Daftar Blog Saya

Selasa, 27 November 2012

untukmu ayah



dimana...
 akan kucari
aku menangis seorang diri
dataanglah
aku ingin bertemu
untukmu, aku menanti

lihatlah..
hari berganti
namun sekarang lebih indah
dari dahulu
meski aku harus menahan pilu
untuk ayah tercinta

untukmu ayah,
dengarlah kata hati ku
disini aku menangis untukmu
aku adalah anak terbodoh yang pernah ada
yang mengecewakanmu
meski bukan niatku
dan tidak membunuhmu
tapi itu nyaris...
tusukan hati jauh lebih tajam
daripada mata logam yang kulayangkan

saat itu aku takut ayah
aku takut kau akan meningalkanku
meski pada akhirnya kau pergi 
meninggalkanku
meninggalkan mama
dan semua

aku benar-benar terbeban
aku tertekan
dan...
saat itu aku kecewa, ayah..
kecewaaa...
sungguh kecewa...

ayah...
 hati ini menangis saat berdekapan dengaanmu kembali
 aku sangat merindukan momen ini
 ayah...
 maafkan daku yang pernah menyakitimu
 aku adalah seorang anak durhaka
 sungguh, wallahi kejadian itu adalaah sebuah kekhilafan
 maafkan aku ayah
 aku tak bisa berkata apa-apa
 aku menangis bahgia bisa sedekat ini denganmu
 ayah...
 jika suatu saat nanti kita bertemu lagi
 aku akan berlutut memohon ampun padamu....
Allah, maha besar engkau yang telah memberi kesempatan untukku...

Jumat, 16 November 2012

opini



Sandiwara “AMUK” Mendramatisasi “Amukan” Mahasiswa
Oleh: Fahrizul Ikram


Beberapa waktu lalu, dalam rangka menyambut  1 Muharam 1434 H, “AMUK” (Aliansi Mahasiswa Untuk Kebenaran) menggelar aksi keislaman yang membuat Mahasiswa STAIN ZCK terharu atas inisiatif mereka. Yaitu pembacaan surat Yasiin bersama-sama dihalaman kampus STAIN ZCK. Semangat dan antusias seluruh mahasiswa dari berbagai Prodi datang berbondong-bondong meninggalkan kelas untuk mengikuti acara tersebut. Sebab jarang sekali diadakannya hal-hal seperti ini di kampus. Semua mahasiswa yang menjunjung tinggi syariat islam kala itu tersenyum bahagia setelah melakukan dan menyaksikan pembacaan surat Yasiin dan Shalawat atas Nabi yang juga melengkapi acara tersebut. Setelah selesai, para Laskar “AMUK” memulai aksinya. Bersandiwara dihadapan seluruh mahasiswa yang menghadiri acara tersebut. Perca hitam melilit dikepala mereka, tertulis dengan tinta putih “AMUK”.
Mereka melakukan tuntutan yang ditujukan kepada PUKET III yang dinilai mereka tidak bertanggung  jawab atas kewajibannya. Dalam orasi ini, mereka melibatkan mahasiswa untuk ikut meng“AMUK” didepan pintu masuk kampus, menuntut PUKET III untuk menstabilkan keorganisasian mahasiswa demi menjaga kredibilitas kampus. Kemudian pada point selanjutnya mereka menuntut PUKET III untuk menertibkan mahasiswa yang melanggar kode etik mahasiswa. Menertibkan secara benar peran dan fungsi lembaga mahasiswa dikampus. Dan ditegakkannya syariat