Daftar Blog Saya
Kamis, 07 November 2013
Rabu, 03 April 2013
PR dalam kasus belajar mengajar
Sudah Tanggung Jawab Orang Tua menjadi Fasilitator PR
Anaknya
Oleh: Fahrizul Ikram
Pekerjaan Rumah (PR) adalah hal yang wajar didapatkan
seorang anak di sekolahnya. Hal itu dilakukan, selain untuk menambah wawasan
anak, juga untuk memenuhi kebijakan-kebijakan sekolah dalam menjalankan
kewajibannya sebagai tempat menimba ilmu. Selain itu sekolah juga berperan
dalam pembentukan kepribadian dan karakter anak itu sendiri. Kadang Orang tua
salah mempersepsikan hal itu sehingga terjadi kesalahpahaman antara orang tua
dengan guru di sekolah. Kewajiban seorang guru selain mentransfer ilmu kepada
muridnya di ruang kelas, tetapi juga berkewajiban untuk membiasakan anak
muridnya belajar di luar ruang kelas dengan memberikan tugas yang harus
diselesaikan di luar jam belajar. Perlu juga untuk diketahui bahwa mengajar berbeda dengan mendidik. Mengajar adalah suatu
kegiatan dalam penyampaian suatu ilmu kepada seseorang. Sedangkan mendidik
adalah membimbing, mengarahkan, serta
membentuk kepribadian anak menjadi pribadi yang diharapkan. Sudah selayaknya
para orang tua mengetahui betapa besarnya tanggung jawab seorang guru terhadap
peserta didiknya. Jika orang tua belum mengerti bagaimana besarnya tanggung
jawab seorang guru kepada peserta didiknya seiring dengan arus globalisasi saat
ini, maka penulis ingin menjelaskan sedikit agar dapat dimengerti.
Salah satu faktor utama yang menentukan mutu pendidikan
adalah guru. Gurulah yang terdepan dalam menciptakan kualitas sumber daya
manusia. Guru berhadapan langsung dengan para peserta didik dikelas melalui
proses belajar mengajar. Ditangan gurulah akan dihasilkan peserta didik yang
berkualitas, baik secara akademis, kematangan emosional dan moral, serta
spiritualnya. Dengan demikian akan dihasilkan generasi masa depan yang siap
hidup dengan tantangan zamannya. Oleh karena itu diperlukan sosok guru yang
mempunyai kualifikasi, kompetensi, dan dedikasi yang tinggi dalam menjalankan
tugas profesionalnya. Apalagi dalam perubahan kurikulum yang menekankan
kompetensi, guru memegang peranan penting terhadap implementasi KTSP, karena
gurulah yang pada akhirnya akan melaksanakan kurikulum didalam kelas. Menurut
mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan, Fuad Hasan mengatakan sebaik apapun
kurikulum dan sistem pendidikan yang ada, tanpa didukung oleh mutu guru yang
memenuhi syarat, maka semuanya akan sia-sia.
Tugas dan peran guru dari hari kehari semakin berat,
seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Guru sebagai
komponen utama dalam dunia pendidikan dituntut untuk mampu mengimbangi bahkan
melampaui perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang dalam
masyarakat. Melalui sentuhan guru di sekolah diharapkan mampu menghasilkan
peserta didik yang memiliki kompetensi tinggi dan siap menghadapi tantangan
hidup dengan penuh keyakinan dan percaya diri yang tinggi. Sekarang dan kedepan
sekolah harus mampu menciptakan sumber daya manusia yang berkualitas, baik secara
keilmuan maupun secara sikap mental. Oleh karena itu dibutuhkan beberapa
komponen yang dapat mewujudkannya, yaitu; (1) kepala sekolah yang dinamis dan
komunikatif dengan kemerdekaan memimpin menuju visi keunggulan pendidikan; (2)
memiliki visi, misi, dan strategi untuk mencapai tujuan yang telah dirumuskan
dengan jelas; (3) guru-guru yang kompeten dan berjiwa kader yang senantiasa bergairah
dalam melaksanakan profesionalnya secara inovatif; (4) siswa-siswa yang sibuk,
bergairah dan bekerja keras dalam mewujudkan perilaku pembelajar; (5)
masyarakat dan orang tua yang berperan serta, dalam menunjang pendidikan.
