamba bayangkan
Bertolak
belakang dengan apa yang hamba angankan
Sungguh…
Betapa
indahnya kehidupan burung itu
Terbang
kian kesana kemari
Menerawang
dari atas
Menemukan
jalan yang di idamkan
Labirin
telah berujung
Hamba
masih dilema
Memilih
mana yang benar mana yang salah
Ditengah
persimpangan
Bertaruh
nyawa…
By:
Fahrizul Ikram