islam dikampus secara kaffah. Namun sayangnya, meski sandiwara mereka terlihat begitu dramatis tapi tak sedikit mahasiswa menyadari bahwa dirinya ditipu, dan secara bersamaan pula mereka dipaksa ikut meng”AMUK” didepan pintu kampus bersama laskar “AMUK”. Berdasarkan komentar dari beberapa mahasiswa, mereka mengatakan bahwa pada hari itu mereka diperintahkan oleh Laskar AMUK untuk menghadiri acara pembacaan Surat Yasiin di halaman kampus. Dan mereka tidak diberi tahu bahwa pada waktu yang bersamaan juga akan dilakukan orasi damai, yaitu tuntutan laskar AMUK terhadap PUKET III yang akan melibatkan mahasiswa-mahasiswa yang hadir diacara tersebut.  Jelas disini, ini merupakan penipuan  dalam sandiwara yang mereka buat.
Lebih disayangkan lagi, ibadah dijadikan sebagai  alat untuk menipu dalam persoalan-persoalan yang tidak berkaitan dengan syariat. Pepatah mengatakan “Ada udang dibalik Batu”, begitulah kata-kata yang cocok dalam realita tersebut. Ternyata ada niat terselubung dari penggelaran baca surat yasiin yang dilakukan bersama-sama itu. Sangat disayangkan sekali. Seharusnya niat ibadah itu semata-mata karena Allah swt, bukan karena suatu faktor yang lain. Dan pernyataan mereka yang mengatakan bahwa kampus melupakan atau mengacuhkan hari-hari besar syariat islam seperti peringatan 1 Muharaam diatas, merupakan akal-akalan peng“AMUK” agar memiliki pendukung untuk menyemarakkan tuntutan mereka dalam mempertahankan posisi suatu kelompok tertentu yang dianggap memiliki permasalahan dengan pihak yang bersangkutan yang telah disebutkan diatas. Jelas-jelas itu merupakan persoalan pribadi kelompok yang mungkin posisinya sedang tidak menguntungkan.
Jika kita lihat dari point-point tuntutan tersebut, permasalahan yang berupa kampus tidak menjalankan syariat islam dilingkungan kampus dengan sempurna itu bukanlah merupakan suatu permasalahan yang harus dibesar-besarkan. Jika memang kita ingin menghidupkan syariat islam didalam lingkungan kampus mengapa harus melakukan unjuk rasa seperti yang dilakukan para peng “AMUK” diatas. Karena itu adalah kegiatan yang memalu-malukan mahasiswa STAIN ZCK saja. Sebab pelaku-pelaku pelanggar syariat islam umumnya dari mahasiswa itu sendiri. Sebagai mana firman Allah swt, “Allah tidak akan merubah nasib suatu kaum kecuali kaum itu sendiri yang merubahnya” . untuk itu, kita sebagai mahasiswa yang merupakan agent perubahan dalam segala lini seperti yang dikatakan “AMUK”, hendaknya mengintrospeksi diri sebelum menyatakan anggapan suatu kebenaran. Karena yang sebenarnya yang akan menjadi bumerang bagi mahasiswa adalah perbuatan dan sikap mahasiswa itu sendiri yang tidak mencerminkan akhlak yang sesuai dengan sistem dan ketentuan-ketentuan yang berlaku dikampus STAIN ZCK Langsa.