Dalam sebuah kasus yang kita temui baru-baru ini,
banyaknya orang tua yang memandang PR anaknya mengarah kepada sisi yang negatif,
sehingga adanya pernyataan bahwa PR anak sangat membebani orang tua, bahkan
membuat orang tua kesal dan jengkel dengan PR anaknya. Terkadang mereka juga
berpikir PR itu dibuat untuk anaknya atau untuk orang tuanya? toh pada akhirnya
orang tua juga yang mengerjakannya. sehingga waktu untuk berkomunikasi dengan
anaknya jadi berkurang karena disibukkan dengan PR, akibatnya orang tua merasa
kehilangan waktu untuk berinteraksi yang intens dengan anaknya. Jika dilihat
dari sisi negatifnya saja ya memang terlihat merugikan, tapi semua itu
merupakan sesuatu yang keliru. Karena,
jika dipandang sisi positifnya justru sangat berdampak baik terhadap
kepribadian anak. Waktu anak yang pada umumnya terbuang untuk bermain jadi
lebih bermanfaat dengan adanya PR, sehingga seorang anak akan terbiasa dan
dapat lebih memahami semua yang didapatnya disekolah. Alhasil, pengetahuannya
akan lebih luas dan mempercepat perkembangan kognitifnya. Sebenarnya sudah
menjadi tanggung jawab orang tua ikut serta dalam memberikan pendidikan kepada
anaknya. Jika disekolah, ya memang sudah menjadi tanggung jawab guru memberikan
pendidikan kepada muridnya, namun jika dirumah sudah selayaknya orang tua
bertanggung jawab dalam memenuhi kebutuhan belajar anaknya seperti tugas
ataupun PR dan sejenisnya.
Pemberian PR kepada murid merupakan hal yang wajar
dilakukan oleh guru kepada peserta didiknya guna mencapai tujuan pendidikan
yang berdasarkan Standar Pendidikan Nasional. Sedangkan tujuan yang sebenarnya
dari pemberian PR tersebut merupakan salah satu instrumen guru dalam proses
belajar-mengajar yang dapat mengembangkan kebiasaan belajar, mendorong
kebiasaan positif dalam belajar, serta sarana komunikasi orang tua dan guru
disekolah. Maka dari itu, pemberian PR kepada peserta didik diharapkan proses
pencapaian pembelajaran dapat berjalan dengan baik, karena dilakukan dengan dua
arah yaitu sekolah dan rumah. Harus kita ketahui juga bahwa peran orang tua
dalam PR ini adalah memberikan fasilitas sejauh yang anak butuhkan dalam
mengerjakan PRnya.
Campur tangan orang tua dalam persoalan PR anak sebaiknya dilakukan dengan
seminimal mungkin, agar anak tersebut dapat belajar lebih mandiri. Selain itu seorang anak akan dapat mengerti
dengan perjuangan dalam mencapai sesuatu tujuan lewat persoalan-persoalan sulit
yang dihadapinya ketika membuat PR. Jika hal-hal seperti ini telah ditanamkan
sejak dini maka akan sangat berdampak positif sekali untuk masa depan anak.
Jadi, sebaiknya orang tua memandang PR tersebut tidak dengan sisi negatifnya saja,
karena itu akan membuat orang tua mengeluh dan akibatnya akan merusak
sosialisasi antara orang tua dan guru disekolah. Dan yang menjadi korban adalah
anaknya sendiri. Karena hal-hal seperti itu akan mengurangi minat anak untuk belajar.
Mengapa tidak? Orang tuanya saja mengeluh dengan PR anaknya, bagaimana pula
dengan anaknya?. Maka jangan heran jika anak akan merengek kepada orang tua
jika kebutuhan dalam menyelesaikan PRnya tidak terpenuhi.
Coba kita lihat bagaimana perbedaan antara sikap orang
tua yang memandang PR pada sisi positif dan sikap orang tua yang memandang PR pada sisi negatif. Orang tua yang
memandang PR anaknya pada sisi positif akan lebih percaya diri dalam memberikan
asupan pendidikan bagi anak, sehingga sangat mendorong perkembangan
pengetahuannya. Sedangkan orang tua yang memandang jelek pemberian PR kepada
anaknya, ia akan selalu berpikir yang jelek terus menerus kepada sekolah maupun
guru yang memberikan PR tersebut. akibatnya kepercayaan dirinya akan berkuraang
dalam memberikan dorongan kepada anaknya untuk belajar. Yang dirugikan justru
anak, dia juga akan kehilangan rasa percaya diri, dan rasa cintanya terhadap
pelajaran tersebut akan berkurang bahkan hilang sama sekali akibat asutan orang
tua yang menyalah-nyalahkan PR anaknya.
Internet merupakan salah satu media yang sangat berguna
dalam membantu perkembangan ilmu pengetahuan. Apabila guru menyuruh muridnya
untuk mencari bahan pelajaran di internet maka itu merupakan sesuatu yang
wajar. Sebab, mungkin saja disekolah media pembelajarannya masih kurang atau
belum memenuhi standar nasional pendidikan. Maka dari internet peserta didik
bisa mendapatkan informasi yang lengkap dari semua yang dibutuhkan dalam proses
belajar-mengajar. Jika orang tua masih mengkhawatirkan anaknya menyalah gunakan
internet sebagai media pembelajaran yang efektif, maka sebaiknya orang tua
mengawasi kegiatan anaknya ketika mengunjungi internet. Apalagi dewasa ini
memang sangat terlihat sekali dampak negatif dari internet tersebut. Hal yang
sering digunakan anak ketika membuka internet baik dirumah maupun di warung
internet misalnya, adalah bermain game online seperti Point Blank, membuka
sosial media seperti Facebook, Twitter dan lain sebagainya. Lebih parahnya lagi
apabila anak tersebut membuka situs-situ porno ataupun situs-situs yang sangat
berdampak buruk terhadap perkembangannya. Maka dari itu dibutuhkan peran orang
tua untuk mengawasi anaknya agar tidak menyalah gunakan fasilitas internet yang
sangat mendukung perkembangan ilmu pengetahuan.
Dengan mengawasi jalannya kegiatan anak membuat PR, orang
tua seharusnya menyadari dalam dunia pendidikan itu harus ada pengorbanan, baik
berupa waktu, materi dan sebagainya. Apalah gunanya orang tua hanya
menghitung-hitung seberapa banyak uang yang habis untuk membiayai dalam memberikan
fasilitas belajar kepada anaknya mengingat hal itu nantinya juga untuk kebaikan
anak itu sendiri.
Untuk itu dengan banyaknya tanggapan negatif orang tua
terhadap PR yang diberikan kepada anaknya, penulis ingin memberikan saran
kepada guru dalam pemberian PR kepada muridnya. Pertama, tugas yang
diberikan harus sesuai dengan tingkat kompetensi anak, usia, dan kemampuannya
dalam menyelesaikan PR tersebut. Dan tidak boleh melampaui batas kemampuan anak
didik untuk mengerjakannya. Kedua, waktu yang dibutuhkan anak untuk
mengerjakan PR, sebaiknya tidak melebihi batas maksimal sepertiga dari jumlah
jam belajarnya di kelas dengan materi yang sama. Dan yang ketiga, jumlah
PR yang diberikan harus disesuaikan dengan jenjang pendidikan, serta
menyesuaikan materi dengan yang tertera pada kurikulum.
Dari pernyataan-pernyataan diatas maka kita dapat
menyimpulkan bahwa PR anak bukanlah suatu hal yang menjadi beban orang tua,
karena memang sudah tanggung jawab orang tua kepada anaknya untuk memenuhi
semua keperluan sekolah anaknya, baik bahan-bahan pelajaran, buku, alat tulis
dan kebutuhan-kebutuhan lainnya. Dari apa yang menjadi anggapan orang tua yang
memberikan pernyataan keras terhadap pemberian PR tersebut adalah benar-benar
kekeliruan dalam dunia pendidikan. Mungkin orang tuanya tidak berpendidikan
sehingga ia dapat menyatakan bahwa PR anak sangat membebaninya.
Selasa, 02 April 2013
Peran Pancassila dalam arus Globilsasi
Peran Pancasila Dalam Arus Globalisasi
oleh: Fahrizul Ikram
Negara Republik Indonesia memang tergolong muda dalam
barisan negara-negara didunia. Tetapi bangsa Indonesia lahir dari sejarah dan
kebudayaannya yang tua, melalui gemilangnya kerajaan Sriwijaya, Mataram dan
Majapahit, kemudian mengalami masa penderitaan penjajahan sepanjang tiga
setengah abad sampai akhirnya bangsa Indonesia memproklamirkan kemerdekaannya
pada tanggal 17 Agustus 1945. Sejarah bangsa Indonesia untuk merebut kembali
kemerdekaannya sama tuanya dengan sejarah penjajahan itu sendiri. Berbagai
babak sejarah dilampaui dan berbagai jalan telah ditempuh dengan gaya yang
berbeda-beda mulai dengan cara-cara yang lemah sampai cara-cara yang keras,
mulai dari gerakan kaum cendekiawan yang terbatas sampai pada gerakan yang
menghimpun kekuatan rakyat banyak, mulai dari bidang pendidikan, kesenian,
perdagangan sampai pada gerakan-gerakan politik.
Setelah melalui babak-babak sejarah sebelum terbentuknya
negara Indonesia, barulah dimulai perancangan bentuk negara dan pemerintahan
negara Indonesia. Maka para tokoh-tokoh bangsa Indonesia sibuk mendiskusikan
serta merancang perumusan pancasila, yang akan dijadikan sebagai dasar negara.
Pancasila sebagai dasar negara merupakan kesepakatan politik pada saat
terbentuknya negara Indonesia hingga sekarang. Sebagai dasar negara, pancasila
harus bisa menghadapi tantangan global dunia yang terus berkembang
saat ini mengingat pancasila adalah acuan negara. Akan tetapi sebuah
permasalahan besar bangsa Indonesia saat ini adalah penerapan dari niai-nilai
pancasila tersebut mulai memudar pada diri bangsa yang disebabkan oleh
globalisasi yang terus berkembang. Disinilah peran pancasila dalam menghadapi
kencangnya arus globlisasi yang dapat merusak kepribadian bangsa. Dimana
pancasila adalah kepribadian bangsa indonesia, yang memiliki makna bahwa sikap,
tingkah laku, dan perbuatan bangsa Indonesia memeiliki ciri khas tersendiri,
sehingga dapat membedakannya dengan bangsa yang lain. Ciri khas inilah yang
diartikan sebagai kepribadian bangsa.
Pengaruh masuknya budaya asing ditengah-tengah kehidupan
masyarakat Indonesia yang selalu diikuti tanpa adanya penyaringan kaidah
merupakan salah satu penyebab semakin berkurangnya rasa nasionalisme bangsa.
Sehingga konsep yang menyatakan pancasila sebagai kepribadian bangsa lenyap
begitu saja dengan pengaruh budaya asing yang terus meluas keseluruh penjuru
negeri. Betapa sayangnya bumi ibu pertiwi yang di atasnya terdapat beribu-ribu
suku, bahasa dan budaya, namun dapat dengan mudahnya ditepis oleh kebudayaan
asing dan kemudian menguasainya. Ini dikarenakan nilai-nilai pancasila belum
mengakar didalam diri bangsa, sehingga pancasila tidak dapat kokoh berdiri
seperti yang diharapkan. Dalam hal ini merupakan realita yang tidak dapat untuk
kita pungkiri, melihat keadaan bangsa yang terus mengalami permasalahan-permaslahan
dari waktu kewaktu, baik dari segi pemerintahan/ politik, masyarakat dan tindak
kejahatan dan kriminalitas yang semakin hari semakin bertambah jumlahnya.
Arus globalisasi yang terus mengancam pendirian bangsa
tentunya menambah tanggung jawab setiap masyarakat yang memikul beban yang
berat dengan selalu senantiasa berpegang teguh dengan nilai-nilai yang
terkandung dalam rumusan pancasila. Sedikit saja kita tergoda dengan kenikmatan
yang disuguhkan dunia global tanpa menyaringnya terlebih dahulu maka secara
otomatis pula akan merontokkan
nilai-nilai pancasila yang telah tertanam di dalam diri kita.
Globalisasi adalah fenomena
dimana batasan-batasan antar negara seakan memudar karena terjadinya berbagai
perkembangan di segala aspek kehidupan, khususnya pada bidang ilmu pengetahuan
dan teknologi. Dengan terjadinya perkembangan berbagai aspek kehidupan
khususnya di bidang iptek tersebut maka manusia dapat pergi dan berpindah ke
berbagai negara dengan lebih mudah serta mendapatkan berbagai informasi yang
ada dan segala sesuatu yang terjadi di dunia secara instan.
Kita sebagai bangsa indonesia
tentu sering melihat dan sangat mengenal gambar atau lambang-lambang didalam
sila-sila pancasila. Tetapi kita tidak pernah memperhatikan simbol-simbol dan
makna dari simbol yang terdapat di dalam perisainya. Disinilah kita dapat
memahami bahwa arus globalisasilah yang mempengaruhi masyarakat Indonesia
kurang memperhatikan dari apa yang tersirat diantara lambang-lambang tersebut.
didalam perisai yang terdapat pada dada burung garuda atau lambang pancasila,
memiliki arti-arti tersendiri sesuai dengan nilai-nilai yang terkandung
didalamnya.
Untuk Sila
Pertama yakni Ketuhanan Yang Maha Esa diwakili oleh simbol bintang.Simbol ini
mempunyai arti bahwa Tuhan menjadi cahaya bagi setiap manusia. Sebagai masyarakat beragama sudah sepatutnya kita menjalankan
kewajiban-kewajiban yang di bebankan tuhan kepada setiap umat beragama. Dengan
kata lain, segala sesuatu yang bersifat moralitas yang terdapat dalam
nilai-nilai agama harus berjalan dengan sebaik-baiknya. Dengan demikian
tentunya dapat menstabilkan moralitas masyarakat dalam kehidupan berbangsa dan
bernegara. Sehingga dapat menjadi prisai dalam menangkis dmapak globalisasi
yang merusak. Kemudian di bagian kanan bawah terdapat rantai yang
melambangkan Sila Kedua, Kemanusiaan
yang Adil dan Beradab. Rantai ini mengandung makna bahwa setiap manusia,
laki-laki dan perempuan,membutuhkan satu sama lain dan perlu bersatu sehingga
menjadi kuat. Dengan tidak membeda-bedakan keterbelakangan dan kekurangan, ras, dan suku
kelompok maupun individu, dan membenarkan segala sesuatu yang benar dan menyalahkan segala sesuatu yang
salah. Tidak berpihak pada satu sisi,
tetapi tetap berada ditengah-tengah antara yang benar dan yang salah. Sehingga
dapat mengkokohkan pendirian bangsa dalam memberikan keadilan pada setiap
lapisan masyarakat tanpa berpihak kepada satu sisi tertentu dengan faktor-faktor
tertentu.
Selanjutnya, terdapat gambar pohon
beringin untuk Sila Ketiga,
Persatuan Indonesia. Simbol
ini menyiratkan bahwa
seluruh
rakyat Indonesia bisa “berteduh” di bawah naungan negara Indonesia. Berlindung dari segala tekanan-tekanan yang mengancam
kemaslahatan kehidupan sosial bermasyarakat, baik dari dalam maupun dari luar.
Dengan bersatu maka akan terbentuk kekuatan yang besar dan perisai yang kokoh
dalam melindungi bngsa dari ancaman arus globalisasi yang berdampak buruk. Di sebelah kiri atas terdapat gambar kepala banteng
sebagai simbol Sila Keempat yakni Kerakyatan yang Dipimpin oleh Hikmat
Kebijaksanaan dalam Permusyawaratan/Perwakilan. Lambang tersebut
digunakan karena dalam musyawarah di mana orang-orang harus berkumpul untuk
mendiskusikan sesuatu seperti halnya sifat banteng. Dan yang terakhir terdapat padi dan
kapas untuk Sila Kelima yaitu
Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia. Simbol padi dan kapas
melambangkan kebutuhan dasar setiap manusia yakni pangan dan sandang sebagai
syarat utama untuk mencapai kemakmuran Indonesia.
Dari kelima
sila-sila tersebut, dapat kita pahami bahwa pancasila sudah terumus dengan
begitu sempurna, tetapi pencerminannya dalam diri masyarakat untuk menrapkannya
sebagai dasar negara tidak berjalan sesuai dengan tujuan perumusan pancasila.
Pada dasarnya, pancasila sudah sangat tangguh dalam membentengi bangsa
indonesia dari badai globlisasi yang dampaknya sangat buruk terhadap
kepribadian bangsa Indonesia. Jika nilai-nilai pancasila tersebut sudah
benar-benar tertanam didalam diri bangsa, maka kita dapat meyakini bahwa
pancasila dapat berdiri kokoh meskipun diterjang badai globalisasi sekalipun.
Tentunya, tujuan bangsa Indonesia dapat berjalan dengan sebaik-baiknya, serta
solusi dari setiap permasalahan-permasalaha yang sedang dihadapi bangsa
Indonesia. Dengan menyaring semua yang diberikan dunia global terhadap bangsa,
maka bangsa indonesia mendapatkan dampak yang baik dari arus globalisasi
tersebut. sehingga pemanfaatannya sangat mempengaruhi kemajuan dan eksitensi
bangsa Indonesia dalam panggung dunia.
Rabu, 06 Maret 2013
opini
Demokrasi
vs
Khilafah
Oleh:
Fahrizul Ikram
Siapa yang tidak prnah berangan-angan hidup
dibwah naungan khliafah. Sudah
mimpi setiap muslim didunia mendambakan khilafah. Tapi beginilah adanya, manusia adalah
khalifah dimuka bumi, dengan demikian dapat dikatakan manusia
mempunyai hak dalam membuat suatu hukum dan tata kehidupan dimuka bumi. Memang benar, Alquran adalah sumber
hukum yang paling utama, tapi apakah
mungkin hukum dan peraturan berlalu-lintas juga kita kait-kaitkan dengan Alqur’an?
Tentu saja tidak.
Pembaca yang budiman, bukan penulis bermaksud sok
pintar, tapi hanya sekedar memberikan pendapat untuk menanggapi pernyataan-pernyataan
dari berbagai kalangan yang mengganggap sistem pemerintahan negara kita ini
salah. Mengingat negara kita yang berasaskan demokrasi, sudah haknya setiap
orang dalam memberikan pendapatnya. Tetapi dalam kasus beberapa waktu terkhir
ini sering sekali muncul anggapan-anggapan, maupun penyataan-pernyataan yang
sedikit konyol menurut penulis sendiri. Sudah susah-susah rakyat Indonesia
membangun bangsa dan negara, menuju negara yang adil dan makmur, tetapi malah
kesengsaraan yang didapat. Tidak perlu kita bertanya siapa yang perlu
disalahkan. Karena yang salah itu benar. Artinya, semua menganggap dirinya benar
meskipun dalam pandangan orang lain salah. Menganggap orang lain salah dan
membenarkan dirinya meskipun sudah mutlak salahnya. Jadi salah itu tidak ada
sebenarnya. Yang ada itu keliru barangkali.
Entah bagaimana kasus ini menjadi hal yang menarik
untuk dijadikan bahan kepenulisan penulis dalam menyuarakan pendapatnya. Sering
sekali penulis melihat berbagai bentuk tulisan yang menolak “DEMOKRASI”,
mengapa? Entah, penulis juga tidak mengetahuinya. Yang terpenting utnuk kita
pahami, yang menjadi landasan dasar para pemberontak demokrasi ini adalah
menganggap bahwa demokrasi bukanlah cara alternatif dalam mewujudkan
pemertintahan yang sejahtera. Melihat dari makna Demokrasi itu sendiri yaitu
kedaulatan ditangan rakyat, dari rakyat, untuk rakyat, dan oleh rakyat pula,
maka dengan itu mungkin mereka tidak terima mengingat kedaulatan atau kekuasaan
tertinggi itu bukan ditangan manusia melainkan ditangan tuhan. Tuhanlah yang
lebih pantas menyandang kedaulatan tersebut. dengan hal itu maka mulailah pergejolakan
ditengah masyarakat Indonesia menolak demokrasi. Dan bermunculan pula
semboyan-semboyan yang menyudutkan demokrasi, seperti “islam dan demokrasi
antara iman dan kufur”, salah satunya.
Memang, para penolak demokrasi ini sangat berambisi sekali dalam mewujudkan
suatu tatanan pemerintahan yang sesuai dengan Syari’at Islam yaitu Khilafah
Islamiyah. Seperti evaluasi kritis atas sejarah pemerintahan Islam dalam salah
satu maha karya seorang tokoh ulama Abul A’la al-Maudadi didalam bukunya yang
berjudul Khilafah wal Mulk. Dalam kisahnya memperjuangkan sistem khilafah
dimata dunia sangat menarik perhatian para pembaca dari buku-buku yang
ditulisnya. Abul A’la sangat anti sekali dengan demokrasi, sama seperti
kelompok diatas. Dan landasan yang mendasarinya juga sama mengenai kedaulatan.
Untuk menanggapinya, penulis ingin bertanya
terlebih dahulu kepada para pemberontak demokrasi ini. Sudah siapkah anda
menjadikan sebuah negara dengan sistem pemerintahan Khilafah Islamiyah? Sudah siapkah
anda menghadapi permasalah-permasalahan negeri ini dari masa kemasa sambil
menggeser demokrasi dari singgasananya? Dapatkah anda menjamin kesejahteraan
rakyat dibawah naungan khilafah seperti yang anda dambakan? Ya,sudah pasti
jawabannya “insya Allah”.
Perlu kita ketahui bahwa manusia bukanlah malaikat
yang bersih dari dosa dan kesalahan. Hanya Rasulullah saw, pemimpin yang sangat
sempurna. Sepeninggalnya, tidak ditemukan pemimpin yang sesempurna dari
dirinya. Wajar, beliau adalah seorang Rasul. Lantas, dizaman sekarang? Mungkinkah
ada manusia seperti Rasulullah? Jawabnya tetap “insya Allah ada”. Beriringan dengan
arus globalisasi, dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi sangat
memungkinkan seseorang untuk jauh dari kehidupan beragama. Bahkan seorang
muslim sekalipun. Meskipun banyak kita jumpai pelopor-pelopor kebenaran yang
ingin mewujudkan Khilafah Islamiyah, tetapi tetap saja, itu merupakan ilusi
semata.jika mereka mengangap demokrasi adalah ilusi maka tidak ada salahnya
orang yang hidup dalam pemerintahan demokrasi mengatakan perwujudan khilafah
adalah ilusi. Karena khilafah hanya bisa ditegakkan oleh Rasulullah saw saja.
Dari sedikit dari
sekian banyak anggapan orang tentang demokrasi diatas, maka dapat disimpulkan,
manusia adalah makhluk sempurna yang diciptakan tuhan dengan dibekali akal dan
pikiran sehingga dapat membedakan mana yang benar dan salah. Dalam kehidupan
sehari-hari ternyata tidak ada kata “salah”, semua “benar” adanya. Apapun sistem
pemerintahannya, sebaik dan sesempurna apapun ideologinya, meski khilafah
sekalipun tanpa memiliki manusia yang berakhlak, berilmu, dan berkualitas, maka
itu adalah hal yang sia-sia. Kesejahteraan akan terus menjadi ilusi setiap orang.
Sabtu, 05 Januari 2013
opini
Walimah Bukan Pestafora
Oleh: Fahrizul Ikram
Pesta itu asyik, jika semua sistem telah berjalan
sebagaimana yang di inginkan. Pesta adalah tempat berkumpulnya keluarga maupun
teman dan rekan-rekan kita dalam satu acara. Dimana tempat lahirnya semua
ekpspresi yang melukiskan kebahagiaan semua orang. Ditambah lagi, tuntutan
zaman yang memaksa kita untuk berpesta jika berencana membuat sebuah acara. Tetap
saja kita tidak bisa menolak jika zaman yang meminta. Karena apa? Ya apa lagi
kalau bukan karena gengsi. Selain itu ada pula yang mencari keuntungan dari
sebuah pesta yang diselenggarakan. Seperti halnya dalam pesta pernikahan atau “weedding
party” bahasa kerennya. Jika kita telusuri lebih dalam, tidak sedikit
masyarakat kita yang menyelenggarakan pesta pernikahan, hanyalah untuk mencari
keuntungan materi saja. Sederhananya, mereka menginvestasikan uang mereka untuk
mempersiapkan bahan-bahan yang deperlukan untuk sebuah pesta. Hal yang paling
umum yang paling sering kita jumpai dalam pesta adalah makanan, dan hiburan. Ini
adalah hal-hal yang harus ada dalam sebuah pesta, karena dari situlah
penyelenggara akan mendapatkan keuntungan. Hidangan yang disajikan sangat
menarik perhatian tamu undangan untuk mnghadiri sebuah pesta tersebut. jika
dalam sebuah pesta tidak terdapat sesuatupun yang dapat untuk dimakan, maka
seorang tamu undangan akan berfikir seribu kali untuk datang memenuhi undangan
tersebut. kemudian hiburan, jika sebuah pesta tidak terdapat sebuah hiburan
didalamnya maka itu sangat mempengaruhi tamu undangan yang datang. Sebab tamu
undangan akan merasa terhibur dan dapat merasakan suasana yang ramai, sehingga
tidak membuatnya bosan. Pada umumnya hiburan yang sangat disenangi oleh tamu
undangan dewasa ini adalah Keyboard. Dimanapun dan kapanpun tetap saja Keyboard
yang paling populer. Sehingga dari kedua hal tersebut, kita dapat menyadari
bahwa, semakin banyak tamu maka semakin banyak amplopnya. Nah tentu saja ini
merupakan sebuah bisnis tahunan yang mengutungkan. Jika kita hitung dari
makanan yang telah disantap, anggap saja satu porsi harganya RP15.000, dan satu
amplop rata-ratanya Rp20.000-Rp25.000. Berapakah keuntungan yang diperoleh dari
seorang tamu Undangan? Iya, Rp5000-Rp10.000.
Dapat kita kalikan berapa banyak keuntungan yang
diperoleh jika tamu undangan mencapai 10.000 orang. Inilah realita kehidupan
pada akhir zaman. Sebenarnya, bukan seperti itu yang anjurkan Islam untuk umat
Muslim yang menyelenggarakan pesta pernikahan atau yang lazimnya disebut
Waliemah dari kebanyakan orang.
Waliemah adalah peralatan perkawinan yang disdiakan oleh
mempelai laki-laki setelah akad berlangsung dan mempelai laki-laki memasuki
kamar pengantin istri, dengan sekurang-kurangnya dengan menyembelih seekor
kambing jiaka sanggup. Dan Rasul juga telah melakukan hal yang demikian itu.
sebagai mana diberitakan oleh Annas r.a “Bahwa Nabi saw melaksanakan
Waliemahnya untuk Zainab dengan menyembeli seeekor kambing”.
Tetapi, diceritakan oleh Asma binti ‘umais, ia berkata: “aku
menjadi teman Aisyah ra. pada malam aku menyelenggarakannya untuk dimasukkan
kedalam rumah Rasul. Aisyah ditemani oleh beberpa perempuan lain. Demi Allah,
kami hanya mendapati disisi Rasulullah kala itu hanya segelas besar susu. Maka Nabi
kemukakan kepada Aisyah. Tetapi Aisyah malu menerimanya, sehingga dengan
ajakanku yang keras Aisyahpun menerimanya dengan malu dan meminumnya. Stelah itu
Nabi berkata “berilah kepada teman-temanmu yang lain.” Kemudian aku berkata “kami
tidak suka minum susu ya Rasulullah” (saya katakan itu karena melihat
sedikitnya susu itu) mendengar itu Rasulullah berkata “jangan kamu kumpulkan
Lapar dan Dusta”. Kemudian aku bertanya “apakah ya rasulullah jika kami
mengatakan tidak suka kepada sesuatunya yang sebenarnya kami suka dipandang
dusta?. Menjawab Nabi, “segala dusta itu dicatat, tak ada yang terluputi dari
catatannya”.
Dari beberpa hadis yang disebutkan diatas, diketahui
bahwa Waliemah itu dituntut atas suami dan dilaksanakan setelah Dukhul,
dengan cara yang sederhana. Dan difahamkan bahwa atas orang yang berada,
dituntut Waliemah itu sekurang-kurangnya seekor kambing. Tidak salah jika sesorang
yang memiliki kesanggupan membuat waliemah yang besar-besaran, mengundang
beribu-ribu orang. Tetapi apalah artinya semua itu jika hanya menambah dosa dan
mengurangi berkah Allah ‘aza wazalla. Tamu yang diundang juga merupakan
orang-orang yang besar, memiliki jabatan dan sebagainya. Barulah ia menyantap
makanan itu sesuka hatinya, jika ia sanggup maka habislah satu porsi, tetapi
jika tidak maka terbuanglah makanan itu dan menjadilah ia mubazir. Dari realita
yang terjadi, kita dapat melihat betapa banyak makanan yang terbuang pada
setiap melaksanakan suatu acara yang berlebihan seperti ini. orang yang terbiasa
makan enak, dan terbiasa hidup dalam kemewahan, tidak tersentuh hatinya melihat
makanan yang bertimbun di tempat cuci piring yang berada didapur pesta. Tetapi jika
orang yang terbiasa hidupnya susah, bahkan untuk mencari makan saja harus
mengemis dan merangkak mengaisi sampah, melihat itu semua mereka akan menangis.
Mereka begitu susah untuk mendapatkan sekepal nasi, tapi disini, pada pesta
yang begitu meriah ini, begitu mudahnya mereka membuang-buangnya.
Inilah kenyataan yang begitu nyata untuk kita lihat. Para
umat sekarang, mengaku dirinya pengemban sunnah, tetapi malah berlomba-lomba
dalam kemegahan dalam Waliemah. Maka, dengan demikian, mereka membuat dua
kesalahan. Yang pertama, memberat-beratkan diri, dan yang kedua ialah
mengerjakannya tidak sesuai dengan tuntutan agama, melainkan hanya mementingkan
untuk kesesuaian pada perkembangan zaman. Entah kesalahan yang kedua akibat
dari kesalahan yang pertama? Hanya saja kita perlu menyadari bahwa
kesalahan-kesalahan itu menimbulkan banyak kesalahan.
Langganan:
Postingan (Atom)