Daftar Blog Saya

Selasa, 02 April 2013

Peran Pancassila dalam arus Globilsasi




 Peran Pancasila Dalam Arus Globalisasi

 oleh: Fahrizul Ikram

 
Negara Republik Indonesia memang tergolong muda dalam barisan negara-negara didunia. Tetapi bangsa Indonesia lahir dari sejarah dan kebudayaannya yang tua, melalui gemilangnya kerajaan Sriwijaya, Mataram dan Majapahit, kemudian mengalami masa penderitaan penjajahan sepanjang tiga setengah abad sampai akhirnya bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejarah bangsa Indonesia untuk merebut kembali kemerdekaannya sama tuanya dengan sejarah penjajahan itu sendiri. Berbagai babak sejarah dilampaui dan berbagai jalan telah ditempuh dengan gaya yang berbeda-beda mulai dengan cara-cara yang lemah sampai cara-cara yang keras, mulai dari gerakan kaum cendekiawan yang terbatas sampai pada gerakan yang menghimpun kekuatan rakyat banyak, mulai dari bidang pendidikan, kesenian, perdagangan sampai pada gerakan-gerakan politik.
Setelah melalui babak-babak sejarah sebelum terbentuknya negara Indonesia, barulah dimulai perancangan bentuk negara dan pemerintahan negara Indonesia. Maka para tokoh-tokoh bangsa Indonesia sibuk mendiskusikan serta merancang perumusan pancasila, yang akan dijadikan sebagai dasar negara. Pancasila sebagai dasar negara merupakan kesepakatan politik pada saat terbentuknya negara Indonesia hingga sekarang. Sebagai dasar negara, pancasila harus  bisa menghadapi  tantangan global dunia yang terus berkembang saat ini mengingat pancasila adalah acuan negara. Akan tetapi sebuah permasalahan besar bangsa Indonesia saat ini adalah penerapan dari niai-nilai pancasila tersebut mulai memudar pada diri bangsa yang disebabkan oleh globalisasi yang terus berkembang. Disinilah peran pancasila dalam menghadapi kencangnya arus globlisasi yang dapat merusak kepribadian bangsa. Dimana pancasila adalah kepribadian bangsa indonesia, yang memiliki makna bahwa sikap, tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia memeiliki ciri khas tersendiri, sehingga dapat membedakannya dengan bangsa yang lain. Ciri khas inilah yang diartikan sebagai kepribadian bangsa.
Pengaruh masuknya budaya asing ditengah-tengah kehidupan masyarakat Indonesia yang selalu diikuti tanpa adanya penyaringan kaidah merupakan salah satu penyebab semakin berkurangnya rasa nasionalisme bangsa. Sehingga konsep yang menyatakan pancasila sebagai kepribadian bangsa lenyap begitu saja dengan pengaruh budaya asing yang terus meluas keseluruh penjuru negeri. Betapa sayangnya bumi ibu pertiwi yang di atasnya terdapat beribu-ribu suku, bahasa dan budaya, namun dapat dengan mudahnya ditepis oleh kebudayaan asing dan kemudian menguasainya. Ini dikarenakan nilai-nilai pancasila belum mengakar didalam diri bangsa, sehingga pancasila tidak dapat kokoh berdiri seperti yang diharapkan. Dalam hal ini merupakan realita yang tidak dapat untuk kita pungkiri, melihat keadaan bangsa yang terus mengalami permasalahan-permaslahan dari waktu kewaktu, baik dari segi pemerintahan/ politik, masyarakat dan tindak kejahatan dan kriminalitas yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya.
Arus globalisasi yang terus mengancam pendirian bangsa tentunya menambah tanggung jawab setiap masyarakat yang memikul beban yang berat dengan selalu senantiasa berpegang teguh dengan nilai-nilai yang terkandung dalam rumusan pancasila. Sedikit saja kita tergoda dengan kenikmatan yang disuguhkan dunia global tanpa menyaringnya terlebih dahulu maka secara otomatis pula akan merontokkan  nilai-nilai pancasila yang telah tertanam di dalam diri kita.
Globalisasi adalah fenomena dimana batasan-batasan antar negara seakan memudar karena terjadinya berbagai perkembangan di segala aspek kehidupan, khususnya pada bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan terjadinya perkembangan berbagai aspek kehidupan khususnya di bidang iptek tersebut maka manusia dapat pergi dan berpindah ke berbagai negara dengan lebih mudah serta mendapatkan berbagai informasi yang ada dan segala sesuatu yang terjadi di dunia secara instan.
Kita sebagai bangsa indonesia tentu sering melihat dan sangat mengenal gambar atau lambang-lambang didalam sila-sila pancasila. Tetapi kita tidak pernah memperhatikan simbol-simbol dan makna dari simbol yang terdapat di dalam perisainya. Disinilah kita dapat memahami bahwa arus globalisasilah yang mempengaruhi masyarakat Indonesia kurang memperhatikan dari apa yang tersirat diantara lambang-lambang tersebut. didalam perisai yang terdapat pada dada burung garuda atau lambang pancasila, memiliki arti-arti tersendiri sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung didalamnya.
Untuk Sila Pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa diwakili oleh simbol bintang.Simbol ini mempunyai arti bahwa Tuhan menjadi cahaya bagi setiap manusia. Sebagai masyarakat beragama sudah sepatutnya kita menjalankan kewajiban-kewajiban yang di bebankan tuhan kepada setiap umat beragama. Dengan kata lain, segala sesuatu yang bersifat moralitas yang terdapat dalam nilai-nilai agama harus berjalan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian tentunya dapat menstabilkan moralitas masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Sehingga dapat menjadi prisai dalam menangkis dmapak globalisasi yang merusak. Kemudian di  bagian kanan bawah terdapat rantai yang melambangkan Sila Kedua, Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Rantai ini mengandung makna bahwa setiap manusia, laki-laki dan perempuan,membutuhkan satu sama lain dan perlu bersatu sehingga menjadi kuat. Dengan tidak membeda-bedakan keterbelakangan dan kekurangan, ras, dan suku kelompok maupun individu, dan membenarkan segala sesuatu yang  benar dan menyalahkan segala sesuatu yang salah. Tidak berpihak  pada satu sisi, tetapi tetap berada ditengah-tengah antara yang benar dan yang salah. Sehingga dapat mengkokohkan pendirian bangsa dalam memberikan keadilan pada setiap lapisan masyarakat tanpa berpihak kepada satu sisi tertentu dengan faktor-faktor tertentu.
Selanjutnya, terdapat gambar pohon beringin untuk Sila Ketiga, Persatuan Indonesia. Simbol ini menyiratkan bahwa seluruh rakyat Indonesia bisa “berteduh” di bawah naungan negara Indonesia. Berlindung dari segala tekanan-tekanan yang mengancam kemaslahatan kehidupan sosial bermasyarakat, baik dari dalam maupun dari luar. Dengan bersatu maka akan terbentuk kekuatan yang besar dan perisai yang kokoh dalam melindungi bngsa dari ancaman arus globalisasi yang berdampak buruk. Di sebelah kiri atas terdapat gambar kepala banteng sebagai simbol Sila Keempat yakni Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Lambang tersebut digunakan karena dalam musyawarah di mana orang-orang harus berkumpul untuk mendiskusikan sesuatu seperti halnya sifat banteng. Dan yang terakhir terdapat padi dan kapas untuk Sila Kelima yaitu Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Simbol padi dan kapas melambangkan kebutuhan dasar setiap manusia yakni pangan dan sandang sebagai syarat utama untuk mencapai kemakmuran Indonesia.
Dari kelima sila-sila tersebut, dapat kita pahami bahwa pancasila sudah terumus dengan begitu sempurna, tetapi pencerminannya dalam diri masyarakat untuk menrapkannya sebagai dasar negara tidak berjalan sesuai dengan tujuan perumusan pancasila. Pada dasarnya, pancasila sudah sangat tangguh dalam membentengi bangsa indonesia dari badai globlisasi yang dampaknya sangat buruk terhadap kepribadian bangsa Indonesia. Jika nilai-nilai pancasila tersebut sudah benar-benar tertanam didalam diri bangsa, maka kita dapat meyakini bahwa pancasila dapat berdiri kokoh meskipun diterjang badai globalisasi sekalipun. Tentunya, tujuan bangsa Indonesia dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, serta solusi dari setiap permasalahan-permasalaha yang sedang dihadapi bangsa Indonesia. Dengan menyaring semua yang diberikan dunia global terhadap bangsa, maka bangsa indonesia mendapatkan dampak yang baik dari arus globalisasi tersebut. sehingga pemanfaatannya sangat mempengaruhi kemajuan dan eksitensi bangsa Indonesia dalam panggung dunia.

Rabu, 06 Maret 2013

opini




Demokrasi
vs
Khilafah
Oleh: Fahrizul Ikram

Siapa yang tidak prnah berangan-angan hidup dibwah naungan khliafah. Sudah mimpi setiap muslim didunia mendambakan khilafah. Tapi beginilah adanya, manusia adalah khalifah dimuka bumi, dengan demikian dapat dikatakan manusia mempunyai hak dalam membuat suatu hukum dan tata kehidupan dimuka bumi. Memang benar, Alquran adalah sumber hukum yang paling utama, tapi apakah mungkin hukum dan peraturan berlalu-lintas juga kita kait-kaitkan dengan Alqur’an? Tentu saja tidak.
Pembaca yang budiman, bukan penulis bermaksud sok pintar, tapi hanya sekedar memberikan pendapat untuk menanggapi pernyataan-pernyataan dari berbagai kalangan yang mengganggap sistem pemerintahan negara kita ini salah. Mengingat negara kita yang berasaskan demokrasi, sudah haknya setiap orang dalam memberikan pendapatnya. Tetapi dalam kasus beberapa waktu terkhir ini sering sekali muncul anggapan-anggapan, maupun penyataan-pernyataan yang sedikit konyol menurut penulis sendiri. Sudah susah-susah rakyat Indonesia membangun bangsa dan negara, menuju negara yang adil dan makmur, tetapi malah kesengsaraan yang didapat. Tidak perlu kita bertanya siapa yang perlu disalahkan. Karena yang salah itu benar. Artinya, semua menganggap dirinya benar meskipun dalam pandangan orang lain salah. Menganggap orang lain salah dan membenarkan dirinya meskipun sudah mutlak salahnya. Jadi salah itu tidak ada sebenarnya. Yang ada itu keliru barangkali.
Entah bagaimana kasus ini menjadi hal yang menarik untuk dijadikan bahan kepenulisan penulis dalam menyuarakan pendapatnya. Sering sekali penulis melihat berbagai bentuk tulisan yang menolak “DEMOKRASI”, mengapa? Entah, penulis juga tidak mengetahuinya. Yang terpenting utnuk kita pahami, yang menjadi landasan dasar para pemberontak demokrasi ini adalah menganggap bahwa demokrasi bukanlah cara alternatif dalam mewujudkan pemertintahan yang sejahtera. Melihat dari makna Demokrasi itu sendiri yaitu kedaulatan ditangan rakyat, dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat pula, maka dengan itu mungkin mereka tidak terima mengingat kedaulatan atau kekuasaan tertinggi itu bukan ditangan manusia melainkan ditangan tuhan. Tuhanlah yang lebih pantas menyandang kedaulatan tersebut. dengan hal itu maka mulailah pergejolakan ditengah masyarakat Indonesia menolak demokrasi. Dan bermunculan pula semboyan-semboyan yang menyudutkan demokrasi, seperti “islam dan demokrasi antara iman dan kufur”, salah satunya.
Memang, para penolak demokrasi ini  sangat berambisi sekali dalam mewujudkan suatu tatanan pemerintahan yang sesuai dengan Syari’at Islam yaitu Khilafah Islamiyah. Seperti evaluasi kritis atas sejarah pemerintahan Islam dalam salah satu maha karya seorang tokoh ulama Abul A’la al-Maudadi didalam bukunya yang berjudul Khilafah wal Mulk. Dalam kisahnya memperjuangkan sistem khilafah dimata dunia sangat menarik perhatian para pembaca dari buku-buku yang ditulisnya. Abul A’la sangat anti sekali dengan demokrasi, sama seperti kelompok diatas. Dan landasan yang mendasarinya juga sama mengenai kedaulatan.
Untuk menanggapinya, penulis ingin bertanya terlebih dahulu kepada para pemberontak demokrasi ini. Sudah siapkah anda menjadikan sebuah negara dengan sistem pemerintahan Khilafah Islamiyah? Sudah siapkah anda menghadapi permasalah-permasalahan negeri ini dari masa kemasa sambil menggeser demokrasi dari singgasananya? Dapatkah anda menjamin kesejahteraan rakyat dibawah naungan khilafah seperti yang anda dambakan? Ya,sudah pasti jawabannya “insya Allah”.
Perlu kita ketahui bahwa manusia bukanlah malaikat yang bersih dari dosa dan kesalahan. Hanya Rasulullah saw, pemimpin yang sangat sempurna. Sepeninggalnya, tidak ditemukan pemimpin yang sesempurna dari dirinya. Wajar, beliau adalah seorang Rasul. Lantas, dizaman sekarang? Mungkinkah ada manusia seperti Rasulullah? Jawabnya tetap “insya Allah ada”. Beriringan dengan arus globalisasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat memungkinkan seseorang untuk jauh dari kehidupan beragama. Bahkan seorang muslim sekalipun. Meskipun banyak kita jumpai pelopor-pelopor kebenaran yang ingin mewujudkan Khilafah Islamiyah, tetapi tetap saja, itu merupakan ilusi semata.jika mereka mengangap demokrasi adalah ilusi maka tidak ada salahnya orang yang hidup dalam pemerintahan demokrasi mengatakan perwujudan khilafah adalah ilusi. Karena khilafah hanya bisa ditegakkan oleh Rasulullah saw saja.
                Dari sedikit dari sekian banyak anggapan orang tentang demokrasi diatas, maka dapat disimpulkan, manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan tuhan dengan dibekali akal dan pikiran sehingga dapat membedakan mana yang benar dan salah. Dalam kehidupan sehari-hari ternyata tidak ada kata “salah”, semua “benar” adanya. Apapun sistem pemerintahannya, sebaik dan sesempurna apapun ideologinya, meski khilafah sekalipun tanpa memiliki manusia yang berakhlak, berilmu, dan berkualitas, maka itu adalah hal yang sia-sia. Kesejahteraan akan terus menjadi ilusi setiap orang.

Sabtu, 05 Januari 2013

opini



Walimah Bukan Pestafora
Oleh: Fahrizul Ikram

Pesta itu asyik, jika semua sistem telah berjalan sebagaimana yang di inginkan. Pesta adalah tempat berkumpulnya keluarga maupun teman dan rekan-rekan kita dalam satu acara. Dimana tempat lahirnya semua ekpspresi yang melukiskan kebahagiaan semua orang. Ditambah lagi, tuntutan zaman yang memaksa kita untuk berpesta jika berencana membuat sebuah acara. Tetap saja kita tidak bisa menolak jika zaman yang meminta. Karena apa? Ya apa lagi kalau bukan karena gengsi. Selain itu ada pula yang mencari keuntungan dari sebuah pesta yang diselenggarakan. Seperti halnya dalam pesta pernikahan atau “weedding party” bahasa kerennya. Jika kita telusuri lebih dalam, tidak sedikit masyarakat kita yang menyelenggarakan pesta pernikahan, hanyalah untuk mencari keuntungan materi saja. Sederhananya, mereka menginvestasikan uang mereka untuk mempersiapkan bahan-bahan yang deperlukan untuk sebuah pesta. Hal yang paling umum yang paling sering kita jumpai dalam pesta adalah makanan, dan hiburan. Ini adalah hal-hal yang harus ada dalam sebuah pesta, karena dari situlah penyelenggara akan mendapatkan keuntungan. Hidangan yang disajikan sangat menarik perhatian tamu undangan untuk mnghadiri sebuah pesta tersebut. jika dalam sebuah pesta tidak terdapat sesuatupun yang dapat untuk dimakan, maka seorang tamu undangan akan berfikir seribu kali untuk datang memenuhi undangan tersebut. kemudian hiburan, jika sebuah pesta tidak terdapat sebuah hiburan didalamnya maka itu sangat mempengaruhi tamu undangan yang datang. Sebab tamu undangan akan merasa terhibur dan dapat merasakan suasana yang ramai, sehingga tidak membuatnya bosan. Pada umumnya hiburan yang sangat disenangi oleh tamu undangan dewasa ini adalah Keyboard. Dimanapun dan kapanpun tetap saja Keyboard yang paling populer. Sehingga dari kedua hal tersebut, kita dapat menyadari bahwa, semakin banyak tamu maka semakin banyak amplopnya. Nah tentu saja ini merupakan sebuah bisnis tahunan yang mengutungkan. Jika kita hitung dari makanan yang telah disantap, anggap saja satu porsi harganya RP15.000, dan satu amplop rata-ratanya Rp20.000-Rp25.000. Berapakah keuntungan yang diperoleh dari seorang tamu Undangan? Iya, Rp5000-Rp10.000.
Dapat kita kalikan berapa banyak keuntungan yang diperoleh jika tamu undangan mencapai 10.000 orang. Inilah realita kehidupan pada akhir zaman. Sebenarnya, bukan seperti itu yang anjurkan Islam untuk umat Muslim yang menyelenggarakan pesta pernikahan atau yang lazimnya disebut Waliemah dari kebanyakan orang.
Waliemah adalah peralatan perkawinan yang disdiakan oleh mempelai laki-laki setelah akad berlangsung dan mempelai laki-laki memasuki kamar pengantin istri, dengan sekurang-kurangnya dengan menyembelih seekor kambing jiaka sanggup. Dan Rasul juga telah melakukan hal yang demikian itu. sebagai mana diberitakan oleh Annas r.a “Bahwa Nabi saw melaksanakan Waliemahnya untuk Zainab dengan menyembeli seeekor kambing”.
Tetapi, diceritakan oleh Asma binti ‘umais, ia berkata: “aku menjadi teman Aisyah ra. pada malam aku menyelenggarakannya untuk dimasukkan kedalam rumah Rasul. Aisyah ditemani oleh beberpa perempuan lain. Demi Allah, kami hanya mendapati disisi Rasulullah kala itu hanya segelas besar susu. Maka Nabi kemukakan kepada Aisyah. Tetapi Aisyah malu menerimanya, sehingga dengan ajakanku yang keras Aisyahpun menerimanya dengan malu dan meminumnya. Stelah itu Nabi berkata “berilah kepada teman-temanmu yang lain.” Kemudian aku berkata “kami tidak suka minum susu ya Rasulullah” (saya katakan itu karena melihat sedikitnya susu itu) mendengar itu Rasulullah berkata “jangan kamu kumpulkan Lapar dan Dusta”. Kemudian aku bertanya “apakah ya rasulullah jika kami mengatakan tidak suka kepada sesuatunya yang sebenarnya kami suka dipandang dusta?. Menjawab Nabi, “segala dusta itu dicatat, tak ada yang terluputi dari catatannya”.

Dari beberpa hadis yang disebutkan diatas, diketahui bahwa Waliemah itu dituntut atas suami dan dilaksanakan setelah Dukhul, dengan cara yang sederhana. Dan difahamkan bahwa atas orang yang berada, dituntut Waliemah itu sekurang-kurangnya seekor kambing. Tidak salah jika sesorang yang memiliki kesanggupan membuat waliemah yang besar-besaran, mengundang beribu-ribu orang. Tetapi apalah artinya semua itu jika hanya menambah dosa dan mengurangi berkah Allah ‘aza wazalla. Tamu yang diundang juga merupakan orang-orang yang besar, memiliki jabatan dan sebagainya. Barulah ia menyantap makanan itu sesuka hatinya, jika ia sanggup maka habislah satu porsi, tetapi jika tidak maka terbuanglah makanan itu dan menjadilah ia mubazir. Dari realita yang terjadi, kita dapat melihat betapa banyak makanan yang terbuang pada setiap melaksanakan suatu acara yang berlebihan seperti ini. orang yang terbiasa makan enak, dan terbiasa hidup dalam kemewahan, tidak tersentuh hatinya melihat makanan yang bertimbun di tempat cuci piring yang berada didapur pesta. Tetapi jika orang yang terbiasa hidupnya susah, bahkan untuk mencari makan saja harus mengemis dan merangkak mengaisi sampah, melihat itu semua mereka akan menangis. Mereka begitu susah untuk mendapatkan sekepal nasi, tapi disini, pada pesta yang begitu meriah ini, begitu mudahnya mereka membuang-buangnya.
Inilah kenyataan yang begitu nyata untuk kita lihat. Para umat sekarang, mengaku dirinya pengemban sunnah, tetapi malah berlomba-lomba dalam kemegahan dalam Waliemah. Maka, dengan demikian, mereka membuat dua kesalahan. Yang pertama, memberat-beratkan diri, dan yang kedua ialah mengerjakannya tidak sesuai dengan tuntutan agama, melainkan hanya mementingkan untuk kesesuaian pada perkembangan zaman. Entah kesalahan yang kedua akibat dari kesalahan yang pertama? Hanya saja kita perlu menyadari bahwa kesalahan-kesalahan itu menimbulkan banyak kesalahan.

Selasa, 01 Januari 2013

artikel



Muhasabah Tahun Baru 2013 M.

oleh: Fahrizul Ikram 


Selamat tahun baru wahai pembaca yang budiman. Kemarin malam begitu banyak fenomena yang saya lihat sepanjang saya menapaki langkah kaki saya. Begitu banyak hal yang membuat kegundahan hilang, namun begitu juga timbul hal-hal baru yang membuat hati bertanya-tanya. Apakah arti semua ini? Dalam rangka penyambutan tahun baru yang beraneka ragam acara yang dipersiapkan. Entah berapa banyak uang yang berhamburan dan terbakar dimalam yang berbahagia itu.
Malam itu tepat pukul 22:30 saya pergi menyaksikan perayaan tahun baru yang gemilang kelihatannya. Berputar mengelilingi kota yang padat dengan orang-orang yang tak mau ketinggalan mengakhiri tahun 2012. Disepanjang jalan, terlihat disetiap halaman rumah orang-orang dan sanak keluarganya berkumpul untuk turut memeriahkan. Ada yang mengisi perayaan itu dengan bakar-membakar, ada yang bermain musik, dan ada juga perayaan yang dimeriahkan dengan Keyboard band.
Saya terus berjalan mencari tempat yang cocok untuk merenungkan hal ini, dan pada akhirnya saya singgah disebuah Cafee Corner yang didalamnya dipenuhi para penikmat kopi yang membooking Cafee itu. Mereka menyemarakkan tahun baru dengan menghadirkan Band dikota itu. Saya begitu menikmati, dan perasaan yang sangat senang sekali bisa menyaksikan semua pengunjung diCaffe itu berbahagia, bernyanyi bersama, berjoget bersama, dan aksi-aksi gokil yang membuat pengunjung tertawa. Dan saya juga terlarut dalam suasana, sehinga ikut bernyanyi bersama mereka yang tidak memperdulikan siapa saya.
Ketika saat-saat yang ditunggu-tunggu hampir tiba, semua keluar dengan membawa kembang api yang telah mereka sediakan sebelumnya. Sampai pada hitungan detik-detik tahun baru yang menyapa, “tiga, dua, satu,” semua meniup terompet dan kembang api dinyalakan pada tempat yang terbuka. Langit yang berbintang dikalahkan dengan sinar kembang api yang menghujani kota. Memang terlihat indah, tapi saya tidak dapat menikmati momen itu. hati saya bertanya-tanya, untuk apa mereka lakukan itu jika hanya menghambur-hamburkan uangnya untuk hal yang tidak bermanfaat. Dimana hati mereka ketika ditengah ramainya orang-orang yang berbahagia masih terlihat segelintir orang yang berbaju kusam, kumuh dan lusung yang mencari sesuatu untuk mengganjal perutnya.
Pembaca yang budiman, bukankah Aceh adalah sebuah negeri yang menegakkan syariat? Tapi mengapa budaya barat yang terkutuk itu berkembang dinegeri Seramoe Mekkah ini? mengapa budaya kembang api menjadi tradisi kita sebagai umat muslim? Sedangkan jika kita lihat pada perayaan tahun baru Hijriah yang lalu tidak sedikit umat muslim yang melupakannya. Tidak ada kita jumpai perayaan yang semeriah tahun baru masehi.
Pembaca yang budiman, saya yang lancang ini ingin menekankan bahwa perayaan tahun baru Masehi bukanlah sesuatu yang mendasar dalam Islam. Perayaan tahun baru bukanlah momen yang tepat untuk berbahagia dan berdoa yang dijadikan ajang dramatisasi. Kita dapat melihat pada perayaan ini banyak sekali dijumpai hal-hal yang tidak ada faedahnya sama sekali. Lebih parahnya lagi, maksiatlah yang semakin merajalela.     Perayaan tahun baru Masehi bukanlah bagian yang harus dilekatkan dalam agama kita. Namun inilah kenyataannya, yang akan menjadi renungan kita. Jangan jadikan tahun baru sebagai ajang bersandiwara, jangan jadikan tahun baru sebagai even yang membawa bencana untuk kita. Renungkan kembali apa yang sudah terjadi delapan tahun yang lalu. Bencana itu datang tanpa kita duga-duga. Semua merasakan kedahsyatannya. Apa yang kita lakukan? Maha benar Allah dengan firmannya “Dan tidaklah Allah menerima taubat dari orang yang melakukan kemaksiatan ketika ajal datang kepada salah seorang diantara mereka barulah ia berkata “sesungguhnya aku bertaubat”. Ketika Bumi menggoncang tanah Aceh semua orang menggemakan ayat-ayat Allah, mengumandangkan lafaz Adzan dan sebagainya. Tetapi ketika momen perayaan tahun baru ini apakah kita ingat kepada Allah? “Nehi”! tidak, semua Asyik dalam kesenangan dunia.
Untuk itu marilah kita renungkan, apa yang sebenarnya yang telah kita lakukan malam itu. membakar-bakar uang, berjoget, bernyanyi dan tertawa bersama, dan semua itu adalah hal-hal yang sangat dimurkai Allah. Saya bukanlah orang yang begitu  paham dalam urusan syariat, tapi saya sadar bahwa hal ini memang sudah menyimpang dari syariat.
Akhir kata, mohon maaf atas kelancangan saya. Semua itu sekedar angan-angan saya sebagai Warga baru Aceh untuk membantu menopang dan menegakkan syariat yang sebagaimana mestinya di negeri Seramoe Mekkah yang bermartabat ini.



wassalam