Selasa, 06 November 2012

cuplikan novel




Ratapan Cinta Auda
oleh: Fahrizul Ikram


 

Setelah berjalan menapak aspal menuju taman sambil menenteng sebuah buku yang tersusun dari lembaran-lembaran yang tak menyatu. Aku duduk diatas ayunan yang bergantung diatas sebuah dahan kayu. Sebuah pohon rindang yang menghijaukan halaman rumahku.  Sore itu benar-benar sepi. Tiada aku melihat anak-anakku yang canti-cantik dan manis-manis. Entah dimana mereka berada, bermain diantara luas halaman rumahku. Meski hari ini adalah hari minggu tetapi suamiku tetap bekerja, hari-hariku bersamanya sangat singkat. Bahkan bisa dihitung beberapa jam saja kami bertemu karena kesibukkan masing-masing. Aku kasihan melihat anak-anak yang jarang sekali mendapat perhatian ayahnya. Kadang aku serampangan dalam hati, seolah menyesal menikahi laki-laki yang super sibuk seperti dia. Tapi,disisi lain aku mempunyai perasaan yang susah diungkapkan. Sampai sekarang aku tidak pernah mengatakan cinta kepadanya. Karena aku tidak tahu apakah aku mencintainya atau tidak. Tapi bagaimanapun dia adalah suamiku, meski sesibuk itu demi menghidupi aku dan anak-anakku.
Aku telah lama mengenalnya. Dia orang yang setia, tapi ketika itu sangat sulit bagiku untuk menerimanya. Mungkin karena dia adalah orang yang aku sayang. Sebab aku takut cinta akan memutuskan ikatan persahabatan yang telah lama kami bena. Daffa namanya. Dia sahabatku dari kecil, dan entah bagaimana bisa sampai menjadi pendamping hidup. Sebenarnya kami bertiga, tapi yang ketiga itu hanyut terbuai dalam cinta sehingga persahabatan yang jauh lebih berharga tidak berarti dimatanya. Namanya Nurul. Meski cantik tapi sikapnya terlalu kasar. Meskipun kami selalu mengalah dan mencoba untuk mengerti dia, tapi justru dia tidak menghargainya.
Hmm, terasa kesejukkan dan kelembutan angin yang berhembus. Ku lihat disekeliling, sepi tanpa ada selain aku dan benda-benda yang bersuara diterpa angin. Tiba-tiba saja aku tersenyum, melihat kertas-kertas berharga yang dari tadi aku letakkan dipangkuanku. Tercoret di lembaran pertama, “BBF Aurel, Nurul, dan Daffa”.
Au membuka kaca mataku, sambil menyingkap lembaran-lembaran yang penuh dengan coretan coretan tinta yang rapi. Kembali aku tersenyum dan bahagia, ternyata semua kisah itu masih terjaga. Dan tiada satupun lembaran-lembaran  kenangan itu yang hilang. Kecuali sepenggal kisah yang belum tersingkap. yaitu Dia.  Sepuluh tahun sudah, aku menyusun kata-kata untuk menceritakan semua ini. hingga pada lembaran yang terakhir, aku bingung untuk mengungkapkan kata-kata yang menceritakannya. Tiada kata-kata yang dapat melebihi keindahan dirinya. Aku tak dapat menuliskan ceritanya ketika ia bersamaku, sebab semua itu sangat berat bagiku untuk mengenangnya. Namun, Aku akan berusaha untuk melakukannya.
Hanya beberapa bait puisi yang sederhana yang dapat kutuangkan untuk mengenangnya.
sejak hari pertama jalan hidup kita bertemu
seperti hidup kita saling terlilit
aku tidak akan melupakan bagaimana bertemu dengan mu
atau bagaimana kamu dengan perlahan mencuri hatiku

mungkin kau tak percaya
seberapa dalam perasaan ku padamu
bahkan sekarang, kau tak tau isi hatiku
bagai mana bisa ku jelaskan apa yang kurasakan
ohhh...
sayang, jangan biarkan semua ini pergi
kita dapat melewatinya jika kita menjadi kuat
kau tau aku tidak dapat memilikimu
aku hanya menangis untukmu
kau tau hatiku merindukanmu
sayang, aku cinta kamu, aku menunggumu
aku tau kita mengahadapi banyak kesulitan
bersama diriku bukanlah hal yang mudah
aku minta maaf karena kesombongan ku
kau tau kau menjadi satu-satunya yang
mengubah hidupku
mengapa kau tidak mengerti
ku berikan dunia hanya untukmu
bahkan jika itu akan membuatku
membayar dengan semua yang ku punya
aku akan mempertahankan apa yang kita miliki
ohhh...
sayang,tolong maafkan kebodohan ini
aku hanya ingin melindungimu
hatiku berhenti berdetak untuk mengatakan
kata-kata yang menyakitkan itu
aku sendiri menangis untukmu


“selamat tinggal”, jangan katakan itu
ingatlah betapa banyak cinta kita
aku butuh kamu, aku ingin berkata bahwa
betapa aku menginginkanmu
sayang, berikan aku kesempatan sekali lagi

Angin berhembus menerbangkan semua yang dilaluinya. Debu-debu kelabu bertebaran mengikuti laju angin yang berputar. Daun-daun jatuh berguguran. Berserakan dibawah pohon yang rindang. lembaran-lembaran yang mengkisahkanmu tersingkap pada sebuah halaman dimana waktu itu pertama kali kita bertemu.
sejak hari pertama jalan hidup kita bertemu
seperti hidup kita saling terlilit
aku tidak akan melupakan bagaimana bertemu dengan mu
atau bagaimana kamu dengan perlahan mencuri hatiku

Aku melihat, dibalik rak-rak buku perpustakaan. Tiada suara berisik menghangatkan suasana kecuali bisikan orang-orang yang membaca. Aku mencari sebuah buku di beberapa rak buku yang telah kulalui. Beberapa buku telah kutenteng sambil berjalan. Sampai pada sebuah rak disudut ruangan, aku mendapatkan buku itu. aku menariknya perlahan. Mengeluarkannya dari rak buku yang tersusun rapi. Tapi, sulit sekali untuk mengeluarkannya. Seolah-olah buku itu terkait sesuatu yang menahannya untuk dikeluarkan. Aku tarik dengan sekuat tenaga. Sedikit, demi sedikit bagian dari buku itu keluar, aku terus menariknya. Tiba-tiba buku itu dengan sendirinya masuk kembali kedalam rak. Sperti ada yang menariknya kedalam. Aku keheranan. Dengan hati yang kesal, ku tarik buku itu dengan keras sekali. Akhirnya buku itu terlepas dari sesuatu yang menahannya. Aku terpelanting kebelakang. Membentur rak-rak buku dibelakangku. Buku-buku berjatuhan bagai hujan yang menimpaku. Keributanpun terjadi. Suasana hening menjadi buyar. Seseorang datang menghampiri dari balik rak buku itu. itulah dia. Laki-laki culun, berambut keriting memakai kacamata. Dia mendekat, berusaha menolong mengembalikan buku-buku itu kembali keatas rak.
“kamu gak papa kan?” ucapnya sambil menoleh memandangku.
Aku Cuma tersenyum malu dan menggeleng-gelengkan kepala. Kupandangi terus laki-laki itu sampai buku-buku-buku itu tersusun kembali.
“emmm, lain kali hati-hati ya” gumamnya.
“i..iya”. sahut ku salah tingkah.
“yasudah aku duluan” ujar laki-laki itu. aku menganggukkan kepala.
Kemudian laki-laki itu berjalan meninggalkanku, ditanganya ada buku yang ia sisihkan saat merapikan buku. Aku mulai curiga, sepertinya buku yang ada ditangannya itu adalah buku yang aku cari-cari sampai-sampai membuatku jadi seperti ini.
“hei, tunggu!” aku berlari kearahnya.Dia kebingungan.
“maaf, aku mau mengambil buku yang ada ditanganmu. Dari tadi aku mencarinya” ucapku sambil mengulurkan tangan kearahnya.
“buku ini? tapi aku yang lebih dulu menemukannya.” Sahutnya.
“maaf buku itu kutemukan lebih dulu, sampai-sampai aku dihujani buku-buku saat mengeluarkannya dari rak. Kamu menemukannya setelah buku-buku itu berserakan dilantai. Jadi tolong berikan buku itu”.
“tapi sebelum itu aku yang mengambilnya duluan, tapi buku itu susah dikeluarkan, atau jangan-jangan kamu yang menariknya?” ucap lelaki berambut keriting itu.
“apa? Berarti kamu yang...? hei, sini balikin. Aku yang nemuin duluan” sanggahku kesal.
“gak bisa gitu dong, aku yang temukan pertama kali. Jadi aku lebih berhak meminjamnya lebih dulu.” Teriaknya kesal.
“balikin!” bantahku dengan nada tinggi. Aku mencoba merampas buku itu dari tangannya. tapi dengan sigap ia mengayunkan tangannya kebelakang.
“enggak! kamu apa-apaan sih?”. Bantahnya. Mukaku memerah melihatnya.
“ngalah dong ma cewe, sini balikin.” Paksaku.
Tiba-tiba aku dikejutkan dengan teriakan seorang wanita bertubuh besar. Mukanya sangar. Dia berdiri diujung lorong lemari buku. Wanita itu adalah penjaga perpustakaan. Namanya buk Desrina. Anak-anak sekolah biasa menyebutnya “buldoser”. Mungkin namanya cocok diganti dengan gelar itu.
“kalian berdua, kemari!” teriaknya galak. Matanya memandang tajam kearahku.
Suasana hening sejenak. Jantungku berdebar. Laki-laki itu terlihat santai. Tak terlihat gugup dari raut wajahnya. Dia berjalan dengan percaya diri menndekati buldoser perpustakaan itu. Aku mengikutinya dari belakang dengan langkah yang lambat. Aku ketakutan.
“ikut saya.” Ucap buldoser itu garang.
Kami dibawa kesebuah ruangan di sudut perpustakaan. Buldoser itu terlihat garang dengan wajah yang masam. Wajahnya begitu bengis membuat kakiku gemetar berhadapan dengannya. Sementara laki-laki itu terlihat biasa-biasa saja seperti tidak terjadi apa-apa.
“kalian berdua sudah berbuat onar didalam perpustakaan saya. Dan itu artinya kalian harus menerima hukumannya.” Kata buldoser dengan sinis.
“tapi buk, yang salah dia kenapa saya juga dihukum”. ucapku memaksa buldoser yang sedang naik darah.
“saya tidak perduli, gak ada tapi-tapian. Saya akan memberikan hukuman untuk kalian. Kalian harus mem5bersihkan toilet sekolah sampai bau pesingnya hilang. Sekarang!!!!” bentak buldoser.
Kami berdua keluar meninggalkan ruangan buldoser dengan langkah yang tergesa-gesa menuju toilet. Tempat yang paling mengerikan yang pernah kulihat.
“hei, tunggu dulu. Ini semua gara-gara kamu. Kalau kamu kasi buku itu pasti gak kaya gini jadinya. Pokoknya aku gak mau tau, kamu aja yang ngerjai. Aku gak mau!”. Ucapku kesal.
Laki-laki itu tidak memperdulikanku, ia terus bekerja membersihkan toilet. Aku semakin kesal dibuatnya. Saking kesalnya, aku menyepak ember yang berisi air disamping lelaki itu. celananya basah tersiram air itu.
“kamu apa-apaan sih? kalau gak mau ngerjain yasudah pergi aja sana. ngapai juga marah-marah.” Bentaknya.
Aku semakin naik darah, ingin sekali rasanya aku menarik-narik rambut keritingnya itu. setelah ia berkata sperti itu aku langsung berpaling dan beranjak keluar. Tiba-tiba aku terpeleset, aku terjatuh didepan pintu toilet. Kepalaku membentur tembok. Setelah itu aku tak sadarkan diri.
Saat aku membuka mata, aku sudah berada di atas kasur putih. Sebuah tirai menghijab, menjadi pembatas dan membentuk ruangan dimana aku berada ditengah-tengahnya. Saat aku mencoba menoleh kesekelilingku, aku dikejutkan lelaki itu. 
to be continued...

Selasa, 30 Oktober 2012

Opini

Kota Pening Lalat, Kota Sampah
oleh: Fahrizul Ikram


Betapa indahnya kota ini tanpa ada sampah yang menumpuk, sampah yang berserak, dan bau busuk sampah yang menyengat. Diantara ruko-ruko yang berjejeran disepanjang jalan terdapat tempat pembuangan sampah yang telah disediakan. Ada yang berupa tempat sampah organik dan ada juga tempat sampah anorganik. Terlihat pedagang kaki lima antusias membersihkan barang dagangannya, partisipasinya begitu besar dalam menjaga kebersihan. Setiap barang-barang dagangannya yang telah menjadi sampah, mereka buang pada tempat yang telah disediakan itu. mereka dapat memilah, mana sampah organik dan mana sampah anorganik. Artinya dikota ini telah diterapkan slogan “5K”. Para masyarakat kota tersebut sangat peduli terhadap lingkungan. Sejauh mata memandang, tiada lagi terlihat yang namanya sampah. Hanya keasrian kota yang nyaman, bersih, tertib, dan rapi. Becak-becak bermotor terparkir rapi pada area yang telah disediakan. Kendaraan berlalu-lalang dengan tertib dan teratur. Tidak ada pengendara yang saling mendahului. Para pejalan kaki, berjalan dengan nyaman diatas torotoar yang sejuk dibayangi bayang-bayang pohon yang rindang. Tapi sayang, saat saya membuka mata, semuanya berubah. Bahkan jauh berubah dari yang saya lihat sebelumnya. Saya baru menyadari, ternyata saya sedang bermimpi dalam kedipan mata saja. Dimana-mana berserakan sampah-sampah pelastik, kantong-kantong kresek, dan beraneka ragam sampah lainnya. Becak-becak bermotor terparkir bergelimpangan sampai-sampai merembes kesisi tengah jalan. Klakson mobil berdengung memekik garang. Asap kendaraan yang hitam mengepul mengudara. Polusi dimana-mana. Ditambah lagi kepadatan orang-orang yang berjalan menyisiri kota terlihat bagai koloni semut yang kehilangan arah menuju sarangnya. Semua terlihat sangat mengerikan. Seperti inikah yang dinamakan sebuah Kota? mungkin Benar, Kota sampah namanya.
Ini merupakan sebuah gambaran, betapa buruknya keadaan lingkungan kita. Memang banyak orang yang menyadari bahwa sampah itu jorok dan menjijikan. Tapi belum ada kesadarannya untuk berbenah, menanggulangi, menjaga kebersihan dan berpartisipasi dalam menjaga lingkungan yang bersih dan rapi. Bisa kita lihat dibeberapa kota yang katanya adalah kota yang bersih. Kota yang menerapkan kebersihan ligkungan. Dikota itu banyak kita jumpai slogan-slogan kebersihan yang terpampang dimana-mana. Tapi ternyata tidak pada kenyataannya. Upaya-upaya yang dilakukan Pemda setempat bisa dikatakan “gatot”, jika hanya berharap kepada petugas kebersihan saja. Adapun baksos yang banyak dilakukan oleh pelajar, mahasiswa dan organisasi-organisasi, hanya ikut menyemarakkan saja. Saya berpendapat bahwa itu adalah pekerjaan yang sia-sia. Membuang-buang waktu dan tenaga. Tetapi kalau setiap hari mereka lakukan itu baru besar pengaruhnya terhadap kebersihan lingkungan. Namun jka hanya satu hari saja, itu hanya meringankan pekerjaaan petugas kebersihan. Pengaruhnya kecil sekali. Meski begitu, kegiatan ini dilakukan sangat minim. Hanya ada pada hari-hari tertentu saja. Misalnya pada kegiatan Masa Orientasi Sekolah (MOS), Ospek dan lain sebagainya.
Seorang petugas kebersihan berkata saat saya wawancarai, “kalau saya diberi pekerjaan lain, sudah lama saya tinggalkan pekerjaaan ini.” begitu ujar pria berinisial Ar itu. ketika saya tanyakan kenapa, ia menjawab bahwa pekerjaan itu tidak sesuai dengan pendapatannya. Ternyata petugas kebersihan melakukan pekerjaan itu dengan terpaksa. Dan pada saat saya masuk pada inti pertanyaan saya, “jika saudara tidak lagi bekerja sebagai petugas kebersihan, apakah saudara mau menjaga kebersihan sebagai mana biasanya saudara memungut sampah-sampah yang tidak pada tempatnya?”. Jawabnya santai sekali, tapi penuh makna. “bangai that lah long, menyoe long tem”. Kata lelaki berdarah Aceh-Tamiang tersebut. Tapi, meskipun para petugas kebersihan mengeluh dengan banjirnya sampah yang terus menumpuk baik itu yang berada pada tempatnya ataupun yang masih berserakan dijalanan tapi tetap saja belum ada kesadaran untuk ikhlas menjaga kebersihan lingkungan. Bisa kita tebak, jika saja para petugas kebersihan ini tidak digaji, mana mungkin mereka rela berjalan diantara sampah-sampah yang bau, dikerubungi lalat, dan dipenuhi belatung, kemudian mengaisnya dan memasukkannya kedalam keranjang sampah.
Jika saja sampah, berupa apapun itu, baik yang berupa organik maupun anorganik dihargai oleh Pemda setempat, saya yakin kota ini bersih dari sampah. Setiap sampah yang mereka temukan dihargai pemerintah dengan harga yang pantas. Bahkan saya yakin ditempat-tempat sampah tidak ada lagi sampah yang menumpuk. Ditempat-tempat pembuangan sampah tidak lagi dipenuhi sampah, tapi digantikan orang-orang yang memungut sampah untuk dijual. Seperti pada realitanya, sampah-sampah yang berupa plastik seperti botol-botol air mineral, kardus dan besi, dan sebagainya licin di tempat pembuangan sampah. Para pemulung sigap bersaing dengan pemulung lain berebut untuk mendapatkan sampah-sampah berharga tersebut. Bisa kita lihat, para pemulung bersedia menunggu untuk sampah-sampah baru, yang dibuang oleh Dinas Kebersihan ditempat penumpukkan sampah. Tak perduli dengan keadaaan sampah yang bau, dipenuhi belatung, yang menurut kita itu sangat menjijikan. Tapi mereka rela, “demi sesuap nasi” kata salah seorang dari pemulung itu.
Realita yang saya sebutkan diatas, sangat jelas gambarannya. Jadikan setiap sampah itu berharga. Kebersihan kota bisa tercapai jika pemerintah melakukan upaya tersebut. Selanjutnya, setiap sampah yang telah dibeli oleh Pemda setempat dikirim kepusat pembuangan sampah kota. Jika upaya seperti ini dilakukan mungkin sangat berdampak positif untuk kebersihan lingkungan. Karena dimata masyarakat saat ini, uang adalah segalanya. Sedangkan masyarat ekonomi menengah keatas saja rela melakukan apa saja untuk memporoleh rupiah, apalagi masyarakat kelas ekonomi menengah kebawah. Saya yakin semua orang berebut dengan sampah yang saat ini tidak ada harganya sama sekali. Apabila upaya ini dilakukan, tidak hanya berdampak bagus terhadap lingkungan, tetapi secara tidak sengaja Pemda memberikan lapangan pekerjaan kepada masyarakat yang tidak memiliki pekerjaan. Agen-agen sampah sedikit demi sedikit bermunculan. Dan dalam tempo yang singkat banyak tokeh-tokeh sampah yang sukses karena sampah.
Atau jika pemerintah takut rugi karena tidak mendapatkan keuntungan materi dari sampah tersebut, pemerintah bisa mencari solusi lain yang menguntungkan dan berdampak besar terhadap kebersihan kota. Yaitu dengan memberikan sanksi kepada pelaku-pelaku yang tidak bertanggung jawab dengan sampah. Jika pelaku-pelaku yang tidak bertanggung jawab terhadap sampah tersebut kedapatan membuang sampah tidak pada tempatnya dikenakan sanksi hukuman penjara atau membayar denda sekian rupiah misalnya. Namun denda yang dikenakan jangan tanggung-tanggung, sebaiknya dalam jumlah yang besar meskipun hanya untuk sampah sekecil bungkus permen sekalipun. Agar pelaku-pelaku tersebut jera. Tapi upaya ini harus dalam pengawasan yang ketat agar tidak terjadi penggelapan uang-uang dari denda yang dibayar oleh tersangka pembuang sampah sembarangan. Sehingga uang dari denda tersebut bersih masuk ke khas daerah.
Dari solusi-solusi yang saya sampaikan diatas mungkin banyak terdapat kekurangan-kekurangan, pembaca yang budiman bisa berkomentar dalam hati saja. Tapi alangkah lucunya, mengapa harus melakukan hal seperti itu jika masih ada hal yang sangat alternative yang bisa dilakukan. Yaitu kesadaran untuk peduli lingkungan. Ikhlas, memungut sampah yang tidak pada tempatnya. Bersama-sama melakukan bakti sosial minimal seminggu sekali.  Tapi untuk menyadadarkan seseorang itu sangat susah untuk dilakukan. Apalagi orang yang memiliki otak sperti sampah. Perasaannya busuk layaknya sampah yang yang busuk. Hatinya kotor dihinggapi bintik-bintik kemalasan, ketakperdulian, dan keacuhannya terhadap lingkungan. Layaknya lalat yang menghinggapi sampah-sampah busuk yang kemudian melahirkan belatung untuk menambah kebusukannya.
Yang perlu ditanyakan saat ini adalah, apa yang menyebabkan sampah-sampah itu berserakan dimana-mana? Apakah fasilitas tempat pembuangan sampah yang disediakan dinas kebersihan itu kurang? Atau kita yang tidak punya pikiran sehingga membuang sampah sembarangan. Pemda setempat mengeluarkan banyak biaya untuk menanggulangi sampah-sampah itu, truk-truk sampah diberikan kepada dinas kebersihan, program-program pemberian tong sampah organik dan anorganik secara Cuma-Cuma, lain lagi untuk gaji pegawai kebersihannya. Tapi dari tahun ketahun hasilnya tetap NIHIL. Tidak ada alasan yang logis untuk menyangkal mengapa kita membuang sampah tidak pada tempatnya. Kecuali jika Pemda setempat mengeluarkan UU yang menyatakan membuang sampah pada tempatnya dikenakan biaya.
Jika Pemda setempat tidak bertindak lebih tegas, maka beberapa tahun kedepan kita bisa menjadi kota pengekspor sampah terbesar didunia. Mungkin ini hal yang membanggakan untuk kita sebagai  makhluk sampah.
Maka mulailah dari hal yang paling kecil untuk menjaga lingkungan kita dari sampah. Tempat sudah disediakan mengapa kita masih membuangnya sesuka hati kita. Semua orang tahu seberapa besar dampaknya jika lingkungan kita tercemari dengan sampah, bahkan kita sudah merasakan saat ini. tapi tetap saja tidak ada kesadaran untuk menjaga kebersihan. Untuk itu marilah bersama-sama, memulai dari sekarang, membuang sampah pada tempatnya